Selasa, September 21, 2021
BerandaNewsPendataan Pasien Kurang Akurat, Penanganan Corona Tak Maksimal

Pendataan Pasien Kurang Akurat, Penanganan Corona Tak Maksimal

- Advertisment -spot_img

NUSADAILY.COM – JAKARTA – Pengamat kedokteran DR. H. Ing. Bina Suhendra mengatakan penanganan virus corona (Covid-19) di Indonesia kurang maksimal. Pasalnya, pendataan korban dari awal kejadian penyebaran virus kurang akurat.

“Mungkin kalau untuk penanganan hospital dan karantina sudah oke lah, tapi masalahnya sampai sekarang itu adalah soal data,” ujarnya kepada Nusadaily.com di Jakarta, Rabu 8 Juli 2020.

Dikatakannya, soal pendataan mengapa kurang akurat, karena untuk data pasien positif harus di tes menggunakan PCR (polymerase chain reaction) atau RT-PCR (real time polymerase chain reaction).

“Karena kalau menggunakan tes PCR itu yang di tes adalah virusnya. Jadi, tidak bisa tes menggunakan rapid test,” ujarnya

Menurutnya, rapid test itu sebenarnya tidak cocok, karena bisa kemungkinan negatif atau positif palsu. Karena yang dideteksi itu bukan virusnya tapi daya tahan tubuh immunoglobulin M (IgM).

Tubuh akan membuat antibodi IgM saat anda pertama kali terinfeksi bakteri atau virus sebagai bentuk pertahanan pertama tubuh untuk melawan infeksi. Kadar IgM akan meningkat dalam waktu singkat saat terjadi infeksi. Kemudian perlahan menurun dan digantikan oleh antibodi IgG.

“Kalau minjem di istilah tentara itu, kopasusnya dululah (IgM-nya), setelah dia tempur musuhnya sudah babak belur baru masuk infantry namanya immunoglobulin IgG. Nah. Kalau dia kena infeksi pasti positif,” terangnya

Hal demikian tidak hanya pada kasus virus corona saja, melainkan pada virus lainnya, atau yang disebut pos positif. Kalau sudah dinyatakan positif maka wajib di karantina. Nah, tentu yang menjadi catatan adalah jangan sampai saat melakukan karantina campur antara orang yang negatif dan positif palsu karena justru akan tercampur.

- Advertisement -

Pertanyaannya, mengapa pemerintah tidak melakukan tes menggunakan PCR sekaligus membantu rumah sakit baik pemerintah maupun swasta. Seperti membangun laboratorium PCR, dengan perkiraan menghabiskan dana 1-2 miliar.

“Nah, kalau mau bikin 100 lab, hanya membutuhkan dua ratus miliar, uang segitu bagi pemerintah gak ada artinya, daripada digunakan yang gak jelas, itu jauh lebih manfaat,” ujarnya.

Virus Hoax

Akan tetapi yang lebih bahaya, menurut Bina Suhendra adalah virus hoax, menyebar informasi yang salah. Menyebar sesuatu yang tidak benar kemana-mana melalui media social, baik tentang vaksin, tentang pengobatan dan lain sebagainya.

“Inilah yang menjadi keprihatinan kita bersama bahwa masyarakat terkadang gampang sekali percaya dengan sesuatu yang belum tentu benar, makanya hati-hati,” ungkapnya

Ia pun menyarankan kepada masyarakat untuk pintar, cermat dan cerdas dalam menangkap suatu masalah yang belum tentu kebenarannya.

“Jadi, jangan malah bikin ruwet masalah, sudah banyak masalah malah ditambahi masalah. Saya kira masyarakat harus pinter dalam menjaga kondisi lingkungan agar tidak bertambah buruk lagi. Rukun damai itu terpenting,” pesannya.

Wabil khusus kepada warga nahdliyyin, lanjutnya, jangan ikut melakukan aksi yang tidak jelas. Untuk mencegah penyebaran covid 19, tentu warga nahdliyin harus mengikuti protokol kesehatan. Kemana-mana memakai masker, cuci tangan, hindari kerumunan massa dan lain sebagainya.

“Semua orang harus sadar, tidak hanya pada dirinya sendiri melainkan kepada orang lain juga, karena virus itu bahaya,” pungkasnya. (hud/lna)

AnyFlip LightBox Embed Demo

popular minggu ini

- Advertisement -spot_img

BERITA TERBARU

- Advertisement -spot_img

berita khusus

Genjot Pelatihan Inkubasi, Pemkot Mojokerto Targetkan Bentuk Ribuan Wirausahawan Baru

NUSADAILY.COM - MOJOKERTO - Pemerintah Kota Mojokerto menargetkan ribuan pengusaha baru bakal terlahir di tengah pandemi COVID-19. Hal itu ditegaskan Wali Kota Mojokerto, Ika...