Minggu, Juli 3, 2022
BerandaOpinionPoemSiluet Wajah

Siluet Wajah

Puisi-puisi Listy

Jelas tergambar lekuk indah
Tatapan mata dan lenting bulu mata
Menjuntai bak peri tersenyum manis
Dalam tatapan hampa

- Advertisement -Iklan BTC Guest House

Hitam pekat berbingkai
Raga yang kokoh
Namun tak tahu setajam apa raut wajah asli
Seanggun bidadari atau sebuas singa

Siluet wajah berpigora tanpa warna
Hitam tersapu kuas pekat berpola
Menari di atas kanvas putih
Bersama sejuta hati

Baca Juga: Puncak Harlah 99 NU, Tahlilan di Hoofdbestuur dan Puisi dari Mushola Bersejarah Syaikhona Kholil

Siluet wajah tak gambarkan jati diri
Sembunyikan hati nan keangkuhan tak berperi
Demi harga diri pribadi, pertahankan janji
Untuk mengabdi pelaku mimpi

Siluet wajah sembunyikan hati
Di mana semua hanya ilusi
Tanpa tahu mana yang asli
Begitu ganjil mencari impian yang tak pasti
Hanya para seni yang tahu makna hakiki

Baca Juga: Menulis Puisi di Media Sosial, Bermula dari Iseng Bermanfaat untuk Berliterasi

Baret Penggalang

Entah berapa banyak kisah dari sahabatku
Para penderma hati dan curahan pikiran relawan
Bercerita tentang pengisah pilu korban Semeru
Lintasan pijaran gunung menyapa tanpa ragu
Menderu gemuruh bertalu menerjang pelataran tatanan warga
Tak pandang kasta dan pangkat berburu
Dalam hitungan waktu yang tak terbatas berlalu meranggas tak berbekas
Ada rasa haru temukan sisa yang tertinggal
Terketuk hati nan bangga, pecinta Pandu
Menata atribut satria pasukan berbaret penggalang
Bertengger kokok dalam lemari tak berwujud
tersapu debu namun tak sirna

Jadi saksi jiwa hati yang suci berbakti pada negeri
Di manakah sang pemilik baret penggalang?
Adalah rasa bangga yang tertinggal
Adalah satu bukti bertahan yang tak akan berakhir

Atau perjalanmu masih panjang ‘tuk melangkah menuju kejayaan
Darma baktimu pada ibu pertiwi sebagai tunas bangsa
Bukan kau sisakan hidupmu dalam kenangan
Pengabdian di masa lalu sempurnakan penggalang menjadi
baret pandega yang tangguh, berpeluh mengabdi
Berikrar berbakti jadi pandu sejati

Baca Juga: Puisi-Puisi Dono Sunardi

Luhur

Bersenandung rindu pada pujanga dalam nada
Berbinar pancara merona
Bahagia dalam jelmaan
Berurai senyuman menghiasi harapan

Secercah asa dari orang tercinta
Sahabat-sahabat lama
Berbagi rasa
Sesaat melayang menunggu jawaban
Kepastian berderma ilmu
Bersedekah kearifan yang bijak

Senandung hati dalam suka
Bermuara kisah kemenangan berlaga
Dalam doa menyapa
Sahabat tak perna terlupa
Luhur budi tiada terkira
Saat iklas memberi
Lulurkan hati berbagi
Lunturkan prasangka jadi ikatan hati bersatu
Dalam buaian senandung rindu

Baca Juga: Puisi Mbeling Joko Pinurbo Berjudul Dangdut

Binara Hati

Bertaut dalam kerja
Beriring meniti karya
Bersama mencari kriya
Bersanding dengan siswa dan keluarga

Berkarya bergandeng tangan berayun bersama
Menata riuh jadikan tahta
Pilah bakat dan minat anak didik tercinta

Bahkan lupa waktu senja
Menyelusuri situs-situs
Berbenar dalam lingkaran
Informasi yang meluas
Menjelajah jadikan juara

