Senin, Januari 24, 2022

NUSADAILY.COM STORIES

Rara Mendut

Tiga Puisi Dono Sunardi

Rara Mendut, seorang perempuan muda jelita, menjual tembakau di tanah lapang nagari kacarita. tembakau dilintingnya dengan jemari kenesnya dan lalu dibakarnya di ujung bibir mungilnya. asapnya mengular, mengisi rongga-rongga dada para pemuda, membuat mereka mabuk kebayang pada si dara. menghisap puntungnya serupa memagut bibir sang rara. #1

- Advertisement -Iklan BTC Guest House

Rara Mendut, dengan gemulai tangan dan lirik matanya menerkam asmara para pria, menerbangkan jiwa mereka dalam alunan asap yang mengepul ke nirvana. mencucup embun-embun suksma pemuda dan membuatnya serupa menenggak arak berkarak. kecantikan dan kekenesan sang rara membuat berlaksa rela berjajar menantikan mencumbu wangi mulutnya. #2

Baca Juga: Puisi-Puisi Dono Sunardi

Rara Mendut, puntung-puntungmu disesap penuh gairah oleh bibir manusia keturunan adam. setiap tarikannya seperti titik madu yang membasahi setiap dekik pipimu. duhai, siapa jalma tak kasmaran atau sekadar membayangkan mencumbumu? rara penjual puntung tembakau, yang sejatinya kau jual adalah angan akan asmara. #3

Rara Mendut, paras jelita damba manusia. bulan pucat pasi kala berpapasan denganmu dan bintang-gemintang tersipu malu lalu bersembunyi di balik awan. matamu tutuplah agar dunia bisa sejenak menghela napas. berhentilah kau menghisap tembakau dari bibirmu agar anak manusia boleh beristirahat di pembaringan mereka malam ini. berbelas kasihanlah kau pada hati dan dada setiap pemuda. #4

Baca Juga: Menyoal Animasi Adit & Sopo Jarwo

Rara Mendut, siapakah dia yang coba kau pikat? Kenapa seluruh manusia lanang harus menderita panah asmara sekiranya ada satu jalma yang suksmanya kau sasar dengan busur di dadamu? tak jua kaudengarkankah tangis bocah-bocah malang yang rindu dekap ayahnya di tidur mereka, sedangkan sang bapa melamun wajahmu? seberapakah semesta harus bertahan dari daya sihir bibirmu? #5

Rara Mendut, lihatlah bagaimana mantra cintamu telah membuat Tumenggung Wiraguna, si bandot tua sakti mandraguna itu, seperti bocah kemarin sore. dia yang telah memenangi banyak laga bagi rajanya, kini rela jongkok berpanas-panas menantikan puntungmu. dia yang dapat membeli seluruh tanah bagelen yang menghasilkan tembakau termanis kini mau menunggu sampai asapmu mengisi rongga dada bidangnya. #6

Baca Juga: Puisi Mbeling Joko Pinurbo Berjudul Dangdut

Absurd

Seorang yang polos hatinya dituntut oleh hukum
Diseret ke hadapannya, tanpa diberitahu aturan mana yang dilanggarnya.
Di depan gerbang Pengadilan pertama, yang gawangnya tiada pernah bertaut,
Dia disambut sang penjaga pintu.

“Saudara, izinkan aku masuk dan menjumpai
hukum,” pintanya pada penjaga pintu.
“Aku oleh tugasku tidak diperkenankan mengizinkanmu masuk. Aku adalah aparat,
Walau aku yang paling rendah dari semua.

Di dalam, akan ada para penjaga pintu lain,
Memandang seri wajahnya pun aku tak kuasa,”
Jawab si penjaga kereng namun sambil selangkah bergeser.
Orang yang polos itu melihat celah, lalu
Melongokkan kepalanya, menengok ke dalam taman hukum.
“Baiklah, izinkan aku menunggu di sini.”

