Belajar Membaca Informasi

  • Whatsapp
belajar membaca informasi
Ilustrasi belajar membaca informasi. (tirto.id)
banner 468x60

Oleh: Dr. Bibit Suhatmady, M.Pd.

Di era disrupsi informasi seperti sekarang ini, kita sering dihadapkan dengan kondisi dimana kita dibombardir oleh ‘tsunami informasi’ yang masuk melalui gawai-gawai dan menyusup melalui akun-akun media sosial yang kita miliki.

Banyaknya informasi yang kita terima setiap harinya membuat kita mungkin tidak lagi mampu mengidentifikasi, memilah, dan memutuskan informasi mana yang baik dan mana yang merupakan berita bohong (hoax) atau dis/mis-informasi.

Kondisi seperti ini membuat kita menjadi individu yang rentan dan berpotensi menjadi ‘korban’ dan atau ‘agen’ hasutan, fitnah, penipuan, adu domba, dan berbagai macam label lainnya yang memiliki relasi makna serupa.

Menyikapi kondisi seperti ini ada baiknya jika kita mencoba menaikkan level kewaspadaan kita terhadap informasi-informasi yang bersifat berita bohong (hoax) atau dis/mis-informasi.

Baca Juga: KPK Bantah Tudingan ICW Perihal Informasi Hoaks Hasil TWK

Kewaspadaan kita terhadap apa yang kita baca dan pembuatan keputusan yang kita lakukan. untuk meneruskan atau tidak meneruskan apa yang baru saja kita baca bisa jadi menjadi faktor penentu yang membebaskan kita dari status sebagai ‘korban’ ataupun ‘agen’ tadi.

Untuk itu, kita mungkin sejenak perlu melihat pada skenario wawancara berikut ini. Dan mulai berpikir apakah kita ada posisi yang mewawancarai (interviewer) atau yang diwawancarai (interviewer).

Baca Juga: Jasa Marga Pasang Media VMS Tingkatkan Layanan Informasi

Berikut adalah transkrip artificial wawancara antara ‘Pewawancara’ (PW) dengan seseorang yang ‘Diwawancarai’ (DW).

PW         : Selamat siang, bolehkan saya mewawancarai saudara?
DW         : Oh, wawancara tentang apa ya?

PW         : Ini, wawancara tentang kebiasaan membaca.
DW         : Oh, silahkan saja.

PW         : Baik, mohon izin saya mulai ya.
DW         : Ya, silahkan

PW         : Apakah saudara bisa membaca?
DW:       : Ya bisalah, masak saya kelihatan seperti orang yang gak bisa membaca?”

PW         : Hehehe… maaf, saya lanjutkan ya pertanyaannya, kalau boleh tahu, saudara biasanya membaca apa?”

DW         : Saya sih suka baca apa saja, dari buku sampai berita yang disampaikan lewat facebook atau whatapp. Ya yang seperti itulah. Semua informasi yang masuk ya saya baca. Kan sekarang mudah ya dapat informasi terutama dari media sosial.

Baca Juga: Wabup Malang: Penting Bagi Wartawan Beretika Dalam Menyampaikan Informasi

PW         : Wah, iya ya. Sekarang ini informasi apa saja bisa kita baca melalui media sosial, tidak terbendung mestinya ya hehehe.”

DW         : Ya saking banyaknya informasi yang masuk, misalnya lewat Grup WA, saya sampai bingung mana informasi yang benar dan yang salah.

PW         :Wah, kalau sudah begitu bagaimana Saudara menyikapinya?
DW         :Ya ay abaca saja, mau benar atau salah yang penting saya sudah baca dan tidak  ketinggalan informasi.”

PW         : Misalnya Saudara mendapat satu berita yang sudah berkali-kali diteruskan di Grup WA Saudara, pernahkan Saudara mencoba mencari tahu sumber asli beritanya atau penulisnya
DW         : Nggak pernah rasanya.

PW         :Pernah penasaran gak, kira-kira untuk pembaca seperti siapa berita seperti itu dibuat?
DW         :Enggak tuh.

PW         : Pernah mencoba memahami lebih dalam tidak, berita yang Saudara baca itu berisikan pesan yang seperti apa? Apakah opini? Apakah propaganda? Ataukan Iklan semata?
DW         : “Enggak sih. saya tahunya ya ini berita saja. apapun itu, itu informasi bagi saya.