Jantung berdegup kencang saat buaian berlaga
Nafas seakan berhenti saat umumkan laga
Jiwa meledak saat umumkan sang juara
Rasa bergelora bertabur
Haru bahkan titihan air mata
kala sang idola jadi
pemenang dalam laga
Keluh, peluh sirna berkilah senyum
Karena tak akan pernah ada kata putus asa berbinar kemenagan sejati bersama melangkah pasti

Hujan Pagi

Berapa banyak nikmat yang telah Engkau bagikan
Berapa juta anugrah yang Engkau bagikan
Dalam putaran roda kehidupan yang damai
Nikmat tiada tara

Redup mendung di pagi menambah kesejukan
Hijau dedaunan seakan haus dalam siraman
Air hujan yang dingin
Menerpa pucuk pucuk tunas bersemi menari

Rintik-rintik air jatuh beriringan bersama semburan sinar
Pagi yang tertutup mendung sayu mendayu

Harapan sang petani dalam guyuran
Tersenyum menatap ladang-ladang menghijau
Mengalir berkelok basahi
Sungai-sungai kering
Menyapa alam berseri

Karunia Sang Pencipta hiasi alam semesta
Aroma tanah basah
Tunjukkan kebesaran Ilahi
Ada kehidupan dalam
Nafas di dada yang mendamai dengan alam
Kala hujan pagi datang
Semua laju kehidupan menanti guyuran air Ilahi

Sulistyaningsih M.Pd. adalah guru mata pelajaran Bahasa Indonesia SMP Negeri 1 Pakisaji Kab. Malang, dan anggota Cebastra.

BERITA KHUSUS

Berkunjung ke Kota Batu, Sandiaga Uno Buka Workshop Minuman Kekinian Pelaku UMKM

NUSADAILY.COM-KOTA BATU – Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf), Sandiaga Uno berkunjung ke Balai Kota Among Tani, Kota Batu (Rabu, 29/6). Sandiaga membuka acara...

BERITA TERBARU

Jadi Pemain Termahal Liverpool, Ini 6 Koleksi Mobil Mewah Mohamed Salah

NUSADAILY.COM - JAKARTA - Mohamed Salah telah resmi memperpanjang kontrak di Liverpool hingga tiga tahun mendatang. Selain memperpanjang masa baktinya, Salah juga mendapat gaji...

Puisi-puisi Listy

Jelas tergambar lekuk indah
Tatapan mata dan lenting bulu mata
Menjuntai bak peri tersenyum manis
Dalam tatapan hampa

Hitam pekat berbingkai
Raga yang kokoh
Namun tak tahu setajam apa raut wajah asli
Seanggun bidadari atau sebuas singa

Siluet wajah berpigora tanpa warna
Hitam tersapu kuas pekat berpola
Menari di atas kanvas putih
Bersama sejuta hati

Baca Juga: Puncak Harlah 99 NU, Tahlilan di Hoofdbestuur dan Puisi dari Mushola Bersejarah Syaikhona Kholil

Siluet wajah tak gambarkan jati diri
Sembunyikan hati nan keangkuhan tak berperi
Demi harga diri pribadi, pertahankan janji
Untuk mengabdi pelaku mimpi

Siluet wajah sembunyikan hati
Di mana semua hanya ilusi
Tanpa tahu mana yang asli
Begitu ganjil mencari impian yang tak pasti
Hanya para seni yang tahu makna hakiki

Baca Juga: Menulis Puisi di Media Sosial, Bermula dari Iseng Bermanfaat untuk Berliterasi