Baca Juga: Kenangan Jogja

Maka penjaga pun memberinya bangku kecil untuk mendudukkan pantat penatnya.
Layar waktu mengembang dan menggulung,
Dan matari tak berhenti mengendarai bianglala langit. Si polos hati kembali bertanya, “Bolehkah aku masuk?” yang dijawab serba tak pasti.
Namun orang tersebut telah cukup bersiap untuk berada lama di gerbang. Dia menawarkan apa yang dibawanya kepada sang penjaga,

Siapa tahu itu bisa melunakkan hatinya, pikirnya.
Sang penjaga sekadarnya saja menjawab,
“Kuterima pemberianmu ini, hanya agar sedikit terhibur hatimu”. Tangannya terulur menyambut pemberianmu itu.

Setiap pagi, si polos hati bertanya bilakah dia
Boleh masuk dari gerbang Pengadilan.
Penjaga pintu masih tak membolehkannya

Maka dia pun kembali ke bangku kecil tempatnya menggeletakkan pantat penatnya.
Seribu sebelas serapah keluar dari mulutnya, menyembur ke hadapan tuan hukum.
“Saudara,” sambut sang penjaga pintu, “Kenapa Saudara mengumpat. Gerbang ini tak berkunci. Tapi, aku hanya menjalankan amanat.”

Baca Juga: Puisi-Puisi Dono Sunardi

Maka, seribu tiga belas serapah, tinggi-rendah, membasahi kerongkongan si polos hati dan menjadi banjir.
Tapi, waktu adalah raksasa, yang lambungnya sedalam samudra dan ususnya sepanjang palung. Si polos hati ikut digulungnya mentah.

Dia menua, tulang-tulangnya merapuh,
Matanya merabun, rambutnya menguban.
Tak sanggup lagi dia tegak berdiri
Bertanya, menantang atau menyumpahi hukum Dan penjaga pintunya.

Maka, dia tinggal mengumpati dirinya sendiri dan nasib buruknya.
Suatu pagi, bersama bangunnya matari dan berkicaunya burung pertama,
Si polos hati merasa ujung hidupnya di pucuk hidungnya. Ia seperti melihat cahaya berberkas putih dari taman hukum.

Dan dengan bisikan lembut sang penjaga pintu di telinga tuanya, “Saudara polos hati, gerbang itu tak pernah berkunci, tapi aku juga tak bisa
Mengizinkanmu memasukinya. Itulah tugasku, yang dengan setia kuemban,” ia mengembuskan napas penghabisan, yang orokannya terdengar serupa benar igalan napas asu yang digorok tenggorokannya.

*F.K., The Trial, 26 Oktober 2017.

Sang-e Saboor

(Sang Batu Hitam)

Ya Al-Sabur, sang mahasabar,
Hari-hari kami di pengasingan dari Taman-Mu
Panas meranggas dan gersang,
Dan kami anak-anak Adam dari Hawa
Saling mencakar, tiada henti saling menunjuk
Kami merasa kamilah pembela-Mu paling wahid, sementara sisanya penyembah lancung.

Ya Al-Sabur, Sang-e Saboor,
Batu hitam tempat moyang kami biasa meletakkan kepala di Taman Loka,
Masa kami di pembuangan ini tak pernah
Barang sekejap pun tanpa kesesakan
Kami berebut gaung tanpa makna,

Seperti bocah yang tak pernah berangkat dewasa.
Sang-e Saboor, kami beriring memutarimu
Melambungkan ratapan hati kami yang
Tersayat, rahasia paling Akbar yang kami
Timbun dengan beton paling berdaya

Rahasia yang tak pernah kami bukakan cadarnya kepada siapa jua,
Dan bila Kau sudah pekak menyerap tangis
Kami, berderak-deraklah menjadi keeping
Kerna suara kami sudah Kau dengar
Dan hari kami di tanah budak berakhir.

*A. Rahimi, 28 Oktober 2017

Dono Sunardi adalah dosen prodi Sastra Inggris Universitas Ma Chung, penulis, penerjemah, dan anggota Cebastra.

- Advertisement -spot_img
@nusadaily.com Nadzira Shafa sempat hamil anak Ameer Azzikra #tiktoktaiment ♬ Filtered Light - Nik Ammar / Mike Reed