Di Taman Inilah Ken Arok Melihat Pangkal Paha Mulus Ken Dedes

  • Whatsapp
Foto: Petirtaan Watugede atau dikenal dengan Petirtaan Kendedes, tempat mandi puteri raja jaman dahulu. (Indonesiakaya.com)
banner 468x60

NUSADAILY.COM-MALANG-Kisah direbutnya Ken Dedes dari Tunggul Ametung, pemimpin Tumapel, oleh Ken Arok menjadi awal berdirinya Kerajaan Singhasari. Kisah yang kemudian melahirkan dendam antara anak-anak Tunggung Ametung dan anak Ken Arok menjadi sejarah abadi kisah berdirinya kerjaan tersebut.

Petirtaan Watu Gede di perbatasan Desa Pagentan dan Watu Gede, Kecamatan Singosari menjadi saksi bisu awal cinta Ken Arok kepada Ken Dedes.

Baca Juga

Agus Irianto, penjaga pemandian Watu Gede menceritakan, di sinilah dulu Ken Arok melihat yoni (kemaluan) Ken Dedes yang memancarkan cahaya.

Menurutnya, dalam kitab Pararaton disebutkan pada masa Tumapel dipimpin Tunggul Ametung, pemandian itu dinamakan sebagai Taman Boboji. Namun, kemudian menjadi Petirtaan Watu Gede.

Diceritakan oleh Agus, petirtaan tersebut dulunya merupakan keputren yang juga menjadi tempat mandi atau ruwatan Putri Ken Dedes pada masa kejayaan Tumapel sekitar tahun 1200 M. Dia menerangkan, ketika Ken Dedes melakukan siraman di taman yang dulu bernama Taman Boboji tersebut, Ken Arok yang masih menjadi prajurit Tumapel sempat melihat cahaya biru di antara dua kaki jenjang Ken Dedes yang mulus. Seketika itu sebagai lelaki normal, Ken Arok galau dan semakin kacau pikirannya gara-gara melihat kemaluan Ken Dedes. Maka Ambisi Ken Arok untuk memiliki Ken Dedes terus bergemuruh.

Setelah peristiwa itu, kemudian Ken Arok selalu terbanyang bayang oleh organ tubuh rahasia Ken Dedes tersebut. Maka diapun menanyakan peristiwa tersebut kepada gurunya Mpu Lohgawe. Diterangkan oleh Lohgawe, bahwa seorang putri yang mengeluarkan cahaya biru di antara kedua kakinya adalah tanda-tanda dia adalah seorang putra Nareswari. Yang artinya putri tersebut kelak akan melahirkan keturunan raja-raja besar yang akan memimpin tanah Jawa Dwipa dan Nusantara.

Hal tersebut juga tertulis dalam lontar Sardhi sastra, yang ditulis oleh Empu Setya Widhi yang berbunyi; puniki matirte tanpotoro, hum wong gumuruh rasaning wateg, hyang ikang angukuhana ring tanah Jawa. Artinya, di sini adalah air suci yang memiliki kekuatan luar biasa. Siapa saja yang memohon dan menyatu dengan sifat air atu alam di sini, maka Sang Dzat Tunggal akan memberikan seluruh kekuatan dan tanah Jawa.

Maka ada kemungkinan nama Boboji itu adalah tempat untuk memuji atau berdoa kepada Yang Maha Kuasa. Sehingga situs petirtan itu selain untuk ruwatan atau keputren juga sebagai tempat untuk pemujaan. Karena jika dilihat dari bentuk bangunannya yang berasal dari batu-bata itu disebut moji, atau bangunan beji yang artinya bangunan yang disucikan. Salah satu bentuknya di sana juga dihiasi sejumlah arca dewa dan bunga padma. Dengan kata lain, taman Boboji bisa diartikan sebagai tempat khusus untuk mandi suci para putri dan merupakan tempat khusus untuk memuja para dewa.

Lokasi pemandian itu berada di selatan Candi Singosari yang berjarak sekitar 600 meter atau di timur Stasiun Kereta Api Singosari yang jaraknya sekitar 200 meter. Petirtaan Watu Gede kondisinya masih cukup baik. Air mengalir dengan deras dan jernih di kolam berukuran sekitar 10×25 meter tersebut.

Kolam Petirtan Watu Gede dibatasi dengan bangunan batu bata merah kuno yang disusun rapi. Di sela-sela susunan bata merah juga terdapat bekas sejumlah pancuran yang keluar dari arca Dewa Siwa dalam perwujudannya sebagai seorang putri. Namun, kini arca yang menjadi tempat mancurnya air itu hanya tinggal satu, yang lain hilang. Di kanan kiri taman sebenarnya terdapat taman, namun kondisinya sederhana. (aka)