Sejarah Singkat Nabi Muhammad SAW, Lahir Bersamaan dengan Peristiwa Besar nan Tak Bisa Dinalar

  • Whatsapp
maulid nabi muhammad
Sumber: google image
banner 468x60

JAKARTA – Hari ini, Kamis, 29 Oktober, atau 12 Rabiul Awal tahun Hijriyah,  Maulid Nabi Muhammad SAW dirayakan oleh umat Muslim di seluruh dunia. Banyak sifat-sifatnya dan perjalanan hidupnya yang dapat dipelajari dan diteladani dalam keseharian.

Baca Juga

BACA JUGA: Perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW di Masa Khalifah

Kelahiran Nabi Muhammad SAW

Nabi Muhammad yang merupakan Nabi akhir zaman ini lahir di Makkah pada tahun gajah atau sekitar 570 Masehi. Disebut tahun gajah karena saat itu ada pasukan gajah yang dipimpin oleh Abharah Habasyah, yang ingin merobohkan Ka’bah.

Mengutip Sirah Nabawiyah karya Abdul Hasan ‘Ali Al-Hasani An-Nadwi’, beberapa sejarawan dan pakar hadist mengatakan, menjelang kelahiran Nabi Muhammad, ada sejumlah peristiwa besar yang terjadi.

“Peristiwa itu di luar nalar manusia, mengarah pada dimulainya era baru bagi alam dan kehidupan manusia,” tulis Abdul Hasan dalam Surah Nabawiyah, dikutip Nusadaily.com dari detikcom.

Beberapa peristiwa besar itu, seperti singgasana Raja Persia Kisra Anusyirwan yang bergoyang dan 14 balkon istananya ikut runtuh. Selain itu, padamnya api sesembahan kaum Majusi di kuil pemujaan di Persia (sekarang Iran), yang sebelumnya tak pernah padam.

Peristiwa besar lain menjelang kelahiran Nabi Muhammad, yaitu air Danau ‘A’ yang dikultuskan oleh masyarakat Persia, tiba-tiba surut. Tasik Sava atau semenajung suci bagi masyarakat Persia pun mendadak tenggelam.

Sementara di Makkah, pasukan gajah yang dipimpin Raja Yaman, Abrahah gagal menyerang Ka’bah. Tak lama setelah itu, Nabi Muhammad lahir.

Nabi Muhammad lahir dari seorang ibu bernama Aminah, dan ayah, Abdullah. Abdullah meninggal saat Nabi Muhammad berusia tiga bulan dalam kandungan Aminah, karena kelelahan berdagang dan jatuh sakit.

Sang kakek, Abdul Mutalib yang merupakan pemimpin Makkah atau kaum Quraisy, memberikan nama Muhammad kepada Rasulullah. Sang kakek membawa Nabi Muhammad masuk ke dalam Ka’bah, lalu seekor kambing disembelih sebagai bentuk aqiqah dan Beliau dikhitan pada usia 7 hari.

Saat Nabi lahir tak ada yang mau menyusuinya karena termasuk golongan miskin. Tapi seorang ibu, bernama Halima Sa’diyah dengan ikhlas menyusuinya, meski ASI yang dimilikinya pun sedikit. Keikhlasannya dibalas oleh Allah SWT. Keledai miliknya menjadi berisi dan ASI miliknya menjadi lancar.

Saat kanan-kanak, Nabi Muhammad SAW menghabiskan waktu yang tak lama bersama ibunya karena di usia enam tahun, Aminah meninggal dunia. Setelah menjadi yatim piatu, Nabi Muhammad tinggal dan diasuh oleh kakeknya.

Namun saat, Nabi Muhammad berusia 8 tahun, sang kakek meninggal dunia, sehingga pamannya, Abu Thalib merawatnya. Mereka hidup dalam kekurangan. Meski begitu, Nabi Muhammad tumbuh dengan baik. Saat kanak-kanak, Nabi Muhammad membantu menggembala binatang ternak dan ketika sudah cukup dewasa, Nabi membantu pamannya berdagang.

