Mimpi Kuasa, Relasi Pemimpin dan Wibawa

  • Whatsapp
Ilustrasi. (ark)
banner 468x60

Oleh: Awan Abdullah

Di masa kuasa tirani, partisipasi politik terhambat. Aspirasi tersumbat. Kekuatan civil society pun tak mampu berhadapan dengan negara. Tak ada lagi pressere group dan interest group. Kuasa berada di bawah tangan besi dan, dalam beberapa segi, ekspresi dan aktualisasi diri menghadapi tembok kekuasaan.

Akankah kita membenturkan kepala ke tembok? Tentu tidak! Tapi, ekspresi imajinasi dan pemenuhan aktualisasi diri, bisa mendapat outlet pelepasannya. Lelucon dan humor berkecambah seperti mashroom di musim hujan.

Baca Juga

Di masa-masa negeri di bawah tirani, ekspresi dan aktualisasi diri, menjadi saksi akan keangkuhan kuasa. Menjadi monumen bagi ingatan kolektif suatu masyarakat. Kita mengenal “Tirani dan Benteng” buku puisi karya Taufiq Ismail di tulis di masa rezim Sukarno, juga “Angkatan 66: Prosa dan Puisi” disusun HB. Jassin.

Kita pun mengenal “The Gulag Archipelago”, karya Aleksandr Solzhenitsyn. Gulag adalah singkatan dari salah satu institusi birokrasi Uni Soviet: Glavnoe Upravlenie ispravitel’no-trudovykh Lagerei (Gulag). Administrasi Utama Kamp Buruh Korektif (Main Administration of Corrective Labor Camps). Badan itu menjalankan sistem kamp-kamp kerja paksa pada era Stalin.

Namun, setelah Aleksandr Solzhenitsyn mempublikasikan The Gulag Archipelago pada 1973, istilah Gulag digunakan untuk menyebut keseluruhan sistem kerja paksa (penal labour). “Gulag History” mendedahkan, cuaca yang ekstrem, porsi makanan yang tak cukup, lingkungan yang tak bersih, kerja keras, dan kekerasan yang endemik memenuhi kehidupan sehari-hari para tahanan. Keadaan-keadaan seperti itu pun menyebabkan tingginya tingkat kematian di kamp-kamp penyiksaan bagi penentang kuasa di negeri tirani.

Ah, tidak! Kita hidup di alam demokrasi. Ekspresi imajinasi, aktualisasi diri, dan mimpi begitu bebas. Ketika “Ahmad Sahroni Mimpi Jadi Presiden”, ia memaknai kebebasannya. Kader Partai Nasdem ini, menampangkan dirinya di atas baliho, terpajang di sudut jalan. Tak hanya di sudut jalan di Malang, melainkan juga di sejumlah kota: Makassar, Lampung, dan kota-kota di daerah lain.

Ahmad Sahroni menambah deretan nama yang bercita-cita menjadi presiden. Di masa rezim Soeharto, kita mengenal boneka Suzan, dimainkan Ria Enes, menyanyi “Cita-Citaku”. Ketika ditanya ingin menjadi apa kelak, Suzan menjawab: ingin jadi presiden. Ahmad Sahroni tak sekadar ingin menjadi tokoh nomor wahid di negeri ini. Lebih dari itu, saya kira, ia mencoba memaknai medium baliho yang — di masa sekarang dengan mudah dicetak — untuk mempertontonkan keberhasilannya.

Tak penting penting kelak “mimpi jadi presiden” tertunaikan atau tidak. Kini, ia telah membentot perhatian publik. Ia membikin penasaran akan eksistensinya. Ia pun merasa telah menjadi orang sukses, dari jerih payah dan usaha yang berlelah-lelah.

Dengan penasaran, kita pun mencari tahu tentang jejaknya. Tapi, sekadar bermimpin kok diprotes. Biarkanlah! Toh, tentang pemasangan baliho di tempat-tempat yang mudah dipandang publik, ia harus menunaikan kewajiban membayar advertensi di pemerintah daerah yang ditempati.