Baca Juga: Sidoarjo Punya Aplikasi INDAGO, Informasi Ekspor-Import dan Perdagangan Update Tiap Hari

PW         : Oh, gitu ya. Saya lanjutkan ya pertanyaannya.
DW         : Silakan!

PW         : Pada saat Saudara menerima atau membaca sebuah berita atau informasi, misalnya melalui pesan berantai di WA, pernahkah Saudara menanyakan kepada diri Saudara sendiri tentang bagaimana berita ini dibuat? Siapa yang menjadi target dari informasi ini? Dan bagaimana Saudara pertama kali mendapatkannya?
DW         : Rasanya sih nggak ya. Saya nggak pernah penasaran tuh tentang bagaimana orang membuat beritanya, untuk siapa dibuatnya, dan saya sering enggak ingat kapan saya dapat beritanya. Kadang-kadang, atau sering malah, saya dapat berita atau informasi yang sama berulang-ulang.

Baca Juga: Euphoria BTS Meal: Kreativitas Marketing di Tengah Pandemi

PW         : Oh, paling tidak mungkin adakah sedikit rasa penasaran dalam hati Saudara terkait dengan sumber informasi yang Saudara terima. Adakah rujukan atau referensi yang jelas dan kapan informasi ini dipublikasikan? Jangan-jangan informasi yang Saudara terima sudah kadaluarsa.

DW         : Itulah yang sering tidak saya lakukan. Rasanya kok malas ya repot-repot menelusuri sumber informasinya. Seringnya saya dapat informasi, saya baca. Kalau saya pikir menurut saya infonya bagus ya saya percaya saja. Bahkan dengan senang hati saya teruskan ke teman-teman saya. Mau kadaluarsa ataupun tidak, kalau saya pikir bagus ya saya terima dan saya teruskan.

Baca Juga: Stereotip: Pelajaran dari Euro 2020

PW         : Oh, oke. Baiklah, nah sekarang pertanyaan terakhir dari saya. Biasanya kan kalau kita menerima terusan berita atau informasi di media sosial kita, sering kita mendapati berita yang disertai gambar dan atau video. Pertanyaannya adalah: Tahukah Saudara jika gambar atau video yang dibagikan tersebut adalah otentik? Atau apakah Saudara mengetahui jika judul, gambar, video dan teksnya memang saling terkait atau berhubungan satu dengan yang lainnya? Jangan-jangan antara judul, gambar, video dan teksnya ternyata tidak nyambung.

DW         : Saya sih kadang-kadang, atau mungkin lebih sering kali cuma melihat judul dan gambar atau videonya saja. teksnya sering saya abaikan, apalagi kalau teksnya sangat panjang. Malas bacanya kan, cukup lihat judul sama gambarnya ya. Saya sering bisa ngasih komentar panjang lebar hanya dari baca judul dan melihat gambarnya. Kenapa juga harus repot-repot baca teks yang panjang.

PW         : Oh, seperti itu ya. Baiklah, sepertinya cukup wawancara kita. Terima kasih ya, Saudara sudah bersedia saya wawancarai.
DW         : Oke, sama-sama.

Baca Juga: Konvensi Capres Ala Nasdem Punya Resiko

Akhirnya, setelah kita membaca transkrip wawancara di atas, kita dapat menggunakan transkrip tersebut sebagai tolak ukur pada kebiasaan kita menyikapi setiap informasi yang masuk dalam kehidupan kita sehari-hari.

Jika kita, dalam basis keseharian, lebih cenderung berlaku seperti ‘PW’ maka itu mengindikasikan bahwa kita memiliki kewaspadaan yang tinggi terhadap informasi yang kita dapatkan.

Baca Juga: Simfoni Cinta Ho Eng Dji

Sebaliknya, jika kita pada kenyataannya sehari-hari, lebih merefleksikan sikap ‘DW’, itu artinya kita masuk pada katagori ‘korban’ dari atau ‘agen’ disrupsi informasi.

*Penulis Belajar Membaca Informasi adalah dosen Universitas Mulawarman  dan Ketua 1 Perkumpulan Cendekiawan Bahasa dan Sastra (Cebastra).