Sumber Air Jolotundo, Dipercaya Bikin Awet Muda (2)

  • Whatsapp
candi sumber air jolotundo
Salah satu pengunjung Sumber Jolotundo usai mandi (kanan), serta pengunjung lain yang membawa jeriken berisi air sari Sumber Jolotundo. (Isma/nusadaily.com)
banner 468x60

Airlangga dan Situs Air Melompat Beraura Mistis Tinggi

NUSADAILY.COM- SURABAYA- Ada jalur pendakian ke Gunung Penanggungan, di kawasan Candi Jolotundo, wilayah KPH Perhutani Seloliman, Trawas, Mojokerto ini. Ada sekitar 16 candi situs purbakala di sini. Di area ini luasnya kurang lebih 7,3 hektare.

BACA JUGA: Sumber Air Jolotundo, Dipercaya Bikin Awet Muda (1)

"
"

Baca Juga

"
"

Diberbagai sudut Candi Jolotundo ini mengalir aliran air dan candi. Dibangun pada 997 Masehi pada zaman Airlangga raja Kerajaan Kahuripan. Menurut cerita sejarah Petirtaan Jolotundo dibangun dengan panjang 16,85 meter dengan lebar 13,52 meter dan tinggi 5,2 meter.

Petirtaan Jootundo ini menjadi tempat pemandian bagi para petinggi kerajaan pada zaman tersebut. Bahkan bangunan ini sengaja dibuat oleh Raja Udayana untuk menyambut kelahiran putranya, yaitu Prabu Airlangga.

Bangunan Petirtaan Jolotundo terbuat dari jenis batu adhesit yang sangat istimewa dengan pahatan relief serta bentuk bangunan yang memiliki 52 pancuran air yang jernih. Pancuran air jernih tersebut tetap terus mengalir walaupun musim kemarau tiba.

Raja Udayana Kerajaan Bedahulu dari Wangsa Warmadewa, Bali, adalah pembuatnya. Ceritanya Raja Udayana menikah dengan seorang putri Wangsa Isyana dari Kerajaan Medang yaitu Putri Gunapriya Dharmapatni.

Menurut beberapa referensi, Kerajaan Medang merupakan kerajaan yang cukup kuat di tanah Jawa. Bahkan Kerajaan Medang melakukan penaklukan di Bali, mendirikan koloni di Kalimantan Barat, dan melakukan serangan ke Kerajaan Sriwijaya.

Pada tahun 991 masehi, Raja Udayana dan Putri Gunapriya Dharmapatni memiliki seorang anak bernama Airlangga. Pemberian nama Airlangga memiliki arti air yang melompat. Candi Jolotundo merupakan wujud rasa cinta Raja Udayana dalam menyambut kelahiran Airlangga.

Tahun 997 M, Raja Udaya Membangun Candi Jolotundo

Sehingga pada tahun 997 Masehi, Raja Udayana membangun Candi Jolotundo. Namun terdapat sumber lain yang menyebutkan bahwa Candi Jolotundo merupakan tempat pertapaan dari Airlangga setelah mengundurkan diri dari singgasana Kerajaan Kahuripan dan digantikan oleh anaknya.

Kerajaan Kahuripan adalah kerajaan yang didirikan oleh Airlangga pada tahun 1009 masehi. Kerajaan Kahuripan merupakan lanjutan dari Kerjaaan Medang yang telah runtuh pada tahun 1006 masehi.

“Sumber lainnya juga mengatakan bahwa ketika masih berusia muda, Airlangga mengunjungi daerah Jolotundo dalam rangka untuk menenangkan jiwanya,” ujar para petugas di sana hafal cerita itu dari mulut ke mulut.

Karena dahulunya Airlangga setiap kali mandi di sumber mata air tersebut dapat merasakan ketentraman jiwa. Turun temurun sampai sekarang. Sayang malam itu, Sabtu (29/8/2020) pukul 23.00 WIB juru kunci tidak datang.

Hanya rekannya saja yang datang melihat situasi. Petugas Bhabinkamtibmas Polsek Trawas, terlihat memantau protokol kesehatan di malam itu. Kata Suroto, petugas loket bahwa cerita Candi Jolotundo pasti yang dikenal adalah petirtaannya (pemandian).

Air Seolah-olah Keluar dari Mahameru

Konon air yang keluar dari petirtaan tersebut adalah amerta yang seolah-olah keluar dari tubuh Mahameru. Air amerta adalah air yang digunakan dalam kehidupan manusia dan juga para dewa yang berfungsi sebagai air kebaikan untuk umat manusia.

Sejarah Candi Jolotundo adalah salah satu sejarah Indonesia sebagai salah satu candi di Jawa Timur kesohor karena ada mata air tak pernah surut. Tepatnya terletak di Dukuh Balekambang, Desa Seloliman, Kecamatan Trawas.

Untuk menuju ke lokasi candi yang berjarak 55 kilometer dari kota Surabaya, ini aksesnya mudah. Namun agak curam saat mendekati kawasan. Tanjakannya melandai di awal dan curam menuju posisi parkiran.

BACA JUGA: Gunung Penanggungan Mulai Kaki hingga Puncak Ditemui Situs-Situs Kuno

Ke kawasan ini bisa ditempuh lewat Trawas dengan menyisiri lereng Gunung Penanggungan dengan medan yang cukup berkelok-kelok. Bisa juga ditempuh lewat Ngoro, Industri Park dengan akses jalan raya yang dilanjutkan dengan melewati perkampungan penduduk.

Secara geografis, Candi Jolutundo berada pada ketinggian kurang lebih 800 meter di atas permukaan laut (Mdpl) dan berada pada bukit Bekel, lereng barat Gunung Penanggungan. Harga tiket masuk situs bersejarah ini adalah sebesar Rp 10 ribu untuk dewasa dan Rp 7.500 untuk anak-anak. (ima)

Post Terkait

banner 468x60