Ini Kata Bupati Ipong Soal Perbedaan Hasil Swab Anggota DPRD Ponorogo

  • Whatsapp
Kasus COVID-19 Ponorogo
Bupati Ipong Muchlissoni (ist)
banner 468x60

NUSADAILY.COM – PONOROGO – Perbedaan hasil swab Laboratorium Mikrobiologi Klinik RSUD dr. Iskak Tulungagung dengan RSUD dr. Sutomo Surabaya terhadap anggota DPRD setempat membuat gaduh warga Ponorogo, pasca disampaikan Bupati Ipong Muchlissoni beberapa hari lalu. Bahkan atas perbedaan tersebut, seorang warga melapor ke pihak kepolisian.

Bupati Ipong sampai angkat bicara agar masyarakat tidak gaduh menyikapi berita yang beredar. ”Bahwa hasil swab dari kedua rumah sakit itu semuanya benar dan sah,” terangnya kepada nusadaily.com, Rabu, 16 September 2020.

"
"

Baca Juga

"
"

Perbedaan hasil swab tersebut, lanjut Bupati, bermula dari seorang anggota DPRD Ponorogo yang dinyatakan positif covid-19, yaitu pasien nomor 301. Bupati Ipong kemudian melakukan tracing kontak erat pasien tersebut. Selama tracing, kantor DPRD dilockdown. Seluruh anggota DPRD beserta stafnya pun menjalani isolasi mandiri.

BACA JUGA: Ini Hasil Swab Terhadap 28 Staf dan Anggota DPRD Ponorogo

Lebih lanjut, kata Bupati, hasil tracing terdapat sebanyak 28 orang yang kontak erat dengan pasien 301. Seluruhnya berasal dari internal DPRD Ponorogo.

“Karena waktu itu saya mau rapat dengan 10 orang, saya minta kepada Dinkes untuk men-swab 10 orang terlebih dahulu yang mau rapat dengan saya, maka dilakukan swab di RS Tulungagung. Setelah itu saya minta di-swab lagi kepada 28 orang termasuk yang 10 orang tadi untuk dikirim ke RS dr Sutomo Surabaya,” terangnya.

Hasil swab RS Tulungagung 9 orang dinyatakan positif, namun hasil lab dari RS Surabaya keluar hasilnya semua negatif. Atas perbedaan hasil tersebut, pihaknya segera mengambil langkah cepat melakukan swab kembali.

“Dan hasilnya akan dikirim ke Tulungagung juga. Tunggulah sabar,” pinta Bupati.

Ditanya soal warga yang melaporkan ke polisi atas perbedaan hasil swab RS Surabaya – RS Tulungagung, menurut Bupati itu salah alamat. Yang semestinya dilaporkan adalah rumah sakit atau lapda, kecuali pihaknya memalsukan data.

”Jika laporkan sesuai UU ITE semestinya labda Tulungagung yang membocorkan hasilnya, karena identitas mereka positif bersifat rahasia, ” ungkap Bupati.

”Tapi ya ngak papalah, lanjut Bupati. Pelapor juga tidak konsisten, buktinya ngajak masyarakat yang lain jalan kaki tanpa alas kaki untuk menggugat ini dan melaporkan polisi. Buktinya ia bawa sepatu dan tidak ada masyarakat yang ikut alias sendirian,” ucapnya.

Hasil Swab Dipolitisasi

Menurut Bupati, perbedaan hasil swab ini sudah dipolitisisasi. Dibawa ke ranah politik jelang pencalonanya kembali pada Pilkada 9 Desember mendatang.

”Tidak etislah, covid dijadikan alat politik untuk menjatuhkan dirinya. Saat ini negara bersama rakyat sedang memerangi virus ini agar segera selesai, dan kehidupan kembali normal,” tegasnya.

Selama ini dirinya tidak pernah menjual hoaks atau fitnah dalam kontetasi pilkada, baik di pilkada lalu maupun di pilkada saat ini.

”Mari bersaing secara santun secara sehat, secara program untuk kebaikan Ponorogo yang kita cintai ini, ” pungkasnya. (nto/lna)

Post Terkait

banner 468x60