Pesan-pesan Kemanusiaan Sunan Drajat

  • Whatsapp
Ilustrasi Sunan Drajat. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono)
banner 468x60

NUSADAILY.COM – JAKARTA – Sunan Drajat adalah putra terakhir dari Sunan Ampel. Ia diperkirakan lahir pada 1470 Masehi. Ibunya bernama Nyai Ageng Gede Manila atau Candrawati, putri Arya Teja IV, seorang adipati Tuban. Sunan Drajat juga berjuluk Raden Kasim (Qasim), Masaikh Munat, Raden Syarifuddin, Maulana Hasyim, Pangeran Kadrajat, dan Sunan Mayang Madu.

Sunan Drajat muda lebih dikenal dengan nama Raden Qasim. Sama dengan kakaknya Sunan Bonang, Raden Kasim mula-mula menghabiskan masa mudanya dan belajar agama di Kompleks Ampel Denta, kediaman Sunan Ampel, bapaknya.

Baca Juga

BACA JUGA : Sunan Gunung Jati, Keturunan ke 8 Rasulullah dan Contoh Politikus Handal

Sunan Drajat konon juga belajar agama dari Sunan Gunung Jati, Cirebon. Itu adalah tradisi yang berkembang bahwa seorang ulama biasanya akan meminta anaknya belajar dari ulama lain. Di Cirebon, dia dikenal dengan Syaikh Syarifuddin.

Jejak penyebaran Islam yang dilakukan oleh Sunan Drajat banyak tercatat di wilayah yang kini menjadi makamnya, Kecamatan Paciran, Kabupaten Lamongan. Namun tak banyak naskah historiografi yang menjelaskan awal mula kedatangan Sunan Drajat di wilayah itu.

Sri Sumaryoto dalam 9 Sunan, menyebut Sunan Drajat sempat berselisih paham dengan Sunan Ampel saat diminta untuk berdakwah mengikuti jejak kakaknya, Sunan Bonang. Semula ia ingin berdakwah di daerah Surabaya, namun keputusan itu ditolak oleh Sunan Ampel. Ia kemudian mengikuti saran sang Ayah untuk pergi ke daerah pesisir Utara Gresik dan Tuban.

BACA JUGA : Sama-sama Terjadi di Bulan Ramadan, Ini Perbedaan Nuzulul Quran dan Lailatul Qadar

Sumber lain yang terkenal hanya berdasarkan cerita yang berkembang di tengah masyarakat. Berdasarkan cerita itu, dia menggunakan jalur laut untuk sampai daerah Gresik dari Ampel Surabaya.

Konon, perahu yang ditumpangi Raden Qasim dihantam gelombang dan pecah di tengah laut. Dalam peristiwa itu, Raden Qasim diselamatkan ikan cucut dan ikan talang hingga kemudian mendarat di Jelag, sebutan untuk gundukan tanah, dan masuk ke Desa Banjarwati.

Di Jelag, Raden Qasim menikah dengan Nyai Kemuning, putri Ki Mayang Madu. Dalam sumber lain, dia juga menikahi Dewi Sufiyah, putri Sunan Gunung Jati. Ia kemudian ditempatkan sebagai imam pelindung di Lawang dan Sedayu, pedukuhan Drajat.

BACA JUGA : Sunan Kalijaga, Berandal Tobat yang Menjadi Wali

Pepali Pitu

Secara umum ajaran Sunan Drajat lebih dikenal dengan ‘pepali pitu’ (tujuh dasar ajaran). Ajaran tersebut menyangkut falsafah yang menjadi pijakan dalam hidup.

Pengajar studi Islam Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo Semarang, Anasom menyebut sedikitnya ada 10 ajaran terkenal SunanDrajat. Dari jumlah tersebut, empat di antaranya yang paling mafhum, dan terukir di bagian makam Sunan Drajat.

“Menurut saya sangat bagus peninggalan beliau itu antara lain adalah yang oleh para juru makam sekarang ini ditulis di makam beliau itu. Itu saya kira peninggalan intelektual yang cukup bagus,” kata dia kepada CNNIndonesia.com, Rabu (14/4).

Dalam pepali pitu,salah satunya yakni Sunan Drajat mengajarkan tentang etos kerja atau kerja keras untuk memenuhi kebutuhannya.

Laksitoning subroto lan nyipto marang pringgo bayaning lampah / ing dalem makaryo lan nyipto dhatêng keluhuran mêsthi lampahe pakewuh lan bilahi / (dalam melakukan suatu usaha pasti ada rintangannya).

Ada juga ajaran yang menyangkut falsafah seseorang tentang nilai ajaran pribadi. Namun, selain itu, ajaran Sunan Drajat juga menyangkut soal sosial dan spiritual. Dalam spiritual, Sunan Drajat mengajarkan agar setiap orang hendaknya tetap waspada dalam keadaan gembira.

Jroning suko kudu èling lan waspodo, ing dalem kasênêngan kudu èngêt lan waspaos (dalam suasana gembira hendaknya tetap ingat Tuhan dan kejadian yang telah berlalu, dan selalu waspada).(han)