Pengakuan Imron: Syok Dikabari Abah Kritis Lalu Buru-Buru, Saya Akui Khilaf Sampai Emosi

  • Whatsapp
imron jember
Imron Baihaqi merawat ayahnya yang sedang sakit. (nusadaily.com/ istimewa)
banner 468x60

NUSADAILY.COM – JEMBER – Legislator DPRD Jember dari PPP, Imron Baihaqi akhirnya buka suara mengenai insiden keributan dengan Dodik Wahyu Irianto, Ketua rukun tetangga (RT) Perumahan Bernady Land Cluster Gardenia, di Lingkungan Puring, Kelurahan Slawu, Kecamatan Patrang.

Rabu, 3 Pebruari 2021 kepada nusadaily.com Imron bersedia bercerita mengenai kronologis peristiwa yang akhirnya berujung dirinya dilaporkan ke polisi oleh Dodik dengan perkara dugaan tindak pidana penganiayaan.

Baca Juga

BACA JUGA: Ada Legislator Jember yang Bogem Warga, Psikiater Jelaskan Tentang Lepas Kendali

Bermula dari keinginan Imron mendatangi seorang pengacara yang tinggal di perumahan tersebut untuk berkonsultasi tentang suatu masalah. Ia tiba disana selepas waktu sholat Magrib pada Minggu, 31 Januari 2021.

“Saya lupa jamnya, tapi setelah Magrib mengunjungi teman LBH (Lembaga Bantuan Hukum) untuk minta tolong analisa ada sesuatu yang butuh pendapat darinya,” tutur Imron tanpa menyebut identitas temannya maupun persoalan yang dikonsultasikan.

Saat baru sampai depan rumah temannya itu, Imron mendapat kabar bahwa ayahnya yang sudah terbaring sakit selama dua pekan tiba-tiba kondisinya bertambah kritis. Seketika itu juga, dia membatalkan agenda konsultasi dan ingin sesegera mungkin pulang ke rumahnya di Desa Glgahwero, Kecamatan Kalisat.

“Kabar dari adik saya lewat group keluarga menyampaikan kalau abah darahnya tinggal 67. Saya kalut dan harus cepat-cepat balik ke rumah. Lebih khawatir abah, sehingga tidak jadi ketemu dengan teman saya,” ungkap anggota Komisi C DPRD Jember itu.

Meski di dalam kawasan perumahan, Imron mengakui telah memacu mobil Pajero yang dikendarainya dengan kecepatan sedikit lebih kencang dari biasanya. Kebetulan ia melintasi jalan yang tergenang air, sehingga muncrat terlindas ban. Tidak jauh dari lokasi itu, Imron melihat Dodik dan beberapa anak kecil.

Dodik kemudian meminta Imron berhenti, dan menegur agar melaju pelan selayaknya harus berlaku sopan memacu kendaraan dalam lingkungan perumahan. Imron merasa dalam pikirannya hanya ingin segera pulang melihat kondisi ayahnya, sehingga tersinggung saat diberhentikan Dodik.

Diliputi perasaan khawatir terhadap sang ayah bercampur emosi, Imron berbicara dengan nada keras untuk menjelaskan perihal situasi yang dialaminya. “Saya turun mau klarifikasi, tapi kondisi seperti itu malah cekcok,” ungkapnya.

Pemukulan pun tidak terelakkan hingga dilerai beberapa warga. Sama sekali Imron tidak mengelaknya. Kendati pria yang juga Ketua DPC Gerakan Pemuda Ka’bah Jember nonaktif itu akhirnya merasa tindakannya sebagai kesalahan.

BACA JUGA: Legislator Terlibat Kasus Aniaya RT Dinonaktifkan dari GPK Jember

“Perasaan saya waktu itu syok dikabari abah kondisinya kritis, lalu memang terburu-buru perasan bukan ngebut full speed, tapi agak cepat dari biasanya. Saya akui memang khilaf sampai emosi. Saya minta maaf kepada Pak Dodik serta kepada semua pihak termasuk teman-teman DPRD dan PPP karena pasti membuat mereka tidak nyaman,” ucapnya.

Saat ini, Imron berusaha agar bisa menemui Dodik untuk menyampaikan permohonan maaf secara langsung atas kesalahannya. Harapannya, masalah yang terjadi dapat dimusyawarahkan secara kekeluargaan untuk diselesaikan. Meskipun, ia menghormati langkah Dodik mencari keadilan.

Selebihnya, Imron berajanji mematuhi surat peringatan dari PPP dengan cara memperbaiki sikap serta menghadapi persoalan yang tengah membelitnya. “Saya akui salah. Itikad baik saya agar bisa mediasi dengan korban,” pungkasnya. (sut)