Situs Astana Gedong Tempat Suci Masa Kerajaan Singhasari

  • Whatsapp
situs astana gedong masa singhasari
Arkeolog M. Dwi Cahyono menunjukkan batu bata berukuran besar yang dulu merupakan bagian dari Candi Astana Gedong Tulungagung.
banner 468x60

NUSADAILY.COM-TULUNGAGUNG- Situs Astana Gedong adalah tempat suci masa Kerajaan Singhasari. Kajian mendalam mengenai eksistensi situs Astana Gedong yang ada di Desa Sukodono Kecamatan Karangrejo, disampaikan oleh Arkeolog sekaligus Akademisi, M. Dwi Cahyono.

BACA JUGA: Situs Astana Gedong, Makam Islam Paling Tua di Tulungagung – Imperiumdaily.com

Baca Juga

BACA JUGA: BPCB Jawa Timur Rekomendasikan Pemindahan Fragmen Kala Ke Museum Wajakensis

Dwi memberi pemahaman kepada sejumlah tokoh masyarakat Desa Sukodono, aparat pemerintah desa dan pemerhati budaya, pada Kamis (19/11/2020).

Satu fakta baru yang terungkap dalam kajian ini adalah temuan arca “Dhyani Boeddha Aksobhya” di situs Astana Gedong tersebut.

Dwi Cahyono mengatakan, dalam catatan kuno yang dibuat oleh pemerintah Belanda dalam Rapporten Oudheidkundig Commisiie (ROC). Berangka tahun 1908. Pada halaman 201-202 disebut bahwa ditemukan arca yang diidentifikasi sebagai “Dhyani Boeddha Aksobhya”.

Arca ini ditemukan di Astana Gedong yang ada di wilayah Desa Gondang Lor Distrikt Kalangbret Afgdeeling Toeloengagoeng.

“Ada temuan arca Aksobya di situs Astana Gedong, itu dicatat dalam ROC yang dibuat pemerintah Belanda,” ujarnya.

Arca berukuran raksasa dengan tinggi 148 Centimeter, terdiri atas tinggi figur dewa beserta asana setinggi 112 Centimeter. Dengan tebal pedestal 36 centimeter, panjang 83 centimeter dengan tebal 90 centimeter. Kini disimpan di Museum Wajakensis Kabupaten Tulungagung.

Besar kemungkinan arca ini merupakan salah satu dari lima atau enam thatagata dalam pantheon Mahayana Budhisme.

“Saat ini arcanya disimpan dan dirawat di Museum Wajakensis Tulungagung,” lanjutnya soal araca di Situs Astana Gedong masa Singhasari.

Dwi menyebut, Arca Aksobya dengan rambut keriting dan telinganya yang panjang ini dalam posisi duduk Yogasana di atas Padmasana. Pada bagian belakang kepala sisi kirinya terdapat prabha.

Saat ditemukan, tangan kanan Arca ini hilang, kemungkinan sikap tangannya adalah bhumisparasamudra yang berarti memanggil bumi sebagai saksi. Sedangkan tangan kirinya dalam posisi Dhayanamudra, mengenakan upawita maujyin jubah pendeta dengan lipatan-lipatan dan tepian kain tampak.

“Kondisinya masih relatif baik walaupun tangan kananya patah, tapi masih bisa dilihat posisi tangan kirinya,” terang Dwi.

Kemudian pada pedestral arca tersebut masih terlihat dengan samar tertulis inkripsi dua baris aksara Jawa Tengahan dalam bahasa sansekerta.

Dalam inkripsi tersebut tokoh penguasa, yang kemungkinan penguasa daerah dengan nama Sri Dharmawangsa krtawardhanna. Ia yang digambarkan sebagai Tathagata dengan prakerti paripurna.

Ada Arca Aksobya Berambut Keriting

Situs Astana Gedong masa Singhasari
Arkeolog M. Dwi Cahyono menunjukkan fragmen tersisa di Situs Astana Gedong masa Singhasari.

Foto: Firmanto Imamsyah/nusadaily.com

Disebut juga bangunan suci yang dinamakan Trailokyadarawartina. Bangunan yang erat kaitannya dengan bangunan suci budhis di masa Kerajaan Singhasari saat dipimpin raja Wisnuwardhana hingga Kertanegara.

“Dengan adanya ini bisa dilihat jika arca ini dibuat di masa Kerajaan Singhasari, masa raja Wisnuwardhana hingga Kertanegara,” ucapnya.

Pihaknya meyakini, situs yang dikenal sebagai Astana Gedong sendiri dulunya di masa Kerajaan Singasari merupakan salah satu di antara berbagai bangunan suci. Yang ditulis dalam prasasti tembaga Sarwaddharma dengan angka tahun 1269 M.

Di mana prasasti tersebut dibuat oleh Kertanegara saat dirinya masih berstatus sebagai raja muda Tumapel yang ditempatkan di Dhaha pada masa pemerintahan raja Wisnuwarddhana.

Hal ini diperkuat dengan temuan bata bata kuno dengan ukuran besar. Yakni panjang 42 centimeter, lebar 24 centimeter dan tebal 9 centimeter. Dimungkinkan bagian dari bangunan suci namun kini dijadikan pagar makam, tanggul serta jirat nisan.

Temuan umpak batu berbentuk segi delapan dan sebuah umpak batu lain beda bentuk. Yang konon berfungsi sebagai pelandas tiang dari tubuh candi yang menyangga atap candi, seperti di candi sanggrahan Boyolangu.

Lokasi candi inilah yang dulu kala sebagai tempat arca Aksobhya berada.

“Dulunya di sini ini di situs Astana Gedong merupakan bangunan suci masa Hindu Buddha, kemudian kemungkinan dipertahankan kesuciannya saat mulai masuk masa Islam,” jelasnya.

Dwi Cahyono menyebut, kendati pada masa hindu buddha lokasi ini menjadi bangunan suci. Namun di masa pertumbuhan dan perkembangan Islam, lokasi ini tetap dianggap sebagai lokasi keramat. Namun mulai beralih fungsi sebagai pemakaman dengan sebutan Astana Gedong.

Astana sendiri memiliki arti bagian dari istana atau tempat pemujaan. Sedangkan gedong merupakan sebutan dari bangunan megah yang terbuat dari bata.

“Karena di tempat lain seperti di Kediri itu ada Astana Betek, atau sentono Betek. Kata betek ini kan merujuk pada bangunan yang tidak terbuat dari batu,” pungkasnya.(fim/cak)

Post Terkait

banner 468x60