Kamis, Januari 20, 2022

NUSADAILY.COM STORIES

BerandaOpinionEssayKembalilah Kuat Basis Wayang Topeng Masa Lalu di Glagahdowo: Ayo Bangkit

Kembalilah Kuat Basis Wayang Topeng Masa Lalu di Glagahdowo: Ayo Bangkit

Oleh: M. Dwi Cahyono*

Glagahdowo adalah salah satu dusun di wilayah Desa Pulungdowo. Kata “glagah” maupun “pulung” bersinonim arti, yang menunjuk pada rerumputan besar. Desa yang konon merupakan area peladang tebu itu bertetangga dekat dengan Desa Pajaran, Wangkal, Ngingit serta Kidal. Kesemuanya adalah desa-desa kuno sejak Masa Hindu-Buddha dan merupakan sentra kawasan kesenian tradisi di sub- area timur Kabupaten Malang. Kesenian Wayang Topeng, Mocopat, Jaranan, Pencak, dsb. Dulu hadir kuat di sini. Satu set topeng tua malahan masih kedapatan di Desa Wangkal. Padamana seniman legendaris penopeng lama, yakni Pak Item (Kasimun). Beliau menetap beberapa lama dan menjadi “pembelajar” kesenian.

- Advertisement -Iklan BTC Guest House

Masih ingatkah anda sekalian pecinta Wayang Topeng Malang akan “maestro topeng Malang” Almarhum Mah Gimun, Rasimun dan Jakimin. Maupun Pak Tris, yang konon menjadi “motor penggerak” bagi kukuhnya suatu basis Topeng Malang gagrak Tengger – Semeru? Bagaimana pun, dalam pertumbuhan dan perkembangan Wayang Topeng Malang, kontribusi Glagahdowo tak bisa dikesampingkan. Para Almarhumah maestro Topeng Malang murid dari Mbah Item tersebut memberi warna bagi “topeng klasik” di Malang Raya. Sejarah mencatat sumbangsihnya.

Glagahdowo Penguat Pilar Wayang Topeng Malang

Kini, ketika di tempat-tempat lain sanggar baru bermunculan. Begitu pula sebagian sanggar lama kembali tampil. Tiba saatnya Glagahdowo kembali menguat sebagai pilar Wayang Topeng Malang. Partisipasi baik warga setempat maupun uluran tangan pegiat luar amat dibutuhkan bagi “menguatnya kembali (revitalisasi)” basis Wayang Topeng Malang di Dusun Glagahdowo Desa Pulungdowo. Ibarat pasca pralaya di Masa Kaliyuga, dunia batu dibangun dengan “abu” dunia lama. Ini untuk kembali memasuki Zaman Emas (Kretayuga/Satyayuga).

Kini di Desa Pulungdowo terdapat dua sanggar tari, yaitu : (a) Cokro Buwono, milik Ika Wahyu Widyawati, S.Pd, M.Pd. berdiri pada tahun 2009. Ini diresmikan Bupati Malang tahun 2011; dan (b) Setyo Utomo, yang didirikan oleh Utomo tahun 2000. Utomo yang akrap di sapa “Cak ,Ut” sejak lama berkecimpung di dalam dunia seni. Antara lain melatih tari, membuat topeng, dan busana wayang topeng. Selain itu, terdapat juga sanggar tari jaranan, kegiatan mocopatan. Kerajinan yang terdapat di desa ini adalah ayam bambu, pande besi dan pembuatan bata.

Glagahdowo di Desa Pulungdowo layak menjadi “Desa Berhulu Budaya”. Mestinya di dalam desa yang menyimpan potensi laten kesenian, kerajinan, sejarah, dan ragam tradisi budaya ini, “kebudayaan dimajukan” — dengan menjadikan warga desa sebagai basis pemajuannya. Mari kembali bangkit, mangukuh kukuh. Nuwun.

Sangkaling, 3 Januari 2021
Griyajar CITRALEKHA

*Arkeolog Universitas Negeri Malang, redaktur ahli nusadaily.com dan imperiumdaily.com

spot_img
- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
@nusadaily.com

Perampok di Sukun Malang Tertangkap di Taman Dayu Pandaan ##tiktokberita

♬ original sound - Nusa Daily