Pernikahan Nabi Muhammad SAW

Setelah tumbuh dewasa, Nabi Muhammad SAW menikah dengan Siti Khadijah. Khadijah merupakan wanita terpandang, cantik rupawan, dan berasal dari golongan orang berada di Arab.

Awalnya, Nabi Muhammad SAW dan Khadijah bekerja sama saat berdagang. Namun dengan pribadi Nabi Muhammad SAW yang baik, jujur, dan patut diteladani, Khadijah pun jatuh hati dan meminta sahabatnya, Nafisah binti Munyah, datang untuk meminang Nabi Muhammad SAW.

“Muhammad, aku Nafisah binti Munyah, datang membawa berita seorang wanita agung, suci, dan mulia. Pokoknya ia sempurna, sangat cocok denganmu. Kalau kau mau, aku bisa menyebut namamu di sisinya,” kata Nafisah kepada Muhammad, dikutip dari buku Bilik-bilik Cinta Muhammad, karya Nizar Abazhah.

Nabi Muhammad menikah saat berumur 25 tahun. Sedangkan Khadijah saat itu berusia 40 tahun. Khadijah disebut sebagai cinta pertama Nabi Muhammad SAW. Ini terbukti karena dalam pernikahan mereka, Nabi Muhammad SAW tak pernah menikahi wanita lain.

BACA JUGA: Ragam Perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW di 6 Negara

Nabi Muhammad SAW mendapat wahyu

Wahyu pertama yang diberikan Allah SWT kepada Nabi Muhammad SAW datang melalui mimpi saat ia berusia 40 tahun. Dalam mimpi tersebut, Nabi Muhammad berada seorang diri dalam Gua Hira di Jabal Nur, dan bertemu dengan Malaikat Jibril.

Melalui Malaikat Jibril, wahyu yang diturunkan oleh Allah SWT adalah surat Al-Alaq ayat 1-5. Sebagaimana yang dikutip dari buku berjudul Tafsir Pendidikan: Konsep Pendidikan Berbasis Alquran, karya Ahmad Izzan dan Sehudin, dijelaskan bahwa ulama tafsir berpendapat bawah 5 ayat tersebut menegaskan bahwa Nabi Muhammad SAW diperintahkan oleh Allah SWT untuk membaca.

Selain itu, perintah tersebut pun dibarengi dengan mengajarkan kekuatan serta sifat-sifat Allah pada manusia dalam berdakwah. Berikut isi surat Al-Alaq ayat 1-5 serta terjemahannya:

اِقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِيْ خَلَقَۚ – ١

Iqra’ bismi rabbikallażī khalaq

Artinya: “Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan.”

خَلَقَ الْاِنْسَانَ مِنْ عَلَقٍۚ – ٢

Khalaqal-insāna min ‘alaq

Artinya: “Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah.”

اِقْرَأْ وَرَبُّكَ الْاَكْرَمُۙ – ٣

Iqra` wa rabbukal-akram

Artinya: “Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Mahamulia,”

الَّذِيْ عَلَّمَ بِالْقَلَمِۙ – ٤

Allażī ‘allama bil-qalam

Artinya: “Yang mengajar (manusia) dengan pena.”

عَلَّمَ الْاِنْسَانَ مَا لَمْ يَعْلَمْۗ – ٥

‘Allamal-insāna mā lam ya’lam

Artinya: “Dia mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya.”

Nabi Muhammad SAW Berdakwah

Setelah mendapat wahyu dari Allah SWT, Nabi Muhammad SAW pun mulai melakukan dakwah. Pada awalnya, dakwah yang disampaikan dengan cara bersembunyi-sembunyi.

“Kemudian, satu demi satu umat masyarakat masuk islam seperti Bilal bin Rabah, Abu Ubaidah Amin bin Jarrah, Abu Salamah, Arqam bin Abi Arqam, Utsman bin Madz’un, Fatimah binti Khatab, dan lainnya. Mereka semua masuk Islam secara sembunyi-sembunyi karena Nabi Muhammad menyampaikan dakwahnya secara individu dan rahasia,” sebagaimana dikutip dari buku ‘Sejarah Hidup dan Perjuangan Rasulullah SAW‘ yang diterjemahkan oleh Abdullah Haidir.

