Lelucon di Tengah Masyarakat Gaduh

  • Whatsapp
Ilustrasi: Film Joker.
banner 468x60

Oleh: Awan Abdullah

Kegaduhan di tengah masyarakat menghasilkan ketegangan. Ketegangan sosial dipicu pelbagai persoalan yang belum selesai. Juga persoalan ketidakadilan yang terus-menerus diperlihatkan di pelbagai sisi kehidupan.

Kegaduhan masyarakat semakin menemukan kesempurnaannya ketika media sosial benar-benar dimanfaatkan untuk pelbagai kepentingan. Sehingga, menjadi alat informasi paling efektif untuk mengantarkan berita bohong alias kabar burung yang belum teruji kebenarannya. Demikian pula, ketika pers dikuasai orang-orang yang tak memahami secara benar ilmu komunikasi dan tata nilai jurnalistik yang tepat. Masyarakat awam pun tak bisa membedakan berita dan kabar burung.

Baca Juga

Di tengah kegaduhan masyarakat itu, lelucon menjadi penunjang untuk meleraikan ketegangan. Di sinilah, perilaku para pejabat, para wakil rakyat, dan mereka yang tengah berada di tampuk kekuasaan, menjadi sasaran lelucon.

Alkisah anggota DPR-RI yang sedang studi banding soal etika ke Yunani, bertemu dengan pakar etika di negeri para filsuf tersebut. “Bisakah Anda memberitahu kami, salah satu contoh bentuk pelanggaran etika?” tanya anggota DPR-RI.

Jawab pakar Yunani dengan prihatin: “Bapak yang terhormat, kunjungan studi banding Anda ke Yunani ini adalah contoh paling jelas pelanggaran etika anggota parlemen!”

Ini tentu saja berbeda dengan agenda Kementerian Kelautan dan Perikanan, yang kebetulan sang menteri Edhy Prabowo telah ditangkap Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Menyoroti masalah-masalah perilaku keserakahan pada penggede negara, lelocon pun terus berkembang di masyarakat.

Suatu hari, ada kunjungan Menteri Perairan Negeri Antah Berantah ke Honolulu, Hawai, AS. Pengamat politik Indonesia sedang bingung. Biasanya rakyat sangat keras mengecam studi banding anggota kabinet yang pembantu presiden itu. Dianggap cuma plesir dengan anggaran dinas.

Yang dijadwalkan sebenarnya ke Honolulu, ke Hawai. Tetapi, khusus justru rakyat memberikan suara agar studi banding dilakukan ke Jepang. Dan ternyata benar, sebelum ke Tanah Air si pejabat itu mampir terlebih dahulu di Negeri Matahari Terbit. “Kok rakyat justru ramai-ramai mendukung, agar studi banding itu segera dilaksanakan dan hasilnya cepat diaplikasikan pada seluruh anggota parlemen,” gumam sang pengamat, bingung.

Merasa penasaran, pengamat politik itu pun bertanya kepada seorang pedagang asongan, yang mangkal di depan gerbang gedung Kementerian Perairan: “Mengapa Bapak mendukung studi banding Pak Menteri ke Jepang?”

“Ohh, itu….,” sahut si bapak. “Saya mendukung penuh, sebab pak Menteri Perairan bersama Rombongnya akan belajar teknik harakiri massal di Jepang. Semoga segera diterapkan untuk seluruh anggota pak Menteri itu…”

Selalu ada humor dalam ruang sosial yang sesak. Lelucon ataupun humor berfungsi untuk fentilasi psikis agar suasana jadi segar dan menyegarkan. KH Abdurrahman Wahid pernah menggunakan lelucon untuk menulis kritik-kritiknya. Ia menyengat, tapi tidak menyakitkan. Yang dikritik pun akhirnya menyadari secara pelahan.

Lelucon menjadi perhatian menarik dalam studi antropologi. Masyarakat tak mau terbelenggu oleh kegaduhan. Kegaduhan yang cenderung membikin keawaman menjadi sasaran. Sedang lelucon akan selalu mencairkan keadaan, menghidupkan suasana, dan mengkrabkan suatu pertemuan.

Ini ada lelucon, yang selaras dengan kondisi aktual kita. Tentang lobster dan kaca pandang Abu Nawas. Si penyair cerdas, namun terkenal lucu. Segala lelucon di masa lalu selalu dinisbatkan dengan eksistensi Abu Nawas. Berikut contohnya:

Langit sudah gelap ketika Abu Nuwas tiba di rumahnya. Dia baru pulang dari Byzantium. Tapi, pagi-pagi sekali pujangga Baghdad itu sudah dijemput oleh pengawal istana untuk menghadap Khalifah Harun Al-Rasyid.

‘’Khalifah mengajak Anda makan pagi. Paduka mau bertanya tentang lobster dan lonte yang sedang dipergunjingkan penduduk Baghdad,’’ jelas sang pengwal saat Abu Nuwas bertanya mengapa pagi-pagi dia sudah dijemput ke istana.

Abu Nuwas tentu saja kaget. Ada apa dengan lobster? Ada apa dengan lonte?

