Kamis, Oktober 28, 2021
BerandaNewsJatimPolda Jatim Bongkar Hasil Test Antigen Palsu, Pelakunya Oknum Mahasiswa Jember

Polda Jatim Bongkar Hasil Test Antigen Palsu, Pelakunya Oknum Mahasiswa Jember

- Advertisment -spot_img

- Advertisement -Iklan BTC Guest House

NUSADAILY.COM- SURABAYA- Direktorat Kriminal Khusus (Dirkrimsus) Kepolisian Daerah Jawa Timur membongkar sindikat jual beli surat rapid test antigen, alias surat test antigen ilegal, Senin (11/1/2021).

Pelaku ini dengan berani tanpa ada pemeriksaan test antigen yang dilakukan di Laboratorium namun menjual surat keterangan hasil test antigen kepada masyarakat. Kejahatan ini sangat membahayakan masyarakat karena jika dilakukan terus menerus akan membuat klaster baru dan kegaduhan di masyarakat.

Bisa jadi masyarakat yang positif namun tanpa test memakai surat palsu itu, dan berhubungan dengan masyarakat lain maka akan menjadi carier.

Bukan Tak Mungkin Penyebaran Covid Tak Terkendali

Bukan tidak mungkin membuat penyebaran Covid tak terkendali. Karena surat itu akan dipakai untuk syarat perjalanan antar Kota. Beruntung hal itu diendus aparat Kepolisian.

Kombes Pol Farman didampingi Kabid Humas Kombes Pol Gatot Repli Handoko, menggelar pers rilis kasus dugaan manipulasi data dan pemalsuan hasil rapid test antigen yang tanpa dilakukan pemeriksaan medis, Senin siang.

Pelaku yang nekat ini berinisial IM (24) warga Desa Krajan, Kecamatan Jombang, Kabupaten Jember. Menariknya status pelaku adalah seorang mahasiswa salah satu perguruan tinggi di Jember.

Kombes Pol Farman, menjelaskan pelaku penyalahgunaan atau pemalsuan dan memanipulasi data hasil rapid test Antigen yang tanpa dilakukan pemeriksaan medis melalui media sosial berawal dari adanya informasi dari masyarakat.

Dari tangan pelaku disita satu buah laptop, satu buah handphone merk VIVO dan beberapa sampel dari hasil replikasi antigen tanpa test lab.

Dari hasil penyidikan awal terhadap pelaku, dia melakukan aksinya mulai Desember saat menjadi pengawas di tempat pemungutan suara (TPS) saat Pilkada 2020 kemarin.

Kala itu syarat pengawas TPS harus disertai persyaratan bukti bebas Covid. Dan selanjutnya petugas TPS ditemukan terdapat 27 orang yang terindikasi reaktif .

Namun oleh pelaku dibuatkan hasil rapid test Antigen tanpa pemeriksaan medis dan lab sebanyak 24 lembar.

Pasca pelaksanaan Pilkada yang bersangkutan menawarkan di media sosial facebook untuk jasa membuatkan hasil rapid test Antigen tanpa pemeriksaan medis seharga Rp 200 ribu.

Dia menjelaskan bekerjasama dengan Laboratorium klinik Nur Syifa, yang memang selama ini sudah ada.

Klinik Kini dalam Penyelidikan

“Selanjutnya klinik itu di dalam penyelidikan tidak memiliki kerjasama dengan pelaku, hanya dicatut saja namanya,” ujarnya.

Dari sana awal terbongkarnya kasus ini. Polisi melakukan penyelidikan karena tidak ada layanan test Antigen dipasarkan melalui Facebook. Bahkan setelah ada laporan dari Klinik yang merasa dirugikan dengan iklan tersebut. Klinik merasa dicatut namanya dan melaporkan hal itu ke Polisi.

Dalam kasus ini pelaku dijerat pasal 51 juncto pasal 35 Undang-undang ITE dengan ancaman hukuman 12 tahun penjara dan atau denda Rp 12 miliar subsider pasal 263 KUHP dengan ancaman hukuman 6 tahun penjara.

Sebelumnya, Juru Bicara Satuan Tugas (Satgas) Penanganan COVID-19 Pusat, Wiku Adisasmito mengatakan. Siapapun yang menyediakan surat keterangan hasil uji usap atau rapid test swab antigen palsu yang jadi syarat melakukan perjalanan ke luar kota. Diancam hukuman pidana selama empat tahun penjara.

“Dari segi hukum pidana, tindakan menyediakan surat keterangan dokter palsu dapat dijatuhkan sanksi. Seperti yang diatur dalam KUHP Pasal 267 ayat 1, Pasal 268 ayat 1 dan 2. Yaitu pidana penjara selama empat tahun,” kata Wiku dalam konferensi pers yang ditayangkan di akun YouTube Sekretariat Presiden, Kamis, 31 Desember.

Tindakan Pemalsuan Sangat Berbahaya

Dia mengingatkan, tindakan pemalsuan surat semacam ini sangatlah berbahaya karena dianggap dapat menimbulkan korban jiwa.

“Dampak pemalsuan bisa menimbulkan korban jiwa. Apabila orang yang ternyata positif menggunakan surat keterangan palsu kemudian menulari orang lain yang rentan. Sehingga jangan pernah bermain-main dengan hal ini,” tegasnya.

Wiku menilai, semua pihak harusnya menyadari jika aturan mengenai surat keterangan rapid antigen ini menjadi sebuah keharusan. Guna mencegah terjadinya penyebaran COVID-19 di tengah masyarakat terutama di tengah musim libur akhir tahun ini.

“Sudah sepatutnya masyarakat menyadari bahwa tindakan pemalsuan surat keterangan tes antigen sangat berbahaya,” ujarnya.(ima/aka)

- Advertisement -spot_img
Nusa Magz Edisi 46

BERITA POPULAR

- Advertisement -spot_img
@nusadaily.com

Istri Selingkuh, Suami Bawa Alat Berat Hancurkan Rumah😱##tiktokberita

♬ kau curangi cintaku - Milan indramayu