Soal mimpi, Ahmad Sahroni sedang memaknai esensi kemanusiaannya: bermain. Manusia adalah makhluk yang suka bermain. “Homo ludens”, demikian menurut ahli folklore, Johan Huizinga (1938). Bermain pada setiap zaman, setiap waktu, dan setiap ruang. “Fi kulli zaman wal makan”. Dunia ini adalah tempat permainan.

Permainan yang menjebak dan seringkali berakhir ke dalam jebakan. Di antara ciri dasar dari bermain adalah imajinasi dan fantasi. Ya, karena imajinasi, ia terbebas oleh batasan ruang bahkan waktu. Berimajinasi dan berfantasi, menjadi raja sejagat atau raja matahari, atau raja diraja. “King of the King” tak ada yang larang. Fantasi seperti itu, tak perlu disalahkan. Dalam persepsi pemikiran “out of the box”, mimpi jadi presiden bagi Ahmad Sahroni menjadi penyaluran emosi yang tak terkendali. Bermimpi kok dilarang.

Mimpi dan Bermain dalam Kebudayaan

Memaknai bermain, dalam konteks ekspresi kebudayaan, di Surabaya pada 1994 muncul gerakan Kelompok Seni Rupa Bermain dimotori Saiful Hadjar, didukung sejumlah aktivis muda: Arif Bagus Prasetyo, Riadi Ngasiran dan Leres Budi Santoso. Mereka adalah berhimpun di bawah Bengkel Muda Surabaya, beraktivitas di Balai Pemuda Surabaya.

Dalam aktivitasnya, mengadakan pameran seni rupa, penerbitan buku puisi, pementasan sastra. Aktivisme anak-anak muda, ketika itu, berinteraksi dengan aktivis sosial lainnya, seperti Wiji Thukul, Moelyono, dan seniman yang mempunyai keterlibatan sosial dengan karyanya.

Mereka merujuk pada Johan Huizinga dalam bukunya “Homo Ludens”. Dengan aktivitas kebudayaan, melalui ekspresi kesenian, memaknai hakikat bermain. Mereka menyadari, bermain merupakan kegiatan yang dilakukan secara bebas dan sukarela. Namun kebebasan itu tak berlaku bagi anak-anak dan hewan. Mereka memaknai bermain dan harus bermain karena dorongan dari dalam atau naluri. Bermain berguna untuk merangsang perkembangan fisik dan mental.

Johan Huizinga mengingatkan, bermain bukanlah kehidupan ”biasa” atau yang ”nyata” Karena itu, jika kita amati secara seksama perilaku anak selama bermain, mereka berbuat berpura-pura atau tak sungguhan. Misalnya kursi diperlakukan seolah-olah mobil atau boneka seolah-olah manusia yang bisa berinteraksi. Tetapi bermain dalam suatu permainan betapa dilakukan dengan semangat tinggi yang dilakukan dengan sungguh-sungguh. Misalnya bermain permainan anak.

Kita pun tahu, bermain berbeda dengan kehidupan sehari-hari terutama dalam tempat dan waktu. Bermain selalu ada saat dimulai dan saat berakhir yang dilakukan di tempat tertentu. Maka bermain membutuhkan peraturan atau kesepakatan bersama.

Yang mengesankan, Johan Huizinga mengingatkan kita, bahwa bermain memiliki tujuan yang terdapat dalam suatu kegiatan dan tidak terkait dengan sesuatu hasil atau keuntungan material. Ciri inilah yang membedakan bermain dengan bekerja, meskipun pada akhirnya batas antara kedua hal itu begitu tipis. Akhirnya dapat disimpulkan: bermain merupakan suatu kegiatan yang dilakukan secara sadar, sukarela tanpa paksaan dan tidak sungguhan dalam batas waktu, tempat, dan peraturan.

Akan halnya “Ahmad Sahroni Mimpi Jadi Presiden”, ia tidak sedang meraih cita-cita sesungguhnya. Ia pun akan mengukur dirinya, betapa meraih kedudukan di kursi orang nomor wahid di Indonesia, tidaklah mudah. Butuh biaya gede, butuh dukungan lebih, butuh kemampuan yang memadai. Di sini, saya kira, ia tengah menjajaki eksistensinya.

