Butuh Bantuan, Derita Balita di Probolinggo, Menderita Lumpuh Otak dan Epilepsi

  • Whatsapp
Caption: Muhammad Bakri, balita usia 2,5 tahun di Kota Probolinggo menderita lumpuh otak (celebral palsy) dan epilepsi (Istimewa).
banner 468x60

NUSADAILY.COM-PROBOLINGGO – Malang sungguh nasib balita di Kota Probolinggo, Jawa Timur ini. Betapa tidak, di usia yang masih 2,5 tahun, mengalami lumpuh otak (celebral palsy) dan epilepsi.

Ialah Muhammad Bakri yang tinggal di Jl. Mawar RT.04/RW.01 Kelurahan Triwung Lor, Kecamatan Kademangan, Kota Probolinggo. Balita laki-laki ini, merupakan putra kedua dari pasangan Putra kedua pasangan suami-istri Syamsul Arifin (35) dan Khoiriyah (25) .

Baca Juga

Saat didatangi awak media pada Selasa, 26 Januari 2020 di rumahnya, Bakri hanya bisa berbaring di ranjang atau bersandar pada pangkuan ibunya. Sesekali, ia menangis menunjukkan sakitnya.

Sejak usia 6 bulan, Bakri mulai mengalami sakit panas dan kejang. Bahkan, ia juga sering masuk-keluar rumah sakit.

Hasil diagnosa, Bakri divonis menderita penyakit celebral palsy atau lumpuh otak yang mengganggu perkembangan otaknya, tak hanya itu Bakri juga mengidap epilepsi.

Ayah Bakri bekerja di bengkel sedangkan ibunya berhenti bekerja di pabrik garmen untuk bisa merawat anak semata wayangnya itu, anak pertama pasutri itu telah meninggal saat lahir prematur.

Menurut ibu Bakri yakni Khoiriyah, pengobatan Bakri sejauh ini hanya mengandalkan fisioterapi di Puskesmas Ketapang, Kecamatan Kadwmangan terapi itu dilakukan tiga kali dalam satu pekan.

“Kalau dulu tiap kali kontrol terapi seminggu tiga kali. Namun sudah satu tahunan tidak terapi lagi,” ucap Khoiriyah.

Tapi, karena keterbatasan biaya itulah , kedua orang tua Bakri kini hanya msngandalkan pengobatan alternatif. 

Sementara itu, bantuan dari pemerintah setempat, dikatakan Khoiriyah hanya datang dari dinas sosial (Dinsos) berupa diapers (popok modern-red) dan susu formula.

“Pernah dapat bantuan dari dinsos, dikasih pampers 2 dan susu 4 kotak. Itu cuma satu kali,” tuturnya.

Kini Khoiriyah hanya bisa pasrah dan sabar dalam merawat anaknya. Ia berharap ada bantuan pengobatan demi kesembuhan anaknya. (ras/aka)