Waduh! Beredar Isu Penculikan-Pelacuran Menarget Turis China di Thailand

Sebelum pandemi, Thailand adalah tujuan wisata luar negeri paling populer bagi warga China. 11 juta orang mengunjunginya pada tahun 2019.

Waduh! Beredar Isu Penculikan-Pelacuran Menarget Turis China di Thailand
Ilustrasi Bendera China

NUSADAILY.COM – JAKARTA - Rumor mengerikan di media sosial China telah membuat pemerintah Thailand khawatir. Belakangan, muncul rumor bahwa turis asal China diculik dan diperdagangkan di Bangkok.

Dilansir Sixth Tone, Jumat (10/11/2023), isu itu menyebar dengan cepat di media sosial China sejak awal tahun ini. Pihak berwenang Thailand berusaha keras untuk mengatasi dampaknya, yang amat terasa kepada pariwisata. Turis-turis China enggan pelesiran ke negeri gajah putih, padahal wisatawan dari negara lain sudah berdatangan.

Padahal, di saat itu China sudah mengumumkan kebijakan "zero-Covid" pada akhir 2022. Thailand merespons dengan berharap turis China akan kembali dan membantu meningkatkan sektor pariwisata yang lesu.

Sebelum pandemi, Thailand adalah tujuan wisata luar negeri paling populer bagi warga China. 11 juta orang mengunjunginya pada tahun 2019.

Rumor aneh itu menyebut ada sebuah bar terkenal di Bangkok digunakan untuk memikat turis China. Tujuannya penculikan dan prostitusi.

Pemerintah Thailand tak tinggal diam. Khawatir pemulihannya terancam, para pejabat mengambil beberapa langkah untuk meyakinkan orang-orang di China bahwa negaranya aman untuk dikunjungi.

Dari Sebuah Film

Isu mengerikan itu berawal pada bulan Maret. Saat itu, seorang blogger China mulai menyebarkan rumor tentang ancaman baru terhadap wisatawan China di Thailand melalui akunnya Xin Yi Lin Lin di platform video Douyin dan Bilibili.

Dalam video tersebut, blogger itu mengklaim bahwa geng-geng kriminal telah memindahkan markas mereka dari Myanmar dan Kamboja ke Thailand. Mereka bergabung dengan pasukan Barat yang anti-China untuk menargetkan orang-orang China.

Konspirasi itu, kata pria tersebut, berpusat di sekitar bar 76 Garage di Bangkok, sebuah tujuan populer bagi wisatawan China. Destinasi itu terkenal karena menggunakan model-model pria yang menarik untuk melayani dan menghibur para pelanggan.

Menurut pria itu, geng-geng tersebut menggunakan pria-pria Thailand yang seksi ini untuk memikat para wanita China ke dalam prostitusi. Kemudian, mereka akan menggunakan para wanita tersebut untuk memikat para pria China ke Thailand, yang nantinya akan diculik dan dibunuh, hingga organ tubuh mereka diambil.

Video tersebut menjadi viral di media sosial China, hingga akhirnya dihapus dari platform tersebut beberapa hari kemudian. Namun, konten dari video yang dibagikan oleh pengguna lain tetap ada di internet, dan terus beredar secara luas.

Meski tidak ada bukti yang mendukung teori ini, semakin banyak blogger yang memperkuat rumor tersebut. Mereka menambahkan rumor baru.

Banyak dari mereka menunjuk pada pemberitahuan yang sekarang sudah dihapus yang dikeluarkan oleh pemerintah lokal China untuk mendukung teori mereka.

Pada tanggal 7 Februari, sebuah pusat anti-penipuan lokal di provinsi Hubei, China, mengeluarkan pengumuman yang meminta penduduk untuk tidak melakukan perjalanan ke Asia Tenggara kecuali jika diperlukan.

Pemberitahuan tersebut menyita perhatian dalam diskusi online yang besar. Itu menyebabkan pemerintah setempat segera menghapusnya dan mengeluarkan permintaan maaf.

Para pejabat kemudian mengklarifikasi bahwa pemberitahuan tersebut hanya ditujukan kepada penduduk lokal yang dicurigai terlibat dalam kegiatan kriminal di luar negeri.

Kelompok penipuan telekomunikasi telah menjadi masalah nyata dalam beberapa tahun terakhir, dengan beberapa geng China yang mendirikan operasi di Kamboja.

Namun, penjelasan tersebut tidak mengakhiri rumor yang beredar. Kekhawatiran tentang Thailand kembali berkobar ketika beberapa influencer China yang bepergian di negara itu berhenti memposting selama beberapa hari pada pertengahan Maret, menyebabkan spekulasi liar bahwa mereka mungkin telah hilang.

Keempat wanita tersebut kemudian memposting pembaruan di akun mereka. Itu mengklarifikasi mereka telah tiba kembali di China dengan selamat, demikian dilaporkan media lokal pada tanggal 26 Maret.

Pihak berwenang Thailand menanggapi rumor tersebut secara langsung pada tanggal 21 Maret, dengan juru bicara pemerintah Anucha Burapachaisiri membahas masalah ini dalam sebuah konferensi pers.

Dia menyebut informasi yang menyebar di media sosial China sebagai "berita palsu", dan mengatakan bahwa perdana menteri telah memerintahkan Kementerian Pariwisata dan Olahraga untuk mengklarifikasinya.

Dua hari kemudian, Kedutaan Besar Thailand di China mengeluarkan pemberitahuan di platform mikroblog China, Weibo, yang meyakinkan para turis China bahwa Thailand adalah tempat yang aman untuk dikunjungi.

Tak lama kemudian, Global Times, sebuah situs media milik pemerintah China, menerbitkan sebuah editorial yang mengkritik mereka yang menyebarkan rumor tentang Thailand karena "mengarang 'karangan kecil' untuk mendapatkan penonton.

"China sendiri adalah korban dari fitnah, demonisasi, dan manipulasi politik media Barat. Netizen China harus secara sadar menolak perilaku seperti itu dan tidak boleh memaksakannya pada orang lain," kata editorial tersebut.

Terlepas dari sanggahan resmi itu, tampaknya beberapa wisatawan China masih merasa waswas dengan perjalanan mereka yang akan datang ke Thailand.(han)