Lebih dari itu, Ahmad Sahroni yang mengaku mendirikan billboard atas insiatif dari teman-temannya di pelbagai daerah, ia berhasil menyita perhatian kita. Apalagi, ia seorang anak muda dan pengusaha, hanya ingin ingin memberi motivasi.

Keberhasilan Ahmad Sahroni dengan “cita-cita”-nya itu, popularitasnya pelahan naik. Berani bermimpi, memang tidak menjadikan seseorang berpolitik. Tapi, justru politik di balik billboard itulah yang hendak dituju. Ia ingin publik tahu akan dirinya: seorang yang dulu miskin gembel, pun berhak bermimpi.

Kini, ia dikenal sebagai pengusaha sukses — dikenal dengan Crazy Rich Tanjung Priok dan juga presiden mobil mobil supercar. Ia ketua Ferrari Owner’s Club Indonesia (FOCI). Pencapaian berhasil diraihnya merupakan buah dari kemauannya mewujudkan mimpi saat masih berprofesi sebagai sopir. Ia pun mengaku pernah menjadi tukang semir sepatu. Kini, pada posisi sukses, ia mimpin jadi presiden.

Di depan publik, Ahmad Sahroni tak menutupi keberhasilannya. Harta kekayaannya mencapai Rp200 miliar. Meski tak disebutkan jelas, berdasarkan penelusuran website KPK, total kekayaannya sebesar Rp. 208.076.995.945. Yang pasti tak sampai Rp1 triliun-lah, akunya.

Ahmad Sahroni mimpi jadi presiden. Kita pun tak hendak menghalangi. Mewujudkan mimpi itu ia harus melewati berliku jalan, berliku dukungan. Meski ia bendahara Partai Nasdem, ia tak mudah menggunakan roda partainya untuk berjalan. Sederet dukungan lain, dari partai politik yang akan mengusungnya, juga dukungan nyata dari sebagian besar rakyat saat perayaan demokrasi.

Akankah ia muncul pada 2024? Sederet nama telah disebut-sebut: Ganjar Pranowo, Khofifah Indar Parawansa, Ridwan Kamil, Anies Baswedan. Mereka kebetulan, saat ini, pada posisi sama: gubernur. Bila benar mereka tampil pada 2024, kita tak menunggu munculnya nama Ahmad Sahroni. Adakah ia sekadar melewati billboard?

Di arena demokrasi di Indonesia saat ini, kewibawaan tidaklah syarat utama. Yang utama adalah dana dan dukungan pendanaan. Selebihnya, adalah lobi-lobi, dan tebar pesona guna meraih prosentasi 50 persen lebih dukungan dari rakyat yang berhak memberikan suara saat Pemilu Presiden.

Karena mengabaikan kewibawaan itulah, agaknya yang menjadi masalah dalam kepemimpinan nasional di negeri ini. Suara kritik dan mencaci-maki tak bisa dibedakan. Bila pun terasa tabu bila mencaci-maki ketidakbecusan ketua RT seraya keliling kampung, toh faktnya sosok presiden Indonesia bisa dicaci-maki dengan mudahnya di depan publik. Di media-media sosial, yang begitu mudah beredar tanpa kendali, tanpa sensor atau seleksi bagi kebenaran informasi.

Di masa depan, kita mengidamkan lahirnya seorang pemimpin dengan karisma dan kewibawaan. Bukankah dalam konsep masyarakat dan leluhur kita, karisma dan wibawa, juga kemampuan dan kecerdasan, mengayomi seluruh elemen masyarakat, dibutuhkan dalam memenuhi syarat kepemimpinan.

Negarawan adalah figur yang memenuhi harapan kita di masa depan. Kepemimpinan seseorang yang berhasil di kursi presiden, bukanlah milik sekelompok golongan. Bukan milik golongan Marhaen, misalnya. Ia harus melebur menjadi milik semua golongan.

Faktor kenegarawanan menjadi problem kita bersama. Akankah kita bermain-main dalam mencari pemimpin di masa mendatang? (*)

*) Penulis adalah salah satu pengisi tetap Selamat Pagi Nusaku, rubrik khusus berisi tulisan Dewan Redaksi Nusadaily.com.