Lima Orang Utan Dikembalikan ke Hutan

  • Whatsapp
orang utan
Lima orang utan kembali dilepasliarkan di kawasan Balai Taman Nasional Bukit Baka Bukit Raya (BTNBBBR) bekerja sama dengan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Barat, dan mitranya IAR Indonesia. (ANTARA/ dokumen)
banner 468x60

NUSADAILY.COM-PONTIANAK – Sebanyak lima orang utan kembali dilepasliarkan di kawasan Balai Taman Nasional Bukit Baka Bukit Raya, Jumat 14 Februari 2020.

Pelepasliaran orang utan bekerja sama dengan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Barat dan mitranya IAR Indonesia.

Baca Juga

Direktur Program IAR Indonesia Karmele L Sanchez dalam keterangan tertulisnya di Pontianak, Jumat, mengatakan pelepasliaran kelima orang utan itu setelah semuanya dilakukan direhabilitasi.

“Semua orang utan yang dilepasliarkan itu, merupakan orang utan yang diselamatkan dari kasus pemeliharaan ilegal, dan sebelum dilepasliarkan, mereka menjalani masa rehabilitasi di pusat rehabilitasi orang utan di IAR Indonesia, di Ketapang,” katanya.

“Proses rehabilitasi ini dimaksudkan untuk mengembalikan sifat alami mereka sekaligus membuat mereka memiliki kemampuan bertahan hidup di habitat aslinya,” ungkapnya.

Dia menambahkan, orang utan akan hidup bersama induknya sejak lahir sampai usia enam hingga delapan tahun.

Selama masa pengasuhan inilah, orang utan seharusnya mempelajari berbagai kemampuan hidup seperti memanjat, mencari makan, dan membuat sarang.

Namun karena berbagai sebab, bayi orang utan ini terpisah dari induknya dan berakhir di tangan manusia. Sehingga kehilangan kesempatan untuk mempelajari segala kemampuan tersebut.

“Proses rehabilitasi sampai pelepasliaran ini bisa memakan waktu dan biaya yang tidak sedikit, dan saat ini IAR Indonesia menampung lebih dari 90 orang utan untuk direhabilitasi. Proses rehabilitasi juga tidak bisa dibilang singkat, yakni butuh tujuh hingga delapan tahun atau tergantung kemampuan masing-masing orang utan itu,” ungkapnya

Sejak 2016, IAR Indonesia mendirikan stasiun monitoring untuk memantau orang utan rehabilitasi yang dilepaskan dalam kawasan ini. Tim monitoring diterjunkan untuk melakukan pemantauan perilaku dan proses adaptasi orang utan ini di lingkungan barunya itu.

Tim monitoring yang terdiri dari warga desa penyangga kawasan TNBBBR ini akan mencatat perilaku orang utan setiap dua menit dari orang utan bangun sampai tidur lagi setiap harinya.

Proses pemantauan ini berlangsung selama satu hingga dua tahun untuk memastikan orang utan yang dilepaskan bisa bertahan hidup dan beradaptasi dengan lingkungan barunya.

“Kita tidak bisa menyukseskan program ini tanpa partisipasi dan keterlibatan dari warga setempat. Kami sangat bangga bisa bekerjasama dengan warga desa-desa penyangga Taman Nasional Bukit Baka Bukit Raya,” ujar Karmele lagi.

Sementara itu, Kepala Balai Taman Nasional Bukit Baka Bukit Raya, Agung Nugroho mengatakan kegiatan pelepasliaran ini dilakukan dengan melalui serangkaian kegiatan dan kajian.

“Semua kegiatan dan kajian ini dilakukan untuk memastikan semua orang utan yang telah dilepasliarkan dapat hidup aman dan nyaman. Ketika pelepasliaran dilakukan bukan berarti kerja kita selesai. Tim monitoring akan bekerja tetap sekitar satu hingga dua tahun untuk memastikan setiap orang utan yang dilepasliarkan dapat beradaptasi dengan habitat barunya, dan kami harapkan orang utan yang dilepaskan di dalam kawasan BTNBBBR ini mampu membentuk populasi baru dan mempertahankan eksistensi spesiesnya,” katanya. (yos)

Post Terkait

banner 468x60