Penyair terkenal ini benar-benar tidak tahu mengapa lobster dan lonte mengganggu pikiran Sang Khalifah. Maklum, dia baru pulang dari Byzantium untuk tugas negara. Karena itu dia belum beradaptasi dengan berita terbaru yang berkembang di Baghdad. Sepanjang jalan dia menggali informasi dari sang pengawal tapi dia juga tak tahu banyak tentang lobster dan lonte.

Di istana, Harun Al-Rasyid seperti tak sabar menanti kedatangan Abu Nuwas. Pujangga ini ibarat ‘’perpustakaan berjalan’’ buat Sang Khalifah. Makanya, khalifah tersenyum lebar ketika melihat Abu Nuwas muncul di gerbang istana.

Setelah sedikit membahas Byzntium, khalifah mulai bertanya tentang lonte dan lobster, dua makhluk Tuhan yang dalam sepekan ini meramaikan percakapan penduduk Baghdad.

‘’Wahai Abu Nuwas, apa yang Anda ketahui tentang lobster?’’ tanya khalifah semangat.

‘’Paduka yang mulia, saya baru pulang dari Byzantium. Terus terang saya tak paham, mengapa paduka tertarik membahas lobster?’’

‘’Orang-orang di luar istana pada ribut membahas lobster dalam sepekan ini. Saya mau tahu banyak tentang lobster,’’ jawab khalifah singkat.

‘’Oh, saya kira paduka ingin protes pada lobster. Tidak seperti perempuan Baghdad, lobster betina menganut poliandri. Lobster betina tidak setia pada suami karena mereka bisa main gila dengan banyak lobster jantan kapan saja,’’ jelas Abu Nuwas dengan cepat.

Wow, khalifah kaget mendengar penjelasan Abu Nuwas. ‘’Gila juga ya lobster betina,’’ gumamnya tanpa sadar.

‘’Ya benar. Lobster betina agak gila, wahai khalifah. Bahkan dalam urusan seks, lobster betina sangat agresif. Mereka duluan yang menggoda lobster jantan. Inilah beda perempuan di negeri kita dengan lobster betina,’’ jelas Abu Nuwas.

Khalifah makin tertarik mendengar penjelasan Abu Nuwas tentang lobster. Terutama, mengapa lobster betina lebih agresif dalam urusan seks. Kata Abu Nuwas, sebenarnya itu proses alami belaka. Karena lobster bersifat kanibal. Setiap lobster akan menerkam lobster lain untuk ditelan. Tapi, daripada ditelan lobster jantan, lobster betina mengeluarkan feromon yang membangkitkan birahi lobster jantan. Akibat feromon itulah setiap lobster jantan lebih memilih mengawini lobster betina ketimbang menelannya.

‘’Tapi baginda jangan risau. Tidak setiap kali berhubungan seks lobster-lobster betina itu hamil. Mereka butuh enam sampai sembilan bulan untuk menetaskan telur. Makanya lobster mahal karena lambat berkembang biak. Karena itu bayi lobster harus kita lindungi, tidak boleh kita jual ke negeri orang, agar lobster hanya hidup di laut kita. Dengan begitu harganya terus mahal. Jika ada yang menjual bayi-bayi lobster keluar negeri, mereka pengkhianat bangsa, paduka,’’ jelas Abu Nuwas.

Khalifah Harun Al-Rasyid mengangguk-anggukan kepala.

‘’Baik, saya paham. Sekarang, apa itu lonte?’’

‘’Hmmhhhh …, lonte sebenarnya mantra yang biasa dibaca oleh para tokoh politik di Babilonia, paduka. Mantra ini sangat dirahasiakan. Dengan membaca mantra ini, seorang politisi akan disegani banyak orang, kata-katanya jadi panutan, orasinya memukau. Tapi, mantra ini punya pantangan tak boleh dibaca keras-keras, apalagi di depan banyak orang!’’

‘’Apa akibatnya jika mantra ini dibaca keras-keras di depan banyak orang?’’ sergah khalifah, penasaran.

‘’Pemilik mantra itu jadi lobster, paduka!’’

Begitulah, lelucon akan terus diproduksi di tengah masyarakat. Tak peduli pada kondisi tertentu. Namun, bila ada ketegangan yang semakin menjadi-jadi justru lelucon akan hadir lebih marak, hadir lebih sebagai jalan membangun intimitas dalam pergaulan sosial.

“Mati Ketawa Cara Rusia” dan “Mati Ketawa Daripada Soeharto” merupakan contoh di masa lalu akan humor dan lelucon yang hadir di tengah ketegangan. Ketegangan itu lebih bermakna ketidakadilan yang tercabik-cabik, keditatoran yang merajela, dan sederet perbuatan manusia yang cenderung menguasai orang lain.

Karena itu, mari memproduksi lelucon. Lelucon tentang kelucuan kita sendiri. Betapa pun adalah suatu tantangan agar kita kembali memahami nilai kemanusian kita, dengan menertawakan diri sendiri. Ya, menertawakan diri sendiri yang kini sulit dilakukan. (*)

*) Penulis adalah salah satu pengisi tetap Selamat Pagi Nusaku, rubrik khusus berisi tulisan Dewan Redaksi Nusadaily.com.