Ketika Petahana Berguguran

  • Whatsapp
Ilustrasi.
banner 468x60

Oleh: Gatot Susanto

Sejumlah petahana berguguran di Pilkada 2020. Setidaknya menurut penghitungan cepat atau quick count. Sebut contoh Bupati Jember Faida, Bupati Blitar Rijanto, Bupati Mojokerto Pungkasiadi, dan wakil Bupati Lamongan Kartika Hidayati. Mereka hampir dipastikan kalah di Pilkada 2020. Namun, itu masih sementara. Kemenangan yang sesungguhnya masih menungu hasil hitungan manual KPU. Dan, tentu saja, Tuhan yang Maha Esa.

Maka, kalian para petahana, sekarang lebih banyaklah berdoa kepada Tuhan yang Maha Esa, sebab di tangan-Nya-lah tergenggang kekuasaan yang sesungguhnya. “Wa huwa alaa kulli syaein qadiir” (Dia menguasasi segalanya). 

Baca Juga

“Wahai Engkau yang Memiliki kekuasaan. Engkau memberikan kekuasaan itu kepada siapa yang Engkau kehendaki”. (Al-Quran). 

Atau pergi sungkem lagi ke ayah ibu. Bahkan lebih banyak lagi mengunjungi anak yatim dan fakir miskin. Kalau bisa semakin banyak ketimbang saat kampanye lalu. Jangan malah pergi ke dukun. Jangan malah mendesain konspirasi dengan penyelenggara Pemilu atau pihak-pihak yang dianggap bisa mengubah perolehan suara. Jangan. Itu tidak baik.

Dan, begitulah. Politik itu terkadang “beyond expectation” alias di luar dugaan. Kalkulasi politik biasanya petahana menang sebab mereka sepanjang lima tahun sudah melakukan kampanye, tapi politik adalah seni kemungkinan. Banyak kejutan.

Siapa sangka Bupati Blitar Rijanto kalah. Padahal dia penguasa di lumbung suara partai yang mengusungnya. Begitu pula para calon bupati dan calon wakil bupati yang diusung partai penguasa di daerah tersebut. Sungguh sangat aneh bila kalah di pilkada.

Bahkan, dalam Pilwalkot Makassar pada 27 Juni 2018 lalu yang menang justru kotak kosong. Calon tunggal Munafri Arifuddin dan Andi Rachmatika Dewi (Appi-Cicu) saat itu kalah. Semua orang terngangga.

Petahana atau calon yang menghadapi kotak kosong pasti “gelo getun”. Kecewa berat. Pasalnya, seperti pemain sepak bola, saat itu bola sudah di depan mulut gawang, tapi gagal gol. Seperti pemain bola menendang bola saat adu penalti tapi gagal. Kesempatan emas yang gagal dikonversi jadi kemenangan.

Namun kecewa tak ada gunanya. Bukankah para petahana juga ikrar siap kalah siap menang? Artinya, kalian jangan hanya siap menang, tapi juga harus legawa bila akhirnya kalah. Harus introspeksi diri mengapa harus mengalami kekalahan. Selain faktor langit, tentu ada faktor realitas di bumi yang terjadi pada petahana. Artinya, kekalahan pilkada adalah refleksi dari kinerja yang bersangkutan saat menjabat sebagai bupati/wakil bupati atau walikota/wakil walikota.

Hal itu bisa dibandingkan dengan petahana yang menang pilkada. Bisa dipastikan petahana yang menang pilkada merupakan calon yang bukan hanya jago dalam permainan politik, tapi dia adalah pemimpin yang dicintai rakyatnya. Pemimpin yang bekerja bukan untuk mengeruk keuntungan pribadi, keluarga, atau kelompoknya semata. Pemimpin yang bekerja bukan untuk kepentingan maju lagi dalam pilkada selanjutnya sehingga kerjanya dari hari ke hari hanya pencitraan saja, tapi memang dia pejabat yan ikhlas mengabdi melayani rakyatnya.

Salah satu yang bisa diambil contoh adalah Calon Bupati Trenggalek Mochammad Nur Arifin. Gus Ipin–panggilan akrab beliau– dalam hitung cepat pilkada kali ini menang. Bahkan, kemenangannya dalam Pilkada Serentak 2020 dinilai mematahkan sejarah, bahwa petahana tidak pernah menang di Pilkada Trenggalek.

Artinya, di Trenggalek dulu ada kebiasaan sebaliknya dengan hal-hal umum dalam politik, bahwa petahanan selalu menang sebab telah melakukan investasi politik selama lima tahun menjabat sebagai kepala daerah. Ingat, dalam politik banyak berkembang mitos yang diperdagangkan untuk keuntungan para saudagar politik.

Maka jangan terkejut, apalagi panik, karena sebuah realita yang tidak disangka akan selalu terjadi dalam permainan politik. Bahkan, mereka yang disebut menang bisa juga kalah saat hasil perhitungan manual KPU diumumkan.

Karena itu jangan“over joyed” (terlalu bergembira) apalagi ada rasa arogansi. Jangan konvoi. Jangan cukur gundul sebab kalau ternyata kalah di versi KPU bukan hanya anda yang kecewa, rambut anda yang telanjur dicukur habis juga akan kecewa berat.

Yang pasti, Anda sudah tersesat dalam penilaian seolah kemenangan itu adalah karena superman-superwoman tim sukses yang hebat. Padahal kemenangan sejati hanya tunggal. Hanya di tangan Dia yang menguasai segalanya.

Bukan hanya calon pilkada. Para pendukungnya juga pasti menggerutu bila jagonya kalah. Mereka menganggap jagonya terbaik dan rivalnya jelek, dholim, otoriter, tidak pro-rakyat. Tapi lihat realitasnya, dia menang dan jago anda kalah. Yang jelas, kalah menang ada hikmahnya.

Pada titik kesadaran ini yang jadi kuncinya. Siapa tahu bila anda ngotot ingin menang dan menjadi bupati/walikota/gubernur, ternyata terlena. Ujung-ujungnya baru satu tahun menjabat, Anda tergelincir dan masuk bui karena ditangkap KPK? Nah! (*)

*) Penulis adalah salah satu pengisi tetap Selamat Pagi Nusaku, rubrik khusus berisi tulisan Dewan Redaksi Nusadaily.com.