Politik Sang Bunda

  • Whatsapp
politik sang bunda
Rio Prayogo
banner 468x60

Oleh: Rio Prayogo – Warga Tegal Gede –

Seperti pernikahan, sikap Bupati Jember, Faida adalah pertengkaran rumah tangga. Dan kalau partai tidak lagi percaya seperti sekarang, lalu bupati menyerang balik ya anggap saja itu perceraian.

Dan setiap perceraian selalu membawa dendam. Dari dendam kecil seperti menghapus nomor WA sampai dendam besar seperti membangun pledoi. Saya didzolimi.

Baca Juga

BACA JUGA: Dampak Pola Konsumsi Terhadap Pola Pikir

Kalau dulu cinta sekarang dusta, dulu bersama sekarang merana. Ya biasa aja,  namanya juga lagi kzl, lagi marah.

Jadi kalau dulu 2015 ngomong begini “dengan partai saya bisa mengubah kemiskinan jadi kemakmuran, maka itu pilihlah saya menjadi bupati”

Dan sekarang 2020 ngomong begini “melalui partai harus bayar mahar, dan saya tak sanggup, maka saya minta ke rakyat untuk dijadikan bupati lagi”

Anggap saja itu cari panggung. Faida lagi membangun dukungan kalau dia lagi disakiti, bahasa Jelbuknya “playing victim”. Strategi kuno yang menyasar emosi.

Ya layaknya perceraian rumah tangga, yang paling bersalah biasanya sibuk membangun narasi agar kesalahannya tertutupi. Boleh sih tapi tidak baiklah sebagai pemimpin berbohong.

Kenapa Demikian?

Saya akan bercerita sedikit tentang pernikahan sekaligus perselingkuhan Faida dengan Partai politik.

Awal berkarir di politik, tahun 2015, Faida meminang NasDem untuk maju pilkada. NasDem waktu itu masih kecil, maka harus nyari teman lainya. Maka Bergabunglah PDI-P, Hanura dan PAN.

Tuhan menakdirkan menang, Faida-pun didaulat sebagai bupati pun juga menjadi pengurus DPW NasDem Jatim. Dari sini rumah tangga masih mesra. Biasa masih fase bulan madu. Sayangnya kemesraan berjalan singkat.

Kekuasaan didapat, Faida bermain akrobat. Bertengkar dengan DPRD dan mengutakatik birokrasi sesuai moodnya, lalu menjauhi partai yang memenangkanya.

“Sungguh durjana, ini penguasa” begitulah kira-kira komentar para politisi di Jalan Kalimantan.

Kemesraan hanya seumur jagung. Faida terus bertengkar. Tidak hanya dengan anggota di DPRD tapi ke semua orang yang dianggapnya musuh.

Konsekuensinya, Anggaran Buntung, Rakyatpun Murung.

Bagaimana tidak, Jember mungkin sudah masuk MURI sebagai kabupaten yang empat tahun berturut-turut memakai anggaran yang sama.

Pertengkaran sudah semakin sengit. Tidak bisa lagi dimediasi. Faida-pun mulai memasang kuda-kuda.

Tau kalau kinerjanya buruk, episode pertengkaran dengan anggota dewan jadi kambing hitam. Sebagai dokter, faida tau kapan harus “cuci tangan” dan itulah keunggulannya.

Situasi semakin berat bagi Faida. Sudah memegang jabatan sebagai Bupati dan DPW partai NasDem Jatim, Suaminya yang maju sebagai caleg dengan embel-embel “suaminya bupati Jember” plus nomer urut satu, masih saja tumbang.

Tumbangnya pun dengan caleg nomer urut 5. Mantan wartawan pula. Ibarat liga Inggris, Liverpool harus tumbang di tangan Burnley, klub medioker papan tengah agak ke bawah.

Kekalahan ini tentu membuat Faida harus mulai berkaca. Sayang, bukanya memperbaiki sikap politiknya, Faida mengikuti peribahasa melayu “buruk muka, cermin dibelah”.

Pertengkaran dengan anggota dewan yang semakin sengit serta kekalahan di caleg menunjukkan karir politik Faida sudah mendekati senja.

Sadar hal itu, perceraian Faida dengan NasDem tak terhindarkan. Talak 3. Berharap masih gadis, Faida yakin akan dipinang partai lain. Faida-pun mulai memuji partai besutan megawati, tentu pujian ditujukan agar rekom turun.

Sayang, Faida tak pandai membaca hati. Ibarat tetangga, sikap Faida dalam rumah tangganya bersama NasDem sudah bukan lagi rahasia umum. Faida berselingkuh, sayang PDIP – pun emoh.

Masa depan rekom partaipun suram. Tidak ada jalan selain jalur perseorangan. Untung 6,5 persen dari pemilik suara masih mau menyerahkan KTP. Kalau tidak akan jadi headline berita “Petahana gagal maju pilkada”

Sadar kalau tidak ada lagi kekuatan, membuat cerita didzolimi adalah jalan keluar. Faida mulai berkata kalau rekomendasi partai harus ditebus dengan miliaran. Di sini Faida memang politisi beneran. Bukan kaleng-kaleng.

BACA JUGA: Kiai Muqit, Faida, dan Politik Santri

Apakah strategi Faida itu bisa disebut demikian luar biasa? Oh tidak juga, biasa aja kok

Dan Slater dalam Ordering Power: Contentious Politics and Authoritarian Leviathans in Southeast Asia merumuskan pertengkaran politik yang terus menerus akan membuat negara/aktor berubah jadi monster yang akan memakan siapa saja.

Itu mengapa, ketika politik pertengkaran terus meruncing tidak hanya dengan anggota dewan dan partai politik, tapi juga dengan tokoh-tokoh masyarakat, jalan satu-satunya adalah terus melawan karena yakin dengan kekuatan kuasa.

Jadi kalau Faida sekarang mulai berbicara layaknya orang suci, itu hanya strategi. Kita harus paham karena semasa memimpin tidak ada yang bisa dibanggakan.

—Pinggiran Pasar Minggu, Jaksel—

Post Terkait

banner 468x60