Minggu, Desember 5, 2021

NUSADAILY.COM STORIES

BerandaLifestylePeopleMengharukan, Seorang Ibu Naik Sepeda Kayuh Sejauh 18 Km Demi Dampingi Putranya...

Mengharukan, Seorang Ibu Naik Sepeda Kayuh Sejauh 18 Km Demi Dampingi Putranya Ikut Lomba Karate

- Advertisment -spot_img

NUSADAILY.COM – MALANG ‐ Seorang bocah asal Desa Jenggolo Kecamatan Kepanjen Malang, Aditya Saiful Anam (12) mendadak viral di Media Sosial (Medsos). Lantaran kegigihannya untuk mengikuti Lomba Karate dari Kepanjen ke Kota Malang dengan jarak tempuh 18 km dengan menggunakan sepeda kayuh dibonceng ibunya.

- Advertisement -Iklan BTC Guest House

Beruntungnya, usahanya tak sia sia. Ipul, sapaan akrabnya berhasil mendapatkan peringkat di salah satu katagori lomba tersebut.

Video yang viral, menampakkan ipul dan ibunya yang pulang ke Kepanjen setelah berhasil menjadi salah satu juara.

Saat mengikuti lomba dia dan ibunya ke Kota Malang, Minggu (5/9/2021) lalu. Keduanya menggunakan sepeda pancal dari rumahnya ke Kota Malang.

“Iya saya memang berangkat subuh habis salat Subuh sama ibu dari Kepanjen ke Kota,” katanya, Selasa (14/9/2021).

Menurutnya, meskipun jauh dia senang mengayuh sepeda pancal. Untuk catatan saja jarak antara Kota Malang dari Kecamatan Kepanjen Kabupaten Malang adalah sekitar 18 kilometer.

“Ya saya ke sana ke sini latihan ya pakai sepeda pancal. Khusus untuk lomba kemarin saya sama ibu saya ajak ibu karena jika ada ibu saya lebih semangat,” imbuh dia.

Lebih Semangt Saat Dilihat Ibunya

Bocah kelas 6 Sekolah Dasar (SD) itu memang mendapat semangat saat dilihat ibunya yang bernama Sulastri (37). Ipul, sapaan akrabnya mampu juara harapan 1 di kejuaraan tersebut.

“Iya baru pertama ini juara. Dulu waktu kelas dua kalau gak salah pernah juga ikut lomba di Bali. Tapi tidak juara. Waktu itu berangkat sendiri,” kata Ipul.

Ipul saat ini berada di tingkatan sabuk cokelat pada olahraga bela diri karate yang dijalaninya sejak enam tahun lalu.

Ipul menjelaskan, awal dia tertarik dengan karate karena ingin menjadi polisi. Dia bercerita saat masih berumur lima tahun dia bertanya ke polisi.

“Saya tanya, Pak ya apa caranya jadi polisi? Pak polisinya jawab harus pintar bela diri. Sejak saat itu saya bilang ke ibu ingin karate dan didukung,” ujarnya.

Sementara itu, ibu Ipul, Sulastri mengatakan sejak dulu dia mendukung apa yang diinginkan anaknya.

Sebisa mungkin Sum, sapan akrabnya akan membantu keinginan anaknya tercapai.

“Tapi saya bilang ke Ipul saya hanya bisa segini. Kayak kemarin ibu hanya bisa ngantar pakai sepeda pancal begitu. Tapi dia senang dan penurut anaknya dan gak neko-neko,” ujarnya.

Senang Meskipun hanya Menggunakan Sepeda Pancal

Untungnya Ipul pun senang meskipun hanya menggunakan sepeda pancal berangkat ke kejuaraan tersebut.

“Ya dia katanya pingin lihat stasiun Kota Baru yang barusan dibangun itu. Terus ke anak-anak demo depannya Balkot dia sudah senang lihat gedung-gedung itu. Saya bersyukur punya Ipul,” jelasnya.

Ipul, kata Sum, memiliki sifat kekeuh untuk mencapai cita-citanya. Hal ini dikarenakan Ipul ingin membanggakan ayahnya yang telah meninggal dunia.

“Ayahnya meninggal saat saya melahirkan Ipul ini. Ipul ini sejak kecil memang ingin membanggakan saya sama ayahnya yang tinggal di sana,” kata dia.

Keseharian Ipul, diceritakan Sum, bahwa tidak hanya sekolah dan latihan karate. Tapi tidak jarang pula Ipul membantu Sum untuk mencari rongsokan-rongsokan untuk dijual kembali.

“Ya saya kan kerjanya mengumpulkan rongsokan. Biasanya Ipul itu ikut kayak kemarin pas kejuaraan pulangnya ya saya nyari di gang-gang di Kota Malang sampai Kabupaten sama Ipul. Dia pun gak masalah. Dia berbakti sama orang tuanya,” imbuhnya.

Sementara itu, Sum dan Ipul tinggal tidak sendirian. Keduanya tinggal menumpang di kediaman ibu Sum.

Hal ini setelah rumahnya rusak terkena gempa bumi April 2021 lalu dan tidak layak huni Terlihat memang sebagian atap rumah Sum yang ambruk.

“Dan sampai sekarang saya tidak mendapat bantuan sampai saat ini. Jadi ya saya biarkan begini tak buat sebagai gudang. Dan saya tinggal sama mbahnya Ipul di sebelah,” sambungnya.

Meskipun rumahnya hancur akibat gempa dan tidak mendapat bantuan, dia pun bersyukur. Saat gempa bumi terjadi, tidak ada korban jiwa.

“Saat itu gak ada yang di rumah. Tiba-tiba pas lihat rumah saya ketiban pohon pisang,” tutup Sum. (aje/aka)

- Advertisement -spot_img
spot_img
- Advertisement -spot_img

BERITA POPULAR