“Menjemput Bidadari” di Mabes Polri

  • Whatsapp
mabes polri
Ilustrasi. (ist)
banner 468x60

Oleh: Awan Abdullah

Belum genap seminggu terjadi bom bunuh diri, negeri ini seolah dihujani teror. Mengulang tahun sebelumnya, teror terjadi beberapa hari menjelang Ramadhan.

Di Makassar pada hari Minggu ketika umat kristiani sedang melakukan ibadah di Gereja Katedral, teroris beraksi bikin kejutan. Menyusul para Rabu 31 Maret 2021, penyerangan terjadi di Jakarta. Seorang tak dikenal melakukan penyerangan di Mabes Polri, Jalan Trunojoyo, Jakarta Selatan, sekitar pukul 16.00 WIB. Zakiah Aini (ZA), orang tak dikenal itu, masuk ke Mabes Polri, sempat menodongkan senjata kepada aparat yang bertugas dan kemudian dilumpuhkan dengan timah panas aparat, karena mengancam keselamatan.

Baca Juga

Sebelum melakukan aksinya itu, Zakiah Aini sempat menuliskan surat wasiat yang diberikannya kepada keluarga. Isi surat wasiat Zakiah Aini memiliki kesamaan dengan pesan yang ditulis Lukman Alfariz, pelaku bom bunuh diri bersama sang istri di Gereja Hati Yesus Yang Mahakudus atau Gereja Katedral Makassar, pada Minggu 28 Maret 2021. Aksi teror ini, turut menyebabkan puluhan orang luka-luka akibat serpihan di wajah, leher, perut, tangan, kaki.

Ya, ada kesamaan isi surat wasiat dua terduga teroris itu. Di antaranya, pertama, meminta maaf kepada keluarga atas aksi yang akan dilakukan karena menganggap semua demi jihad. Kedua, meminta keluarga berhenti berhubungan dengan bank karena menurutnya riba tidak disukai Allah. Ketiga, pelaku mengingatkan keluarga agar rajin salat dan beribadah.

Soal teror terakhir, benarkah aparat lengah sehingga seorang tak dikenal bisa masuk ke institusi negara? Atau teroris sengaja meledek simbol-simbol kewibawaan negara, untuk meloloskan aksinya?

Bisa dimaklumi bila kemudian Presiden Joko Widodo memerintahkan Kapolri Jenderal (Pol) Listyo Sigit Prabowo, Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahyanto, dan juga Kepala BIN Jenderal Budi Gunawan untuk semakin meningkatkan kewaspadaan. Jokowi bahkan kembali menegaskan, tidak ada tempat bagi teroris di tanah air.

Ada dugaan, teroris yang melakukan serangan di Mabes Polri berideologi radikal ISIS, terbukti dari postingan di media sosial yang bersangkutan. Tersangka adalah mantan salah satu mahasiswa di kampus dan drop-out pada semester lima.

Aksi teror ini segera mencuat ke belahan lain di dunia. Dewan Keamanan PBB turut menyampaikan bela sungkawa kepada Pemerintah Indonesia dan para korban bom di Gereja Katedral Makassar, serta menyerukan agar seluruh pelaku yang terlibat dapat ditindak tegas sesuai hukum yang berlaku.

Kita mengingatkan, segala bentuk tindakan terorisme adalah kriminal dan tidak dapat dibenarkan, terlepas dari apapun motivasi mereka. Perhatian dunia internasional terhadap aksi teror di Indonesia menunjukkan bahwa tindakan terorisme merupakan ancaman serius bagi perdamaian dan keamanan dunia, sehingga kerja sama antarnegara untuk melawan hal tersebut mutlak diperlukan.

Indonesia akan terus bekerja sama dengan masyarakat internasional untuk mengatasi ancaman terorisme secara komprehensif baik melalui penegakan hukum yang tegas maupun mempromosikan nilai toleransi dan moderasi.

Berdasarkan indikasi yang berhasil dikumpulkan Dr KH As’ad Said Ali, pengamat sosial-pilitik, pelakunya mengarah ke ISIS, dalam hal ini kemungkinan Mujahiddin Indonesia Timur (MIT). Kemungkinan peledakan itu terkait dengan aksi pembakaran dan pembunuhan terhadap empat aktivis gereja di Poso, Sulawesi Tengah yang dilakukan oleh MIT pada 28 November 2020. Aksi itu dilatarbelakangi dendam selama konflik Poso beberapa tahun lalu. Umumnya mereka kehilangan anggota keluarga dan merasa diperlakukan tidak adil, terutama ketika berada dalam tahanan.

Aksi mereka itu mendapat apresiasi langsung dari pimpinan ISIS dalam situs mereka yang didahului dengan mengumandangkan nasid atau lagu lagu perjuangan. Suatu cara atau metode yang digunakan oleh pimpinan ISIS untuk membina semangat juang dan mengendalikan pendukung pendukungnya dimanapun mereka berada.

