Kamis, Juni 30, 2022
BerandaOpinionKegagalan  Memahami Makna Silaturahmi

Kegagalan  Memahami Makna Silaturahmi

Oleh: Siti Nuraini Yusuf, S.Pd.

Manusia tidak akan pernah lepas dari kesalahan dan dosa antarsesamanya. Biasanya, hal ini bisa menyebabkan suatu hubungan persaudaraan retak bahkan terputus. Untuk menjalin kembali tali persaudaraan yang sudah terputus, umat Islam dianjurkan bersilaturahmi.

- Advertisement -Iklan BTC Guest House

Sesungguhnya, silaturahmi merupakan jembatan yang menghubungkan dua sisi yang berbeda dengan jiwa kasih dan sayang untuk mewujudkan kebersamaan dan keakraban. Kebersamaan itu penting, bukan hanya untuk menjaga silaturahmi, tetapi harus menghasilkan  hubungan kekerabatan yang solid.

Sejatinya,  silaturahmi itu menjalin kembali hubungan  persaudaraan atau kekerabatan yang  pernah terputus. Selaras dengan itu, Islam sudah mengkajinya  secara  mendetail dengan hujah yang tidak terbantahkan. Pertanyaannya,” Mengapa  masih banyak orang yang gagal memahami  makna silaturahmi?”. Pertanyaan ini  perlu dijawab secara  ilmiah menurut perspektif Islam.

BACA JUGA: Semangat Pasca-Idulfitri

Kegagalan memaknai Konsep silaturahmi yang dipahami kebanyakan orang karena masih berkisar seputar  berkunjung  dan berjabat tangan pada momen- momen  tertentu saja.  Menariknya,  silaturahmi  menjadi  ajang  refreshing atau “healing”. Healing itu sendiri adalah sebuah proses  yang diperlukan untuk mengatasi luka psikologis di masa lalu.  Itu istilah kekinian yang lagi trending di  masyarakat. Refreshing bersama teman kolega di tempat wisata  juga  disebut bersilaturahmi. Padahal, bukan itu maksudnya.

Dinamika silaturahmi, kekerabatan, dan kemasyarakatan memiliki nuansa yang berbeda, yaitu kekerabatan karena pertalian darah yang sudah semakin jauh karena  terputusnya komunikasi di antara mereka. Hal inilah yang memotivasi mereka untuk membentuk komunitas tersendiri sehingga akan tampak aktivitas silaturahmi  eksklusif gaya baru. Mereka hanya bersilaturahmi dalam kelompoknya sendiri dan menutup pintu silaturahmi dengan  kelompok lain yang masih ada hubungan  pertalian darah. Inilah yang  penulis maksudkan ” Kegagalan dalam memaknai  hakikat silaturahmi”.

Kalau kondisi ini dibiarkan terus maka itu menjadi faktor terputusnya silaturahmi dengan kerabat terdekat. Faktor lain bisa saja disebabkan oleh pertikaian antarkeluarga dalam memperebutkan warisan, perbedaan pandangan, ego dan gejolak emosi, serta gengsi untuk memaafkan  kekeliruan saudara atau kerabat. Kasus tersebut menjadi indikasi terputusnya hubungan kekerabatan .

BERITA KHUSUS

Kabar Gembira! Internet Gratis Masuk RW, Wali Kota Pasuruan: Ada 68 Titik

NUSADAILY.COM – KOTA PASURUAN – Warga Kota Pasuruan kini semakin dimanjakan dengan layanan internet gratis. Tidak hanya sebatas pada ruang publik, seperti taman-taman kota,...

BERITA TERBARU

Transfer Lewandowski ke Barcelona Belum Juga Deal, karena Kendala Ini

NUSADAILY.COM - JAKARTA - Barcelona belum juga mampu mewujudkan transfer Robert Lewandowski. Barcelona meminta Lewandowski bersabar karena mereka masih terus mengusahakan kepindahannya. Barcelona menjadikan Lewandowski...