Adapun yang menjadi pengikut Nabi Muhammad yang pertama adalah sang istri, Khadijah, lalu para sahabatnya, yakni Ummu Aiman, Ali bin Abu Thalib, Abu Bakar Al-Shiddiq dan Zaid bin Haritsah.

Setelah itu, Nabi Muhammad SAW kembali mendapat wahyu lewat Surat Al-Hajr. Dalam wahyu tersebut, Allah SWT memerintah Nabi Muhammad SAW untuk mulai berdakwah secara terang-terangan.

فَٱصْدَعْ بِمَا تُؤْمَرُ وَأَعْرِضْ عَنِ ٱلْمُشْرِكِينَ

Faṣda’ bimā tu`maru wa a’riḍ ‘anil-musyrikīn

Artinya: “Maka sampaikanlah olehmu secara terang-terangan segala apa yang diperintahkan (kepadamu) dan berpalinglah dari orang-orang yang musyrik.”

Nabi Muhammad melakukan Isra Mi’raj

Isra Mi’raj merupakan peristiwa penting umat Islam yang dijalani oleh Nabi Muhammad, Bunda. Ini merupakan perjalanan yang dilakukan selama tujuh hari oleh Nabi Muhammad ke Sidratul Muntaha di langit ke tujuh.

Peristiwa bersejarah ini terjadi pada 27 Rajab di tahun Kenabian. Kisahnya pun tertulis dalam Al-Qur’an surat Al-Isra.

Di malam itu, Rasulullah bersama Malaikat Jibril melakukan perjalanan dari Masjidil Haram di Makkah ke Masjidil Aqsa di Palestina, Bunda. Lalu, Nabi diangkat ke langit ke tujuh untuk bertemu dengan Allah.

Saat diangkat ke langit ketujuh, Nabi bertemu dengan malaikat dan nabi-nabi terdahulu. Di sana, Nabi Muhammad SAW pun menerima perintah salat 5 waktu oleh Allah SWT, juga diminta untuk memperhatikan umatnya oleh para nabi-nabi terdahulu.

Nabi Muhammad SAW Wafat

Nabi Muhammad wafat saat berusia 63 tahun, Bunda. Kematiannya terjadi setelah mengalami sakit dalam beberapa waktu. Lalu lima hari sebelum Nabi Muhammad menghembuskan napas terakhir, suhu tubuhnya begitu tinggi, sehingga meminta para sahabatnya untuk menyiraminya dengan air.

“Para sahabatnya pun melakukanya dan menyiramkannya. Sehingga beliau berkata, ‘cukup…cukup,” tulis Abdullah Haidir.

Di hari kematiannya dan dalam sakaratul maut, Nabi Muhammad SAW berada dalam pangkuan istri ketiganya, Aisyah. Saat mata Nabi Muhammad SAW memandang ke arah langit-langit rumah, bibirnya bergerak dan Aisyah pun berusaha mendengarkan apa yang diucapkannya.

“Ya Allah, ampunilah dan kasihanilah aku, pertemukan aku dengan teman-teman yang tinggi (kedudukannya), Ya Allah pertemukan aku dengan teman-teman (yang tinggi kedudukannya),” ucap Nabi Muhammad SAW.

Kalimat tersebut diulang sebanyak tiga kali. Kemudian tangannya menjadi lemas dan jiwanya pun terpisah dari raga. Nabi Muhammad meninggal pada waktu Dhuha, Senin, 12 Rabiul Awal tahun 11 Hijriah.

Nah, Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW bisa dijadikan momentum untuk mendekatkan diri kepada Rasulullah dengan meneladani sifat dan kisah perjuangannya.

Mengutip CNN, Ustaz Yusuf Mansyur pun memaknai kisah ini. Menurutnya, siapapun yang dekat dengan Nabi Muhammad SAW, maka Allah akan SWT berikan kelancaran dalam kehidupannya.

“Dari kisah ini, dapat diambil hikmah bahwa siapa saja yang dekat dengan Nabi akan diberi kemudahan, rezeki mengalir terus,” katanya.(han)

Post Terkait

banner 468x60