Kopiah Putih

Oleh: Fauzi Rohmah, S.Pd.

Kopiah Putih

Di bawah langit yang cerah, ia kayuh sepeda ontel bututnya. Sepeda ontel yang telah menemani di sepanjang perjalanan hidupnya. Jalanan yang ia lalui bukanlah gampang karena naik-turun gunung. Di usianya yang menuju senja, menaklukkan jalanan itu memerlukan tenaga yang ekstra. Sesekali, ia berteduh di bawah pepohonan yang memagari sepanjang jalan yang dilalui. Lalu, ia kayuh kembali roda-roda kehidupan itu. Terik mentari telah menghanguskan kulitnya, tetapi tidak menyurutkan semangatnya yang menyamudera.

 

Kai Wahyu, lelaki tinggi jangkung itu selalu semangat dalam menjajakan jualannya. Beberapa macam sayuran, pisang, dan kerupuk menggantung di sepedanya. Tidak ada hari libur baginya agar dapur tetap mengepul.

 

“Hasyim, Hisyam”, panggil Kai Wahyu.

 

Kedua cucunya itu telah kehilangan ibunya setelah tiga hari melahirkan. Minarti meninggalkan kedua putranya karena pendarahan hebat sedangkan sang ayah, pergi merantau ke Samarinda sejak si kembar berusia lima tahun. Sampai kini tiada berkabar. Hanya sesekali mengirimkan uang untuk kebutuhan Hasyim dan Hisyam yang tinggal bersama Kai Wahyu dan Nini Ifit.

 

“Iya, Kai”, sahut Hasyim.

 

“Ambilkan Kai minum, Syim”, ucap Kai Wahyu sambil duduk di teras rumah.

“Hisyam, kamu kenapa? Sakit?” tanya Kai Wahyu saat melihat raut wajah Hisyam nampak kuyu.

 

Hisyam hanya menggelengkan kepala. Kepalanya menunduk tidak berani menatap balik mata Kai Wahyu.

 

“Ini minumnya, Kai.”

“Hisyam, Hasyim, sini duduk di samping Kai. Syim, ada apa dengan Hisyam, kok wajahnya murung begitu? Kamu juga nampak ada masalah!”

 

Keduanya hanya menunduk dan membisu.

“Ya sudah kalau sekarang belum mau cerita ke Kai. Sekarang kalian siap-siap ke masjid untuk belajar mengaji.”

 

Keduanya pun menggeleng bersamaan dan bergeming.

 

“Lho, kenapa? Kalian tidak mau berangkat mengaji lagi? Kemarin kalian juga tidak mengaji. Sebenarnya ada apa dengan kalian?” selidik Kai Wahyu.

 

Hisyam dan Hasyim saling pandang dan kembali menundukkan kepala.

“Apa ada masalah di tempat ngaji?” tanya Kai Wahyu.

 

Keduanya masih saja membisu.

“Kalau kalian tidak mau cerita, bagaimana Kai bisa membantu,” Kai merasa kebingungan dengan sikap kedua cucunya.

 

“Hm, tidak ada apa-apa kok, Kai.” sahut Hisyam.

“Kami mau siap-siap ke masjid dulu ya, Kai,” ucap Hasyim.

“Syim, benar kita mau ke masjid? Kamu mau diejek lagi seperti kemarin?” bisik Hisyam ragu.

 

“Ya, daripada membuat hati Kai tidak enak dan sedih.”

 

***

 

“Eh, si kopiah buluk!” hardik Rizal ketika Hasyim dan Hisyam masuk ke masjid.

“Ih, sombong kamu, ya. Aku panggil tidak nyahut.” Rizal tampak kesal karena tidak digubris.

 

“Hei, seharusnya kalian berhenti saja mengaji di sini. Kalian nggak lihat, baju dan kopiah kalian itu tidak layak untuk masuk ke masjid yang megah ini.” Rizal lagi-lagi melemparkan ejekan ke kedua bocah kembar itu.

 

Hasyim dan Hisyam mengambil tempat di pojokan menunggu giliran mengaji. Mereka tidak menggubris Rizal sama sekali. Sikap keduanya membuat Rizal makin menjadi.

 

“Awas aja kalian nanti!” ancam Rizal sembari mendekati Ustaz Iqbal.

 

Rizallah alasan keduanya tidak ingin berangkat ke masjid untuk mengaji. Beberapa hari belakangan ini Rizal sering melemparkan kata-kata ejekan. Keduanya tampak sedih dan sakit hati ketika mendengar ejekan itu.

 

Baju koko yang dipakai Hasyim dan Hisyam memang tidak lagi layak untuk dipakai. Warnanya kusam, di beberapa tempat sudah sobek dan ditambal kain lain oleh nininya. Baju koko itu dibelikan kainya di lapak yang menjual baju bekas. Hampir satu tahun dipakai membuat warna baju pun memudar. Tidak hanya itu, kopiah putih keduanya yang diberi oleh tetangga pun mulai menguning dan kekecilan. Keadaan keduanya ini lah dijadikan bahan ejekan oleh Rizal.

 

“Syim, pulang saja yuk!” Hisyam merasa cemas mendengar ancaman yang dilemparkan Rizal.

 

“Kalau kita pulang pasti Rizal merasa di atas awan. Dia merasa senang karena telah membuat kita menderita. Kita tetap mengaji.” ucap Hasyim.

 

“Tapi, aku sudah tidak semangat lagi”, sahut Hisyam.

“Apa kata kai nanti kalau tahu kita membolos mengaji lagi. Pasti kai kecewa.”

 

***

 

Kai Wahyu.” panggil Rahman pagi itu.

“Ada apa, Man?”

Kai, apa Hasyim dan Hisyam sudah lapor ke Kai?”

