Kamis, September 29, 2022
BerandaOpinionProf. Dr. H. Umar Kayam: Dalam Kenangan

Prof. Dr. H. Umar Kayam: Dalam Kenangan

Oleh: Dr. Akhmad Tabrani, M.Pd.

SABTU (16/3/2002), sekitar pukul 07.45 WIB di Rumah Sakit Metropolitan Medical Center (RS MMC) Jakarta, Umar Kayam tutup usia. Sudah sejak lama kalangan sastra mendengar dia tengah berjuang melawan penyakit-penyakitnya. 

- Advertisement -Iklan BTC Guest House

Sudah sering Pak Kayam dikabarkan keluar-masuk rumah sakit karena keluhan terhadap penyakitnya. Sudah kerap diungkapkan juga dalam kolom-kolomnya (sudah dikumpulkan dalam dua buku Mangan Ora Mangan Kumpul, 1990 dan ‘Sugih Tanpa Banda’, 1994). Namun begitu, seberapa banyak kalangan yang tahu kapan Pak Kayam meramalkan implikasi kematiannya ketika akhir hayat telah dengan bersahaja dipahaminya sebagai keniscayaan?

Pada akhir tahun 2000, tepatnya hari Minggu, 24 Desember, Cerpen Umar Kayam, Lebaran di Karet, di Karet…, diterbitkan harian ini. Cerpen itu mengisahkan seorang laki-laki, Is namanya, yang merasa kesepian setelah ditinggalkan istrinya, Rani, yang meninggal setelah takluk pada kanker yang menggerogoti kekuatan tubuhnya.  Perasaan kesepian Is diperparah oleh jarak yang memisahkan dia dengan kedua anaknya yang bekerja di luar negeri. Karena rasa sepi tak tertahan lagi, akhirnya dia pergi sendiri, mengendarai mobilnya menuju Pemakaman Umum Karet.

Karya sastra telah sering dipahami sebagai ekspresi tak langsung. Ia tidak pernah merefleksikan kenyataan seperti apa adanya. Dengan cara itu ia menyembunyikan makna yang menjadi target dari setiap tindak penafsiran. Teori ini pasti sangat disadari oleh Pak Kayam. Fiksi karya Pak Kayam itu bisa saja berbicara soal dirinya yang segera menutup kelir hidupnya. Hal ini karena dalam cerpen tersebut ada homologi struktur yang dibalik dengan kenyataan Pak Kayam.

Dalam cerpen itu, Rani wafat dengan meninggalkan Is dan dua anak, Jon dan Suryo. Pak Kayam wafat meninggalkan seorang istri, Rosliana Kayam dan dua anak, yaitu Sita Ari Purnami dan Wulan Anggraini. Semoga ketiganya senantiasa diberkahi ketabahan batin sekuat ketabahan Pak Kayam yang tak pernah menyerah.

Jauh-jauh hari dia telah membayangkan bagaimana hebatnya kesepian yang akan melanda batin Rani jika Is yang meninggal lebih dulu. Cerpen Lebaran di Karet, di Karet… menegaskan kepekaan Pak Kayam sebagai sastrawan yang sudah tahu ‘luasnya dunia’. Karya menjadi semacam wasiat tentang kematian dirinya yang mungkin tak sempat disampaikan Pak Kayam kepada keluarga yang ditinggalkannya.

Jauh-jauh hari Pak Kayam telah merasakan akan betapa sepinya hari-hari yang akan dilalui istrinya tanpa kehadiran Pak Kayam di sisinya. Tetapi, semoga tidak demikian. Semoga kedua putri Pak Kayam tidak seperti Jon dan Suryo yang tidak pernah peduli pada perasaan kesepian yang dialami Is.

Cerpen Lebaran di Karet, di Karet… kembali membuktikan kepekaan Pak Kayam terhadap perasaan manusia, seperti pernah diakui oleh sahabatnya, Arif Budiman. Pak Kayam, menurut Arif Budiman, sangat sensitif terhadap perasaan manusia. Cerpen-cerpennya merupakan potret dari perasaan-perasaan manusia yang kesepian Madame Schlitz, atau perasaan seorang cendekiawan komunis Indonesia menjelang dieksekusi Musim Gugur Kembali di Connecticut, atau seorang perempuan Jawa yang pasrah dan tabah menghadapi nasibnya Sri Sumarah. Semua ini dilukiskan dengan halus dan mengharukan.

Orang ini digambarkan tinggi besar dan tingkah-lakunya selalu mentertawakan siapa saja yang disekelilingnya. Arif Budiman benar-benar tidak menyangka bahwa di dalam tubuh yang besar itu, diam-diam tumbuh sebuah perasaan yang sangat lembut.

BERITA KHUSUS

Tujuh Poktan Situbondo Bakal Dapat Bantuan Alat Jemur Tembakau

NUSADAILY.COM - SITUBONDO - Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Situbondo menggelontorkan anggaran dana bagi hasil cukai hasil tembakau (DBHCHT) tahun 2022 sekitar Rp180 juta. Duit jumbo...

BERITA TERBARU

Eks Bek MU Sarankan Harry Maguire Kunjungi Psikolog

NUSADAILY.COM - LONDON - Harry Maguire disarankan mengunjungi psikolog. Bek asal Inggris itu dinilai butuh bantuan untuk bisa bermain lebih baik. Maguire baru saja dikecam...