Senin, Juni 27, 2022
BerandaOpinionMelampaui Absurditas: Sebuah Upaya Mengalahkan Kesia-siaan

Melampaui Absurditas: Sebuah Upaya Mengalahkan Kesia-siaan

Oleh: Dr. Munawar Ahmad, S.S., M.Si.

Setelah merayakan idul fitri beberapa hari lalu, rasanya Ied sekarang sangat terasa lebih meriah dibandingkan Ied pada waktu pandemi. Ada gairah besar sekaligus “balas dendam”. Perayaan Ied tahun ini, menjadi tonggak kenormalan sekaligus awal kerutinan ritual Ied itu sendiri.

- Advertisement -Iklan BTC Guest House

Di sela-sela kelelahan dan kebahagiaan merayakan Ied, tepat rasanya kita rehat sejenak guna membaca ritual Ied guna penyelaman diri jauh ke dasar yang tiada batas-dasar.

Bermula membaca dua artikel dari Siti Adawiyah Arisa, dkk, (2020) dan Agustinus Widyawan Purnomo Putra, (2020) menjadi penggelitik tulisan ini hadir. Mari kita mulai dengan sebuah kata, absurd.

Kata absurd, saat ini sering kita baca dan dengar dalam perbincangan media sosial. Dengan mudah kata absurd terlontar ketika para netizen mengometari postingan yang dianggap “keanehan”, “ketidakjelasan makna” atau bahkan untuk postingan “ruwet”, atau “tercerabut” dari realita.

Secara etimologi, kata ‘absurditas’ berasal dari kata absurdus (Latin) yang terdiri dari kata ab yang berarti ‘tidak’ atau tanda negasi dan surdus yang berarti dengar. Absurd secara harafiah berarti tidak enak didengar, tuli, atau tidak berperasaan.

Kata ini dapat pula memiliki arti ‘tidak masuk akal’, ‘tidak sesuai dengan akal’, atau ‘tidak logis’.

Gagasan absurditas dalam ranah filsafat eksistensialisme mengarah kepada pengertian mengenai hidup manusia.

Ini tidak berarti, tidak dapat dimengerti, tidak masuk akal, dan tidak bermakna serta tidak bernilai.

Kata tersebut dipopularkan oleh Albert Camus, dalam tiga karya, Le Mythe de Sisyphe. (1942).. L’Homme Revolté. (1951), L’Étranger. (2005).

Baca Juga: Rektor ITK Diberhentikan dari LPDP dan Dikti Imbas ‘Manusia Gurun’

BERITA KHUSUS

Ada Penampakan Kuntilanak di Acara Gowes HUT ke-104 Kota Mojokerto

NUSADAILY.COM – MOJOKERTO – Masih dalam rentetan HUT ke 104 Kota Mojokerto, kali ini ribuan masyarakat berpartisipasi ramaikan gowes bersama Gubernur Jawa Timur, Khofifah...

BERITA TERBARU

Kenapa Gundukan Melintang di Jalan Disebut ‘Polisi Tidur’? Ternyata Begini Awalnya

NUSADAILY.COM - JAKARTA - 'Polisi tidur' di daerah Tangerang jadi sorotan. Sebuah video yang viral di media sosial menunjukkan ada jejeran 'polisi tidur' yang...

Oleh: Dr. Munawar Ahmad, S.S., M.Si.

Setelah merayakan idul fitri beberapa hari lalu, rasanya Ied sekarang sangat terasa lebih meriah dibandingkan Ied pada waktu pandemi. Ada gairah besar sekaligus “balas dendam”. Perayaan Ied tahun ini, menjadi tonggak kenormalan sekaligus awal kerutinan ritual Ied itu sendiri.

Di sela-sela kelelahan dan kebahagiaan merayakan Ied, tepat rasanya kita rehat sejenak guna membaca ritual Ied guna penyelaman diri jauh ke dasar yang tiada batas-dasar.

Bermula membaca dua artikel dari Siti Adawiyah Arisa, dkk, (2020) dan Agustinus Widyawan Purnomo Putra, (2020) menjadi penggelitik tulisan ini hadir. Mari kita mulai dengan sebuah kata, absurd.

Kata absurd, saat ini sering kita baca dan dengar dalam perbincangan media sosial. Dengan mudah kata absurd terlontar ketika para netizen mengometari postingan yang dianggap “keanehan”, “ketidakjelasan makna” atau bahkan untuk postingan “ruwet”, atau “tercerabut” dari realita.

Secara etimologi, kata ‘absurditas’ berasal dari kata absurdus (Latin) yang terdiri dari kata ab yang berarti ‘tidak’ atau tanda negasi dan surdus yang berarti dengar. Absurd secara harafiah berarti tidak enak didengar, tuli, atau tidak berperasaan.

Kata ini dapat pula memiliki arti ‘tidak masuk akal’, ‘tidak sesuai dengan akal’, atau ‘tidak logis’.

Gagasan absurditas dalam ranah filsafat eksistensialisme mengarah kepada pengertian mengenai hidup manusia.

