Kemenperin Perkuat Industri Bahan Baku Obat

  • Whatsapp
Kemenperin Perkuat Industri
Gedung Kementerian Perindustrian.(Ist)
banner 468x60

NUSADAILY.COM – NUSADAILY.COM – JAKARTA – Kementerian Perindustrian (Kemenperin), mendorong kemandirian industri farmasi di Tanah Air, karena sebagai sektor penting dalam menopang pembangunan kesehatan nasional.

Baca Juga

Karena itu, salah satu langkah strategis yang sedang dilakukan adalah, pengembangan industri bahan baku obat dalam rangka substitusi impor.

BACA JUGA: Tekan Impor Obat, Indonesia Bakal Bangun Pabrik Paracetamol

“Pandemi Covid-19, membuat kesigapan semua negara meningkat, termasuk dalam hal ketersediaan obat-obatan,” ungkap Direktur Jenderal Industri Kimia, Farmasi dan Tekstil (IKFT) Kemenperin, Muhammad Khayam, dalam keterangannya, Kamis 17 September 2020.

Oleh karena itu, pemerintah terus berusaha memperkuat struktur manufaktur industri farmasi di dalam negeri. Antara lain dengan memacu kegiatan riset untuk menciptakan inovasi produk.

“Pada kesempatan ini, kami memberikan apresiasi kepada PT Pertamina yang menjalin kerja sama, dengan PT Kimia Farma Tbk, dalam rangka pengembangan industri bahan baku obat parasetamol dari bahan baku benzene,” papar Khayam.

Kemenperin siap mendukung penuh, segala upaya pengotimalan potensi nilai tambah dari pengolahan produk turunan petrokimia, menjadi bahan baku farmasi, seperti pengembangan bahan baku obat parasetamol.

Sebab, langkah tersebut merupakan salah satu dari program Prioritas Riset Nasional (PRN), 2020 hingga 2024. Program tersebut dikoordinasikan dengan Kementerian Riset dan Teknologi/Badan Riset dan Inovasi Nasional (Kemenristek/BRIN).

BACA JUGA: Kementerian Perindustrian Bangun Pabrik Gambir di Sumbar

“Jadi, kami menyambut baik adanya sinergi kedua BUMN tersebut, yang juga didukung oleh stakeholder terkait, karena diharapkan pula dapat meningkatkan daya saing industri kimia nasional, terutama pada lini industri antara (Fine chemical maupun specialty chemical),” ulasnya.

Upaya substitusi impor, diyakini dapat membantu menurunkan defisit neraca perdagangan Indonesia, khususnya di sektor farmasi.

“Selama ini, industri farmasi nasional mampu memproduksi sekitar 90 persen kebutuhan obat domestik,” jelasnya.(Via)

Post Terkait

banner 468x60