Penolakan Review RTRW 2013-2033 Sumenep Kian Mencuat

  • Whatsapp
Peta Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) 2013-2033
banner 468x60

NUSADAILY.COM – SUMENEP – Gejolak penolakan draf eksploitasi pertambangan Fosfat dalam review Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) 2013-2033 di Kabupaten Sumenep, Madura, Jawa Timur kian mencuat dikalangan masyarakat utamanya dikalangan pemuda.

Salah satunya adalah pemuda Kecamatan Ganding yang tergabung dalam Solidaritas Sadar Lingkungan Ganding (SOLID).

SOLID nantinya akan menggelar kegiatan Rokat Gunung, Konser dan Orasi Lingkungan. Kegiatan itu akan di laksanakan pada Sabtu, 30 Januari 2021 pukul 19.00 WIB bertempat di Pendopo Kecamatan Ganding.

BACA JUGA:

Tujuan dari kegiatan tersebut, sebagai wadah sosialisasi dan penyadaran. Tentang dampak pertambangan fosfat terhadap lingkungan dalam jangka panjang. Serta bentuk ikhtiar pemuda dan masyarakat, untuk mengusir para cukong dan dedemit berdasi yang akan merusak lingkungan sekitar.

Rokat Gunung sendiri rencananya akan dipimpin langsung oleh KH. Musyfiq Karay. Sementara untuk Konser dan Orasi Lingkungan akan diisi oleh berbagai pihak. Mulai wakil rakyat di DPRD Sumenep, seperti Irwan Hayat, Ahmad Jasuli, Naufil, Ahmad Suwaifi, serta tokoh masyarakat Kiai Faizi El-Kaelan.

Koordinator Solid, Moh. Ruli mengatakan, rangkaian kegiatan menolak beroperasinya tambang fosfat itu sebagai respon dari masyarakat Kecamatan Ganding terhadap upaya Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sumenep yang akan melegalkan pertambangan fosfat dengan mereview RTRW.

“Beberapa desa di Ganding masuk dalam objek pertambangan fosfat, seperti Gadu Timur misalnya. Makanya kami tidak ingin desa kami yang hijau, banyak pepohonan, sejuk subur dan banyak sumber mata air dirusak menjadi desa yang kering, berlubang dan menakutkan jika penambangan itu terjadi. Desa kami hanya akan menjadi desa yang akan dihuni oleh dedemit,” ujarnya, Jum’at 29 Januari 2021.

Jika pertambangan fosfat dipaksakan, lanjut Ruli, tidak hanya kerusakan lingkungan yang akan terjadi, namun juga berpotensi mendatangkan bencana. Mulai dari kekeringan, banjir, longsor dan sebagainya.

“Dampaknya tentu pada petani. Mereka akan kehilangan penghasilan. Bagaimana bisa petani bercocok tanam jika banyak tanah dan lahan yang di keruk. Fosfatnya diambil dan tanahnya menjadi tidak subur lagi. Sumber air akan kering, bagaimana nasib anak cucu kita 5-10 tahun kedepan,” tegasnya.

Selain pemuda Ganding, muncul juga penolakan dari pemuda Kecamatan Lenteng yang tergabung Komunitas Pemuda Kecamatan Lenteng tolak tambang fosfat.

Komunitas ini, memanfaatkan teknologi berupa media sosial WhatsApp Group dalam melakukan edukasi tentang bahaya fosfat terhadap lingkungan jangka panjang kepada masyarakat secara luas.

“Group Whatshap ini merupakan tempat silaturrahmi kami dan beberapa tokoh masyarakat, dan untuk mengedukasi kepada masyarakat tentang bahayanya penambangan fosfat,” kata Inisiator Komunitas Pemuda Kecamatan Lenteng tolak tambang fosfat, Ibnu Hajar.

Pihaknya mengaku, telah melakukan konsolidasi secara masif untuk membangun kekuatan dengan spirit menolak rencana Pemda Sumenep dalam melakukan eksplorasi tambang fosfat dengan skala besar.

“Kita dengan beberapa pemuda di Kecamatan Lenteng menyatukan pemikiran untuk melakukan penolakan tambang fosfat dan perencanaan penambahan tambang fosfat, yang ada di Kabupaten Sumenep utamanya di Kecamatan Lenteng. Kasian terhadap petani dan rawan bencaja banjir,” urainya.

Langkah tersebut, lanjut Hajar, sebagai upaya memaksimalkan peran pemuda didalam menjaga keberlangsungan lingkungan hidup. Sebab, apabila tambang fosfat ini dilakukan sangatlah berpotensi terhadap kerusakan lingkungan.

“Perampasan tanah dan berdampak terhadap penurun nya kesuburan tanah, tentu hal itu akan mengakibatkan bencana alam serta kemerosotan produksi pertanian,” pungkasnya. (nam)