Pesantrean Rakyat, Pesantren Post-Modernisme

Di Kabupaten Malang keberadaannya, sekitar 15 km dari pusat pemerintahan di kota Kepanjen. Sumberpucung menjadi rumah lahirnya sebuah pesantren 'post-modernism' yang sepenuhnya mengabdikan diri untuk kepentingan bersama, sekarang dan bahkan yang akan datang. RT. 007 adalah basis terbentuknya pesantren multidimensi, multifungsi, multivisi yang tidak hanya terbatas pada keilmuan agama, namun lebih jauh lagi mempelajari dan mengkaji berbagai macam keilmuan dan yang terpenting bermanfaat.

Pesantrean Rakyat, Pesantren Post-Modernisme
Rizki Anis Sholikhah

Oleh : Rizki Anis Sholikhah

 

Di Kabupaten Malang keberadaannya, sekitar 15 km dari pusat pemerintahan di kota Kepanjen. Sumberpucung menjadi rumah lahirnya sebuah pesantren 'post-modernism' yang sepenuhnya mengabdikan diri untuk kepentingan bersama, sekarang dan bahkan yang akan datang. RT. 007 adalah basis terbentuknya pesantren multidimensi, multifungsi, multivisi yang tidak hanya terbatas pada keilmuan agama, namun lebih jauh lagi mempelajari dan mengkaji berbagai macam keilmuan dan yang terpenting bermanfaat.

Pesantren Rakyat Al-Amin lahir karena kegelisahan akan degradasi moral masyarakat khususnya yang berada di Sumberpucung. Maka hadirnya Pesantren Rakyat diharapkan bisa mengajeni masyarakat agar menjadi masyarakat yang bisa memasyarakatkan masyarakat yang lain.

Gedung yang megah bukan menjadi cita-cita pesantren, melainkan menciptakan, menginovasi, mengkreasi, dan menggagas kegiatan untuk kebutuhan masyarakat luas dari segala kalangan baik yang kaya, miskin, yang sudah tua, yang muda dan bahkan anak-anak adalah yang menjadi ciri khas Pesantren Rakyat. 'Kurikulum dan metodenya yang ala rakyat' sebuah ungkapan yang dapat menggambarkan bagaimana Pesantren Rakyat itu. Disana lah adalah tempat dan pusat belajar masyarakat.

Masyarakat hari ini telah memiliki gaya hidup yang materialistis dan kerap kali melupakan nilai-nilai transendental atau religi dan untuk itu diperlukan sebuah cara atau metode untuk menyeimbangkan antara yang materi dengan yang transendental. Oleh karena itu Pesantren Rakyat hadir untuk memfasilitasi, memberikan ruang dan tempat, dan yang terpenting adalah mengintegrasikan antara yang sains dengan agama. Menurut ilmuwan fisika pencetus teori relativitas umum, Albert Einstein adalah 'Sains tanpa agama lumpuh, Agama tanpa sains buta'.

Untuk mewujudkan cita-cita sang penggagas yaitu Kyai Abdullag SAM dalam melakukan revolusi tanpa dana dan tanpa darah, Kyai Rakyat menawarkan pendidikan gratis kepada masyarakat, memiliki delapan bidang usaha mulai dari produksi batako, distributor air mineral, minyak angin, jamu, tahu, pande besi, budidaya lele, ternak ayam, BMT atau mini bank syariah dan juga bisnis online minyak dan konveksi dengan pengusaha Singapura. Lebih lagi, untuk meningkatkan kualitas para santri, Pesantren Marxis ini memberikan fasilitas internet gratis (Wi-Fi), alat musik lengkap tradisional dan modern, perpusatakaan digital, perpustakaan dengan koleksi 3.500 buku, laboratorium alam, media belajar budidaya ikan, kambing, sayur mayur dll. Oleh karena itu kesejahteraan para santri akan tercapai dan kesenjangan antar santri akan tereduksi sehingga proses pembelajaran akan berjalan dengan baik.

Pesantren Rakyat sering juga dikatakan sebagai pesantren tradisional karena caranya yang salaf, memiliki kitab kuning dan berbagai alat musik tradisional seperti gamelan, gong, kenong, saron. Namun jika demikian, nyatanya pesantren juga memfasilitasi santrinya dengan buku-buku filsafat, internet, komputer dan juga alat-alat musik modern. Mungkin bukan pesantren tradisional. Mungkin juga bukan pesantren modern. Mungkin lebih tepatnya adalah Pesantren Post-Modernisme.

 

Rizki Anis Sholikhah mahasiswa program pascasarjana IAI Al Qolam Malang