“Mengenai apa?” Kai  Wahyu mengernyitkan dahinya.

“Rizal mengejek mereka, Kai. Baju koko dan kopiah Hasyim dan Hisyam jelek katanya. Tidak pantas ikut mengaji di masjid.”

“Astagfirullah, benarkah itu, Man?”

Rahman mengangguk.

“Rahman pergi dulu, Kai. Rahman cuma mau menyampaikan itu. Makanya dua kali Hasyim dan Hisyam membolos mengaji.”

“Baik, terima kasih ya, Man atas informasinya.”

Hati kai Wahyu terasa perih. Kedua cucunya dihina sedemikian rupa. Terlebih lagi, keadaan kai yang tidak mampu membelikan baju koko dan kopiah baru. Matanya pun berkaca-kaca mengingat nasib mereka.

“Pantas mereka terlihat murung dan tidak mau mengaji kemarin,” batin Kai Wahyu.

Kai Wahyu pun melanjutkan rutinitasnya. Ia menyiapkan barang dagangan di sepeda ontelnya. Matanya yang berkaca-kaca pun mulai merimis membayangkan kedua cucunya dihina.

“Aku harus lebih semangat lagi bekerja agar dapat membelikan baju koko dan kopiah untuk mereka”, batinnya.

“Selamat pagi, Kai Wahyu,” suara Pak Anas mengagetkannya.

“Pagi, Pak. Ada apa ya Bapak datang ke sini?”

“Begini, Kai, kebun karet saya kan rumputnya mulai tinggi. Apa Kai ada waktu untuk membantu saya membersihkan kebun?” ucap Pak Anas.

“Bisa, Pak Anas. Sepulang berjualan nanti saya langsung ke rumah Bapak.” sahut Kai Wahyu tanpa pikir panjang. Wajah kedua cucunya melintas di benaknya.

“Saya tunggu, ya Kai.”

Kai Wahyu mengangguk sambil tersenyum ramah.

 

***

 

Hasyim dan Hisyam bersiap-siap pergi ke masjid untuk mengaji. Seperti biasa, wajah mereka masih saja murung. Bayangan wajah Rizal yang selalu menghinanya membuat semangatnya semakin runtuh. Mereka mencoba menyembunyikan semuanya di depan kai. Keduanya belum tahu jika Rahman sudah menceritakan semua kejadian di masjid kepada kai.

“Hasyim, Hisyam ayo ke sini,” suara Kai Wahyu membuyarkan kebisuan mereka dan bergegas ke teras.

“Iya, Kai. Ada apa Kai memanggil kami?” ucap Hasyim.

“Ini untuk kalian,” ucap Kai sembari menyerahkan kantung plastik kepada Hasyim.

“Ayo dibuka!” sambungnya lagi.

Hasyim pun membukanya dan tersenyum pada Hisyam. Matanya berbinar melihat isi kantungan itu.

“Apa itu, Syim?” Hisyam penasaran.

Lantas Hasyim pun mengeluarkan dua pasang baju koko dan dua kopiah putih.

“Alhamdulillah,” seru Hisyam sambil memeluk baju koko dan kopiah putih pemberian kai.

“Pasti uang Kai habis untuk membeli ini?” ucap Hasyim dengan wajah sedih.

“Alhamdulillah, Allah memberi rezeki lebih untuk kita. Beberapa hari Kai bekerja membantu Pak Anas membersihkan rumput di kebun karetnya. Pak Anas memberi upah lebih dari biasanya.” ucap Kai Wahyu dengan senyum hangatnya.

Kai tidak mau lagi melihat wajah kalian nampak murung dan sedih. Maafkan Kai baru bisa membelikan sekarang. Meskipun baju koko itu tidak baru, masih layak dipakai. Kai mau lihat kalian lebih semangat lagi untuk mengaji,” sambungnya.

“Baik, Kai.” sahutnya serempak.

“Ini dicoba dulu kopiah putihnya.” Kai Wahyu memasangkan kopiah itu ke kepala kedua cucunya bergantian.

“Semoga hati kalian putih, bersih, dan suci dalam mendalami ilmu agama. Seputih dan sebersih kopiah ini. Kalian harus tahu, kopiah ini akan menjadi saksi di hari akhir nanti.” ucap Kai Wahyu.

“Terima kasih, Kai.” ucap Hisyam sambil memeluk tubuh yang mulai renta, diikuti oleh Hasyim. Mereka pun mencerna kata-kata yang barusan diucapkan kai.

“Belajar alquran yang rajin, ya. Ibumu akan bahagia di sana. Kai dan nini pun akan bahagia, apalagi jika kalian bisa menghapal alquran.”

Kedua saudara kembar itu mengangguk pelan. Mereka pun berpamitan untuk berangkat ke masjid. Tatapan mata sendu Kai Wahyu membuntuti punggung mereka yang hilang di telan tanaman singkong. Bibirnya menyunggingkan senyuman yang hangat. Sehangat mentari di siang itu yang menyapu kulitnya yang mulai mengendur. Di sisa usianya, ia ingin memberikan hal yang terbaik untuk kedua cucunya.

“Besok jika aku telah berkalang tanah, setidaknya mereka dapat mengirimiku surah-surah alquran,” batin Kai Wahyu.

 

***

           

Pagatan, 27 Desember 2022

*Kai    : Kakek

*Nini   : Nenek

 

 

Fauzi Rohmah, S.Pd. adalah guru Bahasa Indonesia SMPN 1 Kusan Hilir Kapubaten Tanah Bumbu Kalimantan Selatan. Tulisan ini disunting oleh Dr. Indayani, M.Pd., dosen PBI, FISH, Universitas PGRI Adi Buana Surabaya dan pengurus Perkumpulan Ilmuwan Sosial Humaniora Indonesia (PISHI).