Ini tidak berarti, tidak dapat dimengerti, tidak masuk akal, dan tidak bermakna serta tidak bernilai.

Kata tersebut dipopularkan oleh Albert Camus, dalam tiga karya, Le Mythe de Sisyphe. (1942).. L'Homme Revolté. (1951), L'Étranger. (2005).

Baca Juga: Rektor ITK Diberhentikan dari LPDP dan Dikti Imbas ‘Manusia Gurun’

Ia mengatakan absurditas adalah kondisi hidup manusia di mana ketidakmampuan manusia memahami dunia harus bertentangan dengan kerinduan alamiah manusia untuk menemukan kebenaran dan kejernihan.

Dalam Le Mythe de Sysphe, Albert Camus menjelaskan bahwa hidup manusia dalam dunia ini adalah sebuah kesia-siaan seperti tokoh Sisifus yang dikutuk para Dewa untuk mengangkut batu ke Gunung Olimpus tetapi selalu jatuh dan terus jatuh. Kejadian ini terjadi berulang kali sepanjang hidupnya.

Camus berpendapat bahwa hubungan antara manusia dengan dunia merupakan suatu hal yang tidak jelas dan hanya berujung pada kesia-siaan.

Ketidakjelasan ini diakibatkan oleh keinginan manusia yang tidak sejalan dengan arah sejati kehidupan, sehingga menciptakan penderitaan. Sementara dunia tidak dapat memberikan sesuatu penjelasan yang pasti ketika manusia menginginkan sebuah kepastian dan tepat pada saat itulah absurditas terjadi.

Penderiaan merupakan kutukan alamiah manusia dalam menjalani hidup, seperti apa yang pernah dituliskan sebelumnya oleh Arthur Schopenhauer, dalam tulisannya  The world as will and Representation (1969).

Bahwa kehidupan keseharian merupakan realitas yang menjebak manusia ke dalam rutinitas dan repetitive-nya tujuan-dan khayalan.

Baca Juga: China Laporkan Kasus Pertama Flu Burung H3N8 Menular ke Manusia

Keadaan ini membawa manusia kehidupan absurd, tidak pasti, kesia-siaan dan kelesuan akut. Inilah penderitaan sejati manusia dalam hidupnya yang mengalir tanpa makna.

Bagi Camus, rutinitas membawa manusia pada hal yang absurd dan sia-sia. Hal ini merupakan alasan perjuangan yang menjadikan manusia mau hidup lebih lama di atas dunia yang egois dan apatis ini.

Lebih jauh, dalam L’Etranger (2005) ia tetap bersikeras bahwa Mersault (tokoh utama dalam buku ini) bahagia dengan hukuman mati yang diterima, bahkan atas suatu tindakan pembunuhan yang tak sepantasnya.

Ia tidak peduli pada pengampunan apalagi harus meratapi karena ia menerima yang datang sebagai bagian absurd dari yang bernama kehidupan yang harus dihadapi, diterima dan dijalani.

Absurditas terjadi kerena menyatunya konflik dan kehidupan “kini-yang-dijalani” dalam kesadaran.

Konflik hadir dalam bentuk penderitaan yang senantiasa berulang terus menerus dan manusia ditugaskan untuk memaknai hal ini dengan berbagai cara.

Maka, wajar sekali jika dalam diri seorang manusia pasti ada penyesalan.

Penyesalan muncul terhadap hal kecil maupun yang besar. Hal ini dapat berujung pada ketidakmampuan menemukan makna dalam hidup dan menganggap semua hal itu hanya dapat berujung sia-sia.

Baca Juga: Inilah 5 Unsur yang Sumbang Berat Badan dalam Tubuh Manusia

Lambat laun, manusia seperti ini akan berakhir dengan kejenuhan yang terus menerus dan nantinya bakal melahirkan absurditas sekaligus apatis-akut. Bunuh diri atau melarikan diri dari kehidupan menjadi pilihan manusia.

Jika hidup manusia merupakan suatu bentuk dari kesia-siaan dan penderitaan, maka untuk apa manusia hidup? Wajar kan kita pertanyakan. Ini merupakan pertanyaan pokok dalam filsafat eksistensialisme.

Begini nalar Albert Camus, penderitaan bukan untuk dihindari maupun diakhiri dengan cara lari dari kenyataan atau bunuh diri.

Bunuh diri  merupakan pelarian dari penderitaan itu sendiri dan dengan kata lain akhir dari eksistensi. Karena itu bunuh diri merupakan tindakan absurd dan bertentangan dengan filsafat itu sendiri.

Itulah sebabnya Sisifus mempertahankan hidupnya meskipun harus mengalami penderitaan. Dia terus melakukan pekerjaannya tanpa berpikir untuk mengakhirinya.

Apa yang dia lakukan merupakan bukti perjalanan panjang yang selalu dimaknai sebagai pemberontakan dalam kepatuhan terhadap sanksi Dewa-Dewi.

