Dispertan Kota Batu Bentuk Tim Crop Atasi Keluhan Petani

  • Whatsapp
banner 468x60

NUSADAILY.COM -KOTA BATU- Dinas Pertanian Kota Batu menerjunkan Tim Cepat Respon Opini Publik (CROP) di Dusun Rejoso Desa Junrejo, Kecamatan Junrejo Kota Batu.

Tim CROP diterjunkan menyusul adanya keluhan petani jagung yang tanamannya terserang hama ulat dengan intensitas serangan sekitar 26,67 persen. Seperti yang dialami Agus seorang petani jagung.

"
"

Baca Juga

"
"

Ladang jagung miliknya terserang hama ulat dengan luas hamparan terdampak sekitar 2 hektar. Hama ulat mengakibatkan tanamannya menderita penyakit bulai dengan intensitas serangan sekitar 10 persen. Faktor utama yang memicu serangan hama yakni pemberian kotoran hewan tanpa proses dekomposisi.

Kepala Dinas Pertanian Kota Batu, Sugeng Pramono mengatakan tim ini dibentuk untuk bertindak cepat menangani keluhan petani di Kota Batu.

“Tim Crop melakukan kegiatan ini apabila ada keluhan dari petani melalui Aplikasi Balaikota Among Tani Teknologi. Tentang organisme pengganggu tanaman (OPT) yang meliputi tanaman pangan dan hortikultura,” ujar Sugeng, Selasa 4 Agustus 2020.

Lebih lanjut, pihaknya intens berkordinasi dengan Petugas Pengendali Organisme Tumbuhan (POPT) wilayah Kota Batu. Sehingga bisa bergerak cepat meninjau ke lapangan untuk mengidentifikasi karakteristik serangan OPT. Dengan begitu bisa menentukan langkah penanganannya dan upaya pengendaliannya.

Salah satu upaya yang dilakukan untuk mengendalikan serangan OPT yakni dengan bantuan drone sprayer. Beberapa OPT yang kerap dialami petani yakni hama ulat jagung (spodoptera frugiperda), penyakit trotol pada bawang merah (alternaria porii) dan hama wereng batang coklat (nilapavarta lugens) yang menyerang tanaman padi.

Tanggulangi Serangan Hama Ulat

Sugeng menyebutkan ada beberapa rekomendasi upaya penanggulangan serangan hama ulat. Di antaranya penggunaan mikroba entomopatogen mulai awal penanaman dan dilakukan secara periodik, misalkan metharizium anisopliae.

Kedua, eradikasi selektif dengan memusnahkan tanaman jagung yang terserang bulai sehingga tidak menjadi sumber inokulum bagi tanaman lain. Ketiga, penggunaan insektisida berbahan aktif bakteri bacillus thuringiensis. Keempat, pengendalian hama ulat secara mekanis dengan mencari dan membunuh ulat di kelompok telur pada tanaman.

“Serta penggunaan pupuk organik yang sudah melalui proses dekomposisi plus agen hayati untuk mengendalikan serangan penyakit,” imbuh Sugeng. (wok/top)

Post Terkait

banner 468x60