Baret Penggalang

Entah berapa banyak kisah dari sahabatku
Para penderma hati dan curahan pikiran relawan
Bercerita tentang pengisah pilu korban Semeru
Lintasan pijaran gunung menyapa tanpa ragu
Menderu gemuruh bertalu menerjang pelataran tatanan warga
Tak pandang kasta dan pangkat berburu
Dalam hitungan waktu yang tak terbatas berlalu meranggas tak berbekas
Ada rasa haru temukan sisa yang tertinggal
Terketuk hati nan bangga, pecinta Pandu
Menata atribut satria pasukan berbaret penggalang
Bertengger kokok dalam lemari tak berwujud
tersapu debu namun tak sirna

Jadi saksi jiwa hati yang suci berbakti pada negeri
Di manakah sang pemilik baret penggalang?
Adalah rasa bangga yang tertinggal
Adalah satu bukti bertahan yang tak akan berakhir

Atau perjalanmu masih panjang ‘tuk melangkah menuju kejayaan
Darma baktimu pada ibu pertiwi sebagai tunas bangsa
Bukan kau sisakan hidupmu dalam kenangan
Pengabdian di masa lalu sempurnakan penggalang menjadi
baret pandega yang tangguh, berpeluh mengabdi
Berikrar berbakti jadi pandu sejati

Baca Juga: Puisi-Puisi Dono Sunardi

Luhur

Bersenandung rindu pada pujanga dalam nada
Berbinar pancara merona
Bahagia dalam jelmaan
Berurai senyuman menghiasi harapan

Secercah asa dari orang tercinta
Sahabat-sahabat lama
Berbagi rasa
Sesaat melayang menunggu jawaban
Kepastian berderma ilmu
Bersedekah kearifan yang bijak

Senandung hati dalam suka
Bermuara kisah kemenangan berlaga
Dalam doa menyapa
Sahabat tak perna terlupa
Luhur budi tiada terkira
Saat iklas memberi
Lulurkan hati berbagi
Lunturkan prasangka jadi ikatan hati bersatu
Dalam buaian senandung rindu

Baca Juga: Puisi Mbeling Joko Pinurbo Berjudul Dangdut

Binara Hati

Bertaut dalam kerja
Beriring meniti karya
Bersama mencari kriya
Bersanding dengan siswa dan keluarga

Berkarya bergandeng tangan berayun bersama
Menata riuh jadikan tahta
Pilah bakat dan minat anak didik tercinta

Bahkan lupa waktu senja
Menyelusuri situs-situs
Berbenar dalam lingkaran
Informasi yang meluas
Menjelajah jadikan juara

Jantung berdegup kencang saat buaian berlaga
Nafas seakan berhenti saat umumkan laga
Jiwa meledak saat umumkan sang juara
Rasa bergelora bertabur
Haru bahkan titihan air mata
kala sang idola jadi
pemenang dalam laga
Keluh, peluh sirna berkilah senyum
Karena tak akan pernah ada kata putus asa berbinar kemenagan sejati bersama melangkah pasti

Hujan Pagi

Berapa banyak nikmat yang telah Engkau bagikan
Berapa juta anugrah yang Engkau bagikan
Dalam putaran roda kehidupan yang damai
Nikmat tiada tara

Redup mendung di pagi menambah kesejukan
Hijau dedaunan seakan haus dalam siraman
Air hujan yang dingin
Menerpa pucuk pucuk tunas bersemi menari

Rintik-rintik air jatuh beriringan bersama semburan sinar
Pagi yang tertutup mendung sayu mendayu

Harapan sang petani dalam guyuran
Tersenyum menatap ladang-ladang menghijau
Mengalir berkelok basahi
Sungai-sungai kering
Menyapa alam berseri

Karunia Sang Pencipta hiasi alam semesta
Aroma tanah basah
Tunjukkan kebesaran Ilahi
Ada kehidupan dalam
Nafas di dada yang mendamai dengan alam
Kala hujan pagi datang
Semua laju kehidupan menanti guyuran air Ilahi

Sulistyaningsih M.Pd. adalah guru mata pelajaran Bahasa Indonesia SMP Negeri 1 Pakisaji Kab. Malang, dan anggota Cebastra.