Baca Juga: Terima Maaf Tri Suaka dan Zinidin Zidan, Andika Kangen Band: Manusia Tempatnya Salah

Adapun sebagai jalan keluarnya, “Aku berontak, maka aku ada”; Itulah adagium dalam L’Homme Revolte (1951) yang diteriakkan Camus atas nama  eksistensi sejati manusia dalam kehidupan absurd ini.

Sejarah yang sudah dipilih oleh manusia sendiri dan karenanya ia tidak boleh mundur atau menyerah pada sejarah.

Pemberontakan merupakan penjungkirbalikan yang utuh. Misal, seorang budak yang bertindak di bawah ancaman cambuk majikannya.

Tiba-tiba ia berbalik dan menghadapi  majikannya. Ia menghadapi apa yang ia kehendaki atau senangi dan apa yang tidak. Disinilah letak manusia sejatinya ketika menjalani penderitaan hidup dari kehidupan yang absurd.

Manusia ditakdirkan untuk menjadi sosok pemberontak dalam menghadapi hidup yang absurd, tanpa nilai, tanpa makna, dan tanpa makna.

Betapa pun tidak masuk akalnya hidup dan dunia yang dimilikinya, manusia harus melawan itu semua dengan tetap berjuang untuk hidup tanpa menyerah pada godaan untuk mengakhiri hidup yang tidak dimengertinya.

Baca Juga: AlfaCorp Siapkan Isolasi Pasien Covid-19, Anies Baswedan: Terimakasih, Pejuang Kemanusiaan

Di balik pesimisme akan keterbatasan hidup manusia, terdapat optimisme luar biasa bahwa hidup sangat layak untuk diperjuangkan.

Camus menyatakan bahwa ketidaktahuan manusia, kegelapan dan absurditas hidup merupakan cahaya bagi manusia untuk memberikan makna dengan perjuangan di setiap  detiknya.

Kegelapan membuka ruang bagi manusia untuk terus berjuang menyalakan cahaya, yaitu dengan hidup sebanyak- banyaknya melawan penderitaan.

Jika demikian, maka absurditas merupakan metode manusia muhasabah  mencari makna terdalam dari kehidupan.

Dari ketidaktahuan, manusia mencari pengertian. Dari kebuntuan jalan pemahaman manusia tentang kehidupan, manusia mencari jalan keluar dari penemuan-penemuan makna.

Secara tegas, inilah gambaran otentisitas manusia. Otentisitas manusia sejatinya adalah kegigihan untuk berjuang menggeluti hidupnya sehingga ia menjadi pembelajar dalam hidup yang dimilikinya. Kegigihan mengandaikan sikap ketabahan, kesetiaan, dan kesabaran yang tercakup di dalamnya.

Dengan kegigihan, seorang pribadi memiliki optimisme akan capaian yang diyakininya pasti dapat diraih dengan semua perjuangannya tanpa melupakan kesetiaan terhadap hal-hal detail yang ada dihadapannya.

Ia idealistis sekaligus realistis. Bahkan, orang yang gigih akan berjuang mendapatkan hasil maksimal melalui perkara-perkara kecil dalam setiap langkah yang ditempuh

Manusia perlu keyakinan diri yang permanen, dalam menjalini empati dalam kontek ‘ke-kini-an dan ke-di sini-an’. Keyakinan diri merupakan kunci pokok manusia pemberontak, dia yakin dengan kuat akan dirinya dan perjuangan yang diusahakannya sendiri.

Realitas “kini dan disini” tidak dapat diabaikan atau digantikan dengan harapan akan masa depan yang membuat manusia mengorbankan kekiniannya demi sesuatu yang lebih absurd di masa yang akan datang. Dan menggantungkan pengetahuan kekinian kepada pengetahuan yang lebih absurd.

Itulah pelajaran pada Sisifus yang menyadari bahwa perjuangannya yang tanpa henti membawa dirinya kepada kemenangan atas ‘batu’ nasib hidupnya.

Puncak kemenangannya bukanlah ketika batu mencapai puncaknya, melainkan ketika ia berjuang mendorong batu mencapai puncak berulang-ulang tanpa henti.

Itulah cara manusia menaklukan kesia-siaan melampaui absurditas hingga merasakan dunia yang jernih dan penuh kebahagiaan.

Suatu tamparan keras bagi manusia saat ini yang selalu haus kebebasan tetapi mereka selalu berlari dari resikonya, ingin enaknya sendiri, tanpa mau menanggung resiko. Tipe ini merupakan manusia yang absurd di atas absurd.

Rasanya tepat, jika manusia harus semakin empatik pada kehidupannya. Menghadapi secara gigih dengan berkeyakinan atas apa yang dikerjakan merupakan kebajikan-sejati.

Tanpa berusaha meminta imbalan, pujian ataupun sanjungan. Cara inilah menjadikan manusia dapat merasakan kebahagiaannya yang sejati meskipun dalam derita. Salam Bahagia.

Dr. Munawar Ahmad, S.S., M.Si. adalah dosen Ilmu Politik pada Prodi Magister Studi Agama-agama, Fakultas Ushuluddin, UIN Sunan Kalijaga.