Kemenag Mau Bikin Lagi Program Materi Khutbah Jumat, Akankah Tuai Masalah?

  • Whatsapp
Dirjen Bimas Islam Kemenag RI Prof Kamaruddin Amin. (istimewa)
banner 468x60

NUSADAILY.COM – JAKARTA – Kementerian Agama berencana akan membuat program perkaya materi khutbah Jumat dengan isu-isu kontemporer. Padahal, sebelumnya program sertifikasi penceramah yang dilakukan Kementrian Agama sempat menuai pro kontra di masyarakat, Antara setuju dan tidak perlu. Namun, program tersebut terus berjalan.

Dirjen Bimas Islam Kamaruddin Amin mengatakan bahwa program penyiapan khutbah Jumat ini masih dalam tahap rencana yang akan dibahas bersama dengan tokoh agama, tokoh ormas, dan akademisi kampus.

Baca Juga

“Kami punya ide pengayaan narasi khutbah Jumat. Tapi ini masih rencana yang akan dibahas bersama dengan tokoh ormas, tokoh agama, serta akademisi kampus perguruan tinggi keagamaan Islam,” terang Kamaruddin Amin di Jakarta, Rabu 21 Okotber 2020.

BACA JUGA: Inilah Referensi Boleh dan Tidaknya Salat Jumat karena Covid-19

“Proses penyusunan naskahnya juga akan dilakukan oleh tokoh agama dan akademisi yang biasa berdakwah dan menyampaikan khutbah,” lanjutnya.

Menurut Kamaruddin, penyusunan naskah khutbah ini akan diawali dengan pembahasan terkait signifikansi dan tema. Para penyusun akan merusmuskan bersama kebutuhan pesan keagamaan masyarakat kontemporer lalu dituangkan dalam rumusan tema.

“Tema seputar pengarusutamaan moderasi beragama akan menjadi salah satu yang dibahas bersama. Termasuk tema-tema keagamaan lainnya, baik seputar ubudiyah maupun mu’amalah,” ujar Kamaruddin.

“Termasuk juga tema-tema sosial, ekonomi, pendidikan, dan kebudayaan Islam,” lanjutnya.

Kamaruddin berharap, naskah khutbah yang disusun dan disepakati ini bisa menjadi rujukan alternatif bagi para pendakwah. “Ini juga menjadi bagian dari fasilitasi kita dalam meningkatkan literasi masyarakat terkait isu-isu aktual dalam perspektif keagamaan,” tandasnya.

Sertifikasi Penceramah

Sebelumnya, Kementerian Agama (Kemenag) meluncurkan program Penceramah Bersertifikat mulai akhir September 2020. Dirjen Bimbingan Masyarakat (Bimas) Islam, Kamaruddin Amin, menyebut program ini didesain dengan melibatkan banyak pihak.

Kamaruddin menegaskan, program ini bukanlah sertifikasi profesi. “Penceramah bersertifikat ini bukan sertifikasi profesi, seperti sertifikasi dosen dan guru. Kalau guru dan dosen itu sertifikasi profesi sehingga jika mereka sudah tersertifikasi maka harus dibayar sesuai standar yang ditetapkan,” ujar Kamaruddin Amin.

Ia menyebut, tujuan program Penceramah Bersertifikat untuk meningkatkan kapasitas penceramah. Setelah mengikuti kegiatan, para penceramah ini nantinya akan diberi sertifikat.

Adapun, keberadaan program ini juga disebut seperti program peningkatan kapasitas penyuluh agama dan penghulu, yang sebelumnya dilakukan Dirjen Bimas Islam. Saat ini, tercatat ada sekitar 50ribu penyuluh dan 10ribu penghulu di Indonesia.

Untuk mengoptimalkan layanan, puluhan ribu orang ini secara bertahap ditingkatkan kapasitasnya di bidang literasi tentang zakat, wakaf, moderasi beragama. Setelah mengikuti kegiatan peningkatan kapasitas, mereka mendapatkan sertifikat.

“Ini sertifikasi biasa yang tidak berkonsekuensi apa-apa. Kerena bukan sertifikasi profesi, sehingga tidak berkonsekuensi wajib atau tidak. Bukan berarti yang tidak bersertifikat tidak boleh berceramah, atau yang boleh berceramah hanya yang bersertifikat. Sama sekali tidak begitu,” lanjutnya.

Selanjutnya, ia menyebut program ini merupakan kegiatan biasa dengan tujuan memberikan afirmasi kepada penceramah Indonesia. Kemenag ingin memperluas wawasan mereka tentang agama dan ideologi bangsa. “Jadi ini bukan sertifikasi, tapi penceramah bersertifikat,” kata dia.

Penceramah bersertifikat disebut berlaku untuk penceramah dari semua agama, namun program ini tidak bersifat mengikat. Dalam pelaksaannya, Kemenag berperan sebagai fasilitator dan koordinator. (hud/lna)

Post Terkait

banner 468x60