Kesiapan Pengelolaan Dapur Masuki New Normal, Pemilik Kuliner Harus Disiplin

  • Whatsapp
Petugas di salah satu dapur hotel bintang tiga Kota Mojokerto, Ayola Hotel, Senin 22 Juni 2020. (nusadaily.com/din)
banner 468x60

NUSADAILY.COM – NUSADAILY.COM – MOJOKERTO – Semua sektor dituntut harus mempersiapkan tatanan hidup baru atau new Normal di tengah pandemi Covid – 19. Tak terkecuali pengelolaan dapur. Baik yang ada di perhotelan, restoran, rumah makan, maupun warung makan pinggir jalan.

Baca Juga

Kesiapan tatanan hidup baru tersebut, salah satunya sudah dilakukan hotel bintang tiga di Kota Mojokerto, dengan memperhatikan protokol kesehatan di tengah pandemi Covid-19. Agar bisa menjadi role mode yang bisa diterapkan pemilik usaha kuliner.

“Untuk di dapur, kita tetap mengikuti protokoler ya, dimana sejak pandemi di bulan Maret sudah harus menggunakan masker,” ungkap Chef de partie (CDP) Hotel Ayola, Boedi Soemardji, Senin 22 Juni 2020 pada Nusadaily.com.

Ia juga mengatakan, sejak awal berdiri, penerapan standar kebersihan dalam pengelolaan segala kegiatan di dapur, mulai dari proses suplai sampai penyiapan bahan-bahan makanan, maupun peralatan dan kebersihan area dapur sudah menjadi rutinitas.

Hanya saja kali ini, seluruh chef dan kru dapur dan penyajian harus lebih ekstra ketat dalam proses kesiapan masakan. Hingga tersuguhkan ke konsumen agar tak terkontaminasi Covid – 19, terlebih memasuki new normal. Para kru dapur wajib menggunakan pelindung wajah (face shield) untuk mencegah mewabahnya Covid – 19.

“Walau penggunaan face shield memang kurang nyaman digunakan pada saat memasak, tapi harus tetap digunakan. Khususnya pada saat review atau penyuguhan makanan secara langsung ke konsumen,” ucap Budi yang juga pernah menjadi chef di hotel bintang lima Sheraton Surabaya.

Tak hanya itu, pihaknya mengaku memiliki standart khusus prosedur pembersihan peralatan kitchen. Mulai dari penggunaan air sabun dalam pencucian, begitu juga dengan penggunaan air dingin dan air panas untuk mencuci semua peralatan yang belum maupun usai digunakan.

“Pasti awal dengan air sabun, air dingin, lalu air panas. Apalagi kalau ada bahan yang sangat sulit dibersihkan, dan masih menempel di peralatan. Makanya di pencucian disediakan kran air dingin dan kran air panas. Setelah dicuci baru dikeringkan, dan di tempatkan di wadah khusus peralatan,” jelasnya.

Budi menambahkan, dirinya lebih menekankan agar seluruh kru di dapur mencuci tangan setiap kali memegang bahan makanan yang berbeda. Begitu juga pada saat akan menggunakan peralatan. Bahkan sebelum masuk ke area dapur dilalukan penyemprotan disinfektan pada karyawan dan area dapur.

“Kalau penggunaan sarung tangan plastik terlalu pemborosan, dan bisa menyebabkan menumpuknya bakteri malah. Lebih baik memang cuci tangan. Apalagi kalau usai memegang bahan makanan yang berbeda, wajib dicuci. Kalau tidak akan ada kontaminasi pada bahannya,” tegasnya.

Dirinya beraharap, agar semua pemilik usaha kuliner untuk memperhatikan protokol kesehatan hingga ke area dapur. Sebab aktivitas tersebut langsung bersentuhan dengan konsumen nantinya. Tak terkecuali warung makan yang ada di pinggiran jalan.

Menurutnya, proses penyajian hingga ke tangan konsumen pun harus benar-benar diperhatikan, area meja, kursi, pegangan pintu juga harus dilakukan sterilisasi setiap harinya.

“Kita semua harus disiplin dalam menjalankan protokol kesehatan ini, apalagi dalam pengolahan makanan. Tak terkecuali pengelolaan kuliner yang berada di pinggir jalan. Justru langsung berkontak dengan konsumen,” tandasnya.(din/lna)

Post Terkait

banner 468x60