Menjaga Tradisi Leluhur, Bupati Ponorogo Munggah Molo Pasar Legi

  • Whatsapp
pasar legi ponorogo
Bupati Ponorogo, Ipong Muchlissoni melakukan penekanan sirine menandai prosesi munggah molo ke atap gedung pasar legi
banner 468x60

NUSADAILY.COM – PONOROGO – Mimpi warga Kabupaten Ponorogo Jawa Timur memiliki pasar tradisional terlengkap dan termegah sebentar lagi terwujud. Rabu, 05 Agustus 2020, Bupati Ponorogo Ipong Muchlissoni, menggelar prosesi dan tradisi munggah molo atau menaikkan kuda-kuda pada bangunan pasar legi, Jalan Soekarno – Hatta Ponorogo.

Bagi masyarakat Ponorogo, tradisi ini selalu digelar ketika mendirikan bangunan rumah tinggal maupun bangunan usaha. Tujuannya agar bangunan menjadi berkah. Begitu juga dengan bangunan pasar legi ini.

"
"

Baca Juga

"
"

Hadir dalam prosesi mungah molo pasar legi, Bupati Ponorogo didampingi istri, Sri Wahyuni yang sekaligus anggota Komisi V DPR RI. Wakil Bupati Sujarno dan istri dan unsur Forkopimda serta kontraktor PT Adi Persada Gedung dan perwakilan kepala desa hingga tokoh masyarakat juga hadir.

Prosesi munggah molo diawali dengan menyiram kembang pada molo atau kuda- kuda, oleh Hj Sri Wahyuni Muchlissoni dilanjutkan pemasangan pasak emas pada molo oleh Bupati Ipong Muchlissoni. Selanjutnya, molo diangkat dengan ditandai pembuyian sirine, molo diangkat menggunakan crane ke lantai atas gedung pasar legi. Pengerjaanya sudah mencapai 30 persen.

Dalam sambutannya, Bupati Ipong Muchlissoni menyampaikan perjuangan panjang untuk mewujudkan pasar ini. “Alhamdulillah, progres pengerjaan bangunan pada pasar legi sudah mencapai 30 persen, sesuai yang diharapkan. Hari ini molo atau kuda-kuda sudah naik,” paparnya.

Lebih lanjut Bupati mengatakan, dia sengaja mengambil hari ini karena dinilai sebagai hari baik. Kesejahteraan dalam tanggalan Jawa untuk melanjutkan pembangunan. Nantinya bangunan pasar legi menjadi yang pertama dan termegah di Indonesia. Satu satunya dengan konsep green building, 30 persen merupakan ruang terbuka hijau.

Nantinya, bangunan pasar empat lantai ini dapat menampung 4000 pedagang. Lantai atas dibangun masjid megah dan tempat parkir. Sehingga pasar ini nanti dari segi estetika sangat indah dan nyaman bagi siapa saja.

Hj Sri Wahyuni Muclissoni, Anggota Komisi V DPR RI menyiram Molo dengan air bunga

Pasar yang sudah ada sejak zaman Batoro Katong ini, sebelumnya terbakar dan Pemkab Ponorogo membangun ulang. Namun proses dalam pembangunannya panjang, sempat dianggarkan tiga kali.

Pertama, pembangunan dianggarkan APBD Ponorogo sebesar Rp 90 miliar. Dalam perjalanan waktu, Bupati sempat menangis dihadapan Presiden Joko Widodo, agar pembangunan pasar tradisional mendapat bantuan pemerintah pusat sebesar Rp 248 miliar. Bantuan diperlukan karena Pemkab Ponorogo tidak memiliki cukup uang untuk penyelesaian pembangunan pasar tradisional itu. Setahun kemudian pemerintah pusat merealisasikan bantuan sebesar Rp 175 miliar dari APBN. Dana pembangunan bersumber APBN ini kini diwujudkan bangunan dan bisa dilihat atau dikerjakan.

“Dalam perencanaan, pernah diusulkan untuk swastanisasi. Namun Pemkab Ponorogo tidak setuju, tetap akan dikelola pemerintah. Alasannya tidak ingin masyarakat dibebani sewa dan pembelian petak yang mahal. Pemerintah tidak berbisnis dengan rakyatnya,” kenang Bupati Ipong dilansir Nusadaily.com

Ipong juga meminta perbankan yang turut hadir dalam prosesi munggah molo tersebut, memberikan kemudahan pinjaman kepada para pedagang. Pinjaman tidak membebani dan pinjaman tanpa agunan. Tujuanya agar masyarakat Ponorogo tidak terjebak rentenir.

Pasar tradisional konsep modern green holding empat lantai ini, lanjut Ipong, selain bisa menampung 4000 pedagang, diharapkan dapat menjadi sentra semua produk produk UMKM Desa. “Di pasar legi ini, semua yang dicari masyarakat ada,” tegasnya.

Prosesi munggah lolo diakhiri pembacaan doa oleh para ulama. Pemotongan tumpeng oleh Bupati dan diserahkan kepada pimpinan proyek pasar legi.

Bupati berpesan, bila pasar ini nanti sudah jadi akan diterapkan konsep tatanan baru dalam pengelolaan dan tata cara transasksi. Sebelumnya pasar tradisional tersebut juga biasa dalam menjaga kebersihan, nanti kebersihan lebih lagi dijaga lagi.

Bupati juga mengucapkan terimakasih kepada para pihak yang telah mewujudkan pasar tradisional yang bagus ini. Berbagai pihak tersebut seperti Kementerian PUPR, kontraktor hingga masyarakat. Pasar tradisional satu satunya di Indonesia yang berkonsep green building. “Bila sesuai jadwal, akhir tahun ini pengerjaan selesai,’’ pungkas Bupati. (nto/adv/wan)

Post Terkait

banner 468x60