Djaduk Ferianto Meninggal, Dimakamkan di Sembungan Kasihan Bantul

  • Whatsapp
djaduk
Djaduk dan anaknya. (Foto: instagram @djaduk)
banner 468x60

NUSADAILY-YOGYAKARTA – Seniman multitalenta Djaduk Ferianto meninggal dunia pada Rabu 13 November 2019 dini hari. Seniman yang sering tampil berewok ini mangkat di usia 55 tahun.

Kabar duka ini pertama kali tersebar dari unggahan Instagram kakak Djaduk yang juga seniman, Butet Kertaredjasa.

Baca Juga

Dikutip dari kumparan.com, Butet dalam akun instagramnya @masbutet mengunggah gambar hitam dengan tulisan ‘Sumangga Gusti’. Dalam caption unggahannya tersebut Butet menuliskan ‘RIP. Djaduk Ferianto’.

“Telah berpulang menghadap Tuhan. RM. Gregorius Djaduk Ferianto, hari ini Rabu 13 November 2019 pukul 02.30 WIB. Disemayamkan di Padepokan seni Bagong K. Dimakamkan pukul 15.00 WIB di makam keluarga Sembungan, Kasihan Bantul. Pemberkatan pkl 14.00 WIB,” pesan tertulis Butet kepada rekan-rekannya sesama seniman yang diperoleh nusadaily.com

Dilansir dari cnnindonesia.com, Djaduk mendapatkan aliran darah seni dari sang ayah, Bagong Kussudiardja, seorang koreografer dan pelukis legendaris di Yogyakarta. Bagong juga seorang keturunan Hamengku Buwono VII.

Kakek Bagong, Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya (KGPAA) Djoeminah, seharusnya menjadi pewaris takhta. Namun, Belanda menganggap Djoeminah sebagai pembelot yang harus diasingkan ke Ndalem Mangkubumen.

Di pengasingan, Djoeminah disebut-sebut sempat menderita sakit malaria. Ia kemudian meninggal secara misterius dan dimakamkan di Kotagede, Yogyakarta.

Berbicara kepada Tempo tahun lalu, Djaduk mengatakan bahwa peristiwa itu sangat menyakitkan untuk keluarganya karena menurut tradisi, keturunan Kesultanan Mataram seharusnya dikebumikan di Imogiri.

“Peristiwa itu sungguh menyakitkan buat trah Djoeminah. Eyang Djoeminah putra mahkota dan tidak dimakamkan di Imogiri,” tutur Djaduk kepada Tempo.

Kakek Djaduk, Raden Bekel Atma Tjondro Sentono, sempat putus asa karena trah Djoeminah pernah dihapus dari Keraton Yogyakarta, meski akhirnya sejarah bisa diluruskan.

Namun, Djaduk selalu ingat nasihat ayahnya sebelum meninggal agar ia dan Butet tak mencampuri urusan internal Keraton Yogyakarta, terutama mengenai kakek mereka yang disingkirkan.

Sejatinya, Bagong juga tak ingin anak-cucunya memakai gelar kebangsawanan Keraton Yogyakarta. Bagong hanya berpesan agar keturunannya melestarikan padepokan seni yang ia dirikan.

Djaduk pun tumbuh di Tedjakusuman, Yogyakarta, di lingkungan yang sangat sarat seni. Menurut Indonesian Film Center, Djaduk sempat mengecap berbagai kesenian, termasuk wayang, sampai-sampai ia pernah bercita-cita menjadi dalang.

Beranjak dewasa, Djaduk terus mendalami berbagai bidang seni dan akhirnya fokus ke musik. Nama Djaduk kian melambung setelah menggarap sejumlah ilustrasi musik sinetron, jingle iklan, hingga pementasan teater.

Ia juga kerap tampil di berbagai festival internasional bersama kelompok seninya, mulai dari Orkes Sinten Ramen hingga Kuaetnika.

Didirikan bersama Butet, Kuaetnika berkembang menjadi kelompok musik yang mengusung musik etnik Indonesia. Mereka kerap mengaransemen lagu-lagu daerah, memadukannya dengan jazz, atau memberi sentuhan lewat instrumen tak terduga seperti mainan anak atau perkakas dapur.

Belakangan, Djaduk memiliki wadah tampil baru bernama Ring of Fire. Di sini, ia meramu jazz dengan keroncong, lalu menggandeng penampil lain dan membiarkan sisanya berjalan apa adanya.

“Bagaimana jadinya, saya juga tidak tahu apa yang akan terjadi,” kata Djaduk soal penampilan Ring of Fire di Jazz Gunung, 2015 silam, sebagaimana dikutip Antara.

Selain menjadi penampil, Djaduk juga dikenal sebagai penggagas sejumlah festival musik, termasuk Ngayogjazz. Sebelum meninggal, Djaduk bahkan dilaporkan baru saja pulang dari rapat Ngayogjazz 2019 yang bakal dihelat 16 November mendatang. (yos)