Oleh-oleh dari Pulau Putri

  • Whatsapp

Oleh: M. Mudlofar*

Sebagai orang Gresik saya merasa belum mengenal Gresik secara utuh, khususnya menyangkut kondisi daerah-daerah yang termasuk wilayah Gresik. Maklum, Gresik terdiri atas 18 kecamatan. Enam belas kecamatan di “daratan” sedangkan 2 kecamatan lain di “lautan”. Yang di “daratan” sudah pernah saya kunjungi. Sementara yang di “lautan” belum pernah menyentuhkan. Karena itulah saya merasa penasaran.

Kali ini saya berkesempatan untuk mengobati rasa penasaran itu. Ada kesempatan untuk mengunjungi  dua kecamatan yang berada di “lautan” itu bersama dengan rombongan kolega kantor. Perjalanan dilalui dengan naik kapal expres. Cepat sekali! Meskipun begitu,  4 hingga 5 jam baru sampai ke pelabuhan daerah tujuan.

Sampilah saya di tempat tujuan. Orang-orang menyebutnya daerah “lautan” ini dengan nama Pulau Bawean. Sebuah pulau yang indah dan cukup menarik perhatian.

Baca Juga: COVID-19 dan Kutukan Sisifus

Lokasinya sangat jauh dari Gresik tapi masuk wilayah Gresik. Ada dua kecamatan di pulau ini, yaitu Kecamatan Sangkapura dan Kecamatan Tambak. Dua Kecamatan ini juga dipisah dengan lautan. Jadi, sejatinya juga merupakan dua pulau yang tersendiri dan terpisah. Tapi, masyarakat tetap menyebutnya dua kecamatan itu adalah Pulau Bawean.

Selain dikenal dengan nama Pelau Bawean, pulau ini juga dikenal dengan nama Pulau Putri. Mengapa? Sebab, di pulau ini banyak perempuannya. Lebih banyak perempuan dua hingga tiga kali lipat bila dibandingkan dengan laki-laki. Mengapa?

Baca Juga: Menulis Puisi di Media Sosial, Bermula dari Iseng Bermanfaat untuk Berliterasi

Sebab, yang laki-laki banyak yang merantau ke Malaysia dan atau ke Singapura. Mereka merantau dalam hitungan waktu yang sangat lama, bahkan hingga puluhan tahun. Praktis di pulau Bawean didominasi oleh perempuan dalam berbagai kegiatan masyarakat.

Selain, berjumpa dengan perempuan-perempuan cantik sebagai bagian dari pesona tersendiri di Pulau Bawean, saya juga menemukan, sedikitnya, dua hal istimewa:

Akulturasi Bahasa

Bahasa Bawean hampir tidak bisa dibedakan dengan bahasa Madura. Bagi orang luar Bawean, tentu akan menganngap bahwa bahasa Bawean adalah bahasa Madura. Sebab aksen dan intonasi serta pelafalan kosa kata yang digunakan mirip dengan bahasa Madura.

Akan tetapi, setelah diamati ternyata bahasa Bawean bukanlah bahasa Madura. Oleh sebab itu, masyarakat Bawean tidak serta merta mengatakan bahwa bahasa mereka adalah bahasa Bawean. Ada beberapa alasan khusus terkait dengan ini, yaitu banyak kosa kata dan idiom yang mereka gunakan adalah kosa kata yang tidak terdapat di dalam bahasa Madura. Misalnya, eson ‘aku’ (bahasa Bawean) sedangkan dalam bahasa Madura engkok. Demikian juga kalaaken ‘ambilkan’ (bahasa Bawean) sedangkan dalam bahasa Madura kalaagghi. Begitu seterusnya.

Baca Juga: Pembelajaran Menulis pada Era Covid-19

Karenanya, meskipun bahasa di sana mirip mirip dengan bahasa Madura , akan tetapi belum tentu orang Bawean mengerti bahasa Madura, dan sebaliknya belum tentu orang Madura mengerti bahasa Bawean. Bahasa Bawean adalah bahasa Bawean tersendiri yang tumbuh dan berkembang di sebuah pulau yang tidak terlalu luas akan tetapi, memiliki jaringan persebaran komunitas yang luas. Pertumbuhan dan prkembangannya dipengaruhi oleh bahasa Malaysia, Singapura, dan bahasa Jawa.

Bahasa Bawean seperti halnya bahasa-bahasa yang lain, juga memiliki dialek dan subdialek. Beberapa subdialek yang tumbuh dan berkembang di Bawean antara lain, dialek Daun, dialek Kumalasa, dialek Pudakit, dan dialek Diponggo. Hingga kini, dialek-dialek tersebut masik aktif digunakan mengikuti aktivitas pemangku daerah masing-masing.

Baca Juga: Anjal Gubernur Suryo Gresik Jadi Obyek Observasi Mahasiswa Madura

Mitos 99 Gunung Asmaul Husnah

Mitos merupakan folklor, cerita rakyat yang tumbuh dan hidup yang menyertai penafsiran tentang alam semesta oleh yang empunya cerita. Dalam hal ini, Bawean memiliki keunikan mitos tersendiri yaitu mereka meyakini bahwa Bawean dikelilingi oleh 99 gunung. Secara riil memang kondisi alam Bawean terdapat gundukan-gundukan yang menyerupai gunung yang bervariasi ukuran besar-kecilnya.

Gundukan-gundukan itu berupa bebatuan yang juga ditumbuhi dengan hutan atau pepohonan dalam berbagai jenis.  Istimewanya ialah jumlah gundukan itu sebanyak 99 sehingga masyarakat setempat meyakini bahwa angka 99 itu merupakan anuerah Allah yang istimewa sejalan dengan  jumlah nama Allah yang disebut Asmaul Husna, yang berjumlah 99.

Baca Juga: Kenang Satu Tahun Kepergian The Godfather of Broken Heart

Anugerah kondisi alam tersebut membawa kekuatan spiritual masyarakat lokal bahwa Bawean akan senantiasa dilindungi dan dikarunia rakmat Allah, sepanjang taat kepada-Nya. Karena itu, kehidupan masyarakat sangat agamis.

Dalam penuturan masyarakat lokal di Bawean amat jarang  terjadi tindak kejahatan utamanya pencurian. Misalnya, jangan heran bila di Bawean kita menjumpai mobil atau motor yang berhari-hari diparkir dan berada di luar pagar rumah dalam kondisi kontak menempel di kendaraan itu. Hal itu, dijamin pasti aman-aman saja.

Dua hal istimewa yang kujumpai di Bawean itu menambah kemantapan bahwa masih amat luas ladang kajian bagi ilmuan Cebastra. Sedikitnya, ada dua objek kajian yang tersedia di sana yaitu tentang bahasa dan folklore.

*Penulis adalah dosen Universitas Qomaruddin Gresik dan pengurus DPP Cebastra.