Dalam perkembangannya kemudian pada 12 desember 2020 muncul rilis resmi An Naba, ISIS mengeluarkan suatu perintah yg berbunyi “couldly kill them with hate and rage“ (“bunuh mereka dengan kebencian dan penuh amarah”). Bisa juga dikaitkan dengan penangkapan 19 orang yang diduga teroris (Anggauta JAD) di Makasar baru-baru ini, sebagai bagian dari cassus belly yang memperkuat motivasi.

Kalimat ISIS itu bisa dimaknai sebagai perintah dari pimpinan ISIS atas nama Abu Abdullah Asy Syami. Pelaku terorisme, bukan kebetulan, memilih momen hari minggu kebaktian yang masih dalam rangkaian hari Paskah (Kebangkitan). Tepatnya pada 28 Maret 2021 dilakukan ritual Palma sesuai dengan keyakinan umat Katholik.

Perempuan Teroris Ketemu Bidadari?

Terkait aksi teror yang juga melibatkan perempuan sebagai pelakunya, Direktur Deradikalisasi BNPT, Irfan Idris ikut angkat bicara. Soal anggapan adanya bidadari yang menunggu di surga apabila seseorang mati syahid, yang kerap disebut menjadi iming-iming bagi para teroris.

Penyerangan di rumah ibadah, kantor kepolisian, hanya dijadikan alasan agar cepat meninggal, syahid, masuk surga ketemu bidadari. Tentu saja, hal itu terjadi karena pemahaman agama yang tak tepat.

Kita mengingatkan, aksi bom bunuh diri dirancang untuk menakut-nakuti masyarakat secara luas. Tapi, memang ada segolongan orang yang mengaitkan kasus teror dengan sidang pengadilan terhadap kasus Mohamad Rizieq Syihab. Alasannya, dengan teror itu, secara tak langsung mengancam hakim-hakim yang sedang menyidangkan berbagai kasus yang berkaitan denga protokol kesehatan. Apalagi, masih ada kasus-kasus hukum lain-nya yang harus dihadapai oleh Rizieq Syihab, di antaranya, adalah dugaan “Chating pornografi”.

Memang, bila dicermati, di antara kelebihan dari Rizieq Syihab adalah kemampuan dia dalam mencuci otak pengikutnya yang kemudian bersedia melakukan apa saja demi kepentingan pribadi sang tokoh. Salah satu adalah anak-anak muda yang dijadikan pengawalnya, yang tewas karena bentrok bersenjata dengan polisi ketika mengawal Rizieq Syihab.

Tentu kita tak mengarahkan tuduhan itu pada seorang semata. Namun, patut diingatkan kepada para orang tua untuk mempertimbangkan kembali kegiatan anak-anak nya yang bersentuhan dengan aktivitas organisasi yang orientasi kemasyarakatan tidak menunjukkan pada sikap toleran dan moderat. Kita berharap, jangan sampai terulang kembali peristiwa bom bunuh diri yang diduga berlatar belakang pencucian otak tersebut.

Akhirnya, menyikapi perkembangan kasus teror di Tanah Air, diperlukan pemikiran jernih, kepala dingin dan cerdas. As’ad Said Ali memberikan penawaran analisis. Pertama: Peran propaganda jihad global sangat berpengaruh terhadap perkembangan kelompok radikal dan ekstrem di Indonesia khususnya kelompok pro ISIS.

Kedua: Bukan mustahil akan ada kelompok ekstrem baru sejalan meningkatnya propaganda terorisme global dan kondisi politik internal, sehingga perlu pemetaan teror yang tepat.

Ketiga: Jangan ada kebijakan yang tidak cerdas, menggolongkan ormas Islam yang dianggap radikal ke dalam Kelompok Teroris. Perlu dicermati, radikal dalam “retorika“ atau “radikal (ekstrem) dalam ideologi (Jihadi) dan dalam aksi (istishadah/ bom bunuh diri).

Kita berharap, aparat penegak hukum lebih cermat dan sigap dalam bertugas. Sehingga, tidak terjadi “pelecehan” dilakukan para pelaku teror. Wibawa penegak hukum dan aparat negara harus ditunjukkan sehingga para teroris melakukan aksinya semata-mata karena negara tak mampu bertindak adil terhadap warganya.

Kita pun bertanya-tanya, kenapa seorang tak dikenal bisa masuk ke area Mabes Polri? Adakah aparat sedaang teledor, ataukah kemampuan lebih dari teroris sehingga leluasa masuk ke institusi negara?

Faktanya, memang teroris berhasil leluasa “menjemput bidadari” di Mabes Polri. (*)