Kemenperin Sebut Relaksasi Pajak Bisa Memajukan Industri Otomotif

  • Whatsapp
Memajukan Industri Otomotif
Ilustrasi
banner 468x60

NUSADAILY.COM – JAKARTA – Kementerian Perindustrian (Kemenperin), terus memacu industri otomotif nasional di tengah pandemi Corona (Covid-19). Salah satunya dengan memberikan stimulus.

BACA JUGA: Dorong Ekspor dan Industri Otomotif, Pemerintah Percepat Pembangunan Pelabuhan Patimban

Baca Juga

“Apalagi, industri otomotif merupakan satu dari tujuh sektor, yang mendapat prioritas pengembangan dalam implementasi industri 4.0, sesuai peta jalan Making Indonesia 4.0,” ungkap Menteri Perindustrian (Menperin), Agus Gumiwang Kartasasmita di Jakarta, Sabtu 17 Oktober 2020.

Menperin menyebutkan, potensi pengembangan industri otomotif didukung dengan Indonesia menjadi pasar terbesar kendaraan bermotor di ASEAN, dari sekitar sembilan negara, dengan kontribusi 32 persen.

“Pada 2019, lebih dari satu juta kendaraan dijual di dalam negeri, dan 300.000 telah diekspor ke seluruh dunia,” tuturnya.

Bahkan, keunggulan produk otomotif yang dibuat oleh pabrik di Indonesia telah diakui hingga kancah global. Hal ini tercermin dari capaian Indonesia yang menjadi negara eksportir kendaraan Completely Built Up (CBU), ke lebih dari 80 negara tujuan. Lima negara tujuan utama tersebut di antaranya, yaitu Filipina, Saudi Arabia, Jepang, Meksiko, dan Vietnam.

Penjualan Kendaraan Roda Empat atau Lebih, Mengalami Kenaikan 100 Persen

Agus menuturkan, penjualan kendaraan roda empat atau lebih pada Juli lalu, menembus angka 25.200 unit atau naik 100 persen dibandingkan bulan sebelumnya.

“Penjualan Agustus mencapai 37.200 unit, atau naik 47 persen dari bulan Juli,” ucapnya.

Sementara itu, produksi kendaraan bermotor roda empat sepanjang tahun 2019, mencapai 1,28 juta unit dengan total nilai investasi hingga Rp 92,87 triliun. Sektor ini mampu menyerap tenaga kerja sebanyak 1,5 juta orang, di dalam ekosistem kendaraan bermotor.

“Begitu juga industri kendaraan bermotor roda dua dan roda tiga pada tahun 2019, mencapai 7,29 juta unit. Sebanyak 810.000 unitnya untuk memenuhi kebutuhan pasar ekspor,” paparnya.

Menurutnya, saat ini terdapat peluang yang cukup besar dalam menopang industri otomotif di tanah air, yaitu dengan adanya industri modifikasi kendaraan yang semakin tumbuh dan berkembang.

“Sebab, perkembangan industri modifikasi juga berdampak pada meningkatnya penjualan otomotif secara nasional,” terangnya.

Terlebih, industri modifikasi merupakan sektor berskala kecil dan menengah, yang mampu membuka banyak lapangan kerja sekaligus menggairahkan perekonomian nasional. Hal ini sesuai dengan program prioritas Presiden Joko Widodo (Jokowi), dan sejalan dengan tujuan Undang-Undang Cipta Kerja.

“Kemajuan industri modifikasi, telah meningkatkan daya saing produk-produk dalam negeri. Selain itu, seiring dengan perkembangan industri otomotif, perkembangan industri jasa aftermarket juga kian berkembang positif,” imbuhnya.

BACA JUGA: Dampak Corona, Industri Otomotif Hanya Berharap Pada Kalangan Atas

Ada Tiga Variabel Kuat yang Dapat Dianalisis

Direktur Jenderal Industri Logam, Mesin, Alat Transportasi, dan Elektronika (ILMATE) Kementerian Perindustrian, Taufiek Bawazier mengatakan, dalam kondisi pandemi Covid-19, setidaknya ada tiga variabel kuat yang dapat dianalisis. Yakni pabrik otomotif tutup dan banyak melakukan konversi pada produk lain seperti masker dan ventilator. Kemudian, adanya disrupsi global supply chain, dan melemahnya permintaan.

“Untuk sektor produsennya, kami memberikan IOMKI dan berbagai stimulus pajak usaha, sedangkan untuk demand kami usulkan keringanan pajak PPnBM yang bersifat mendesak kepada Kementerian Keuangan,” tuturnya.

Kemenperin telah mengajukan relaksasi sejumlah pajak untuk mendukung keringanan pembelian kendaraan antara lain pajak Penjualan atas Barang Mewah (PPnBM), untuk mobil baru sebesar nol persen PPN, serta pajak daerah yang mencakup bea balik nama (BBN), pajak kendaraan bermotor (PKB), dan pajak progresif.

Taufiek berharap, agar krisis Covid-19 ini hanya berdampak sementara dan dapat diselesaikan dengan insentif fiskal, mengingat penentu pemulihan ada pada sisi permintaan.

“Relaksasi pajak ini paling tidak memberikan upaya baru membuka demand yang selanjutnya dapat meningkatkan utilisasi industri,” ulasnya. (Via)

Post Terkait

banner 468x60