Ironi Pasien Sembuh COVID-19 Tak Diterima di Masyarakat

  • Whatsapp
Ironi pasien sembuh COVID-19
Salah satu pasien COVID-19 yang sembuh, pulang dari Wisuda di RS LI masih ada penolakan di rumah kost dan tempat kerja.
banner 468x60

NUSADAILY.COM-SURABAYA- Ironi pasien sembuh COVID-19. Ada salah kaprah. Pasien COVID-19 yang sembuh masih tidak diterima di masyarakat. Padahal mereka ini tidak menularkan lagi. Inilah kendala yang dialami sejumlah pasien sembuh dari rumah sakit hingga kini.

BACA: Wali Kota Surabaya Mengajak UMKM Geluti Bisnis Merpati – Imperiumdaily.com

Baca Juga

BACA: Pembahasan SOP Prokes Sektor Bisnis dan RHU di Surabaya Selesai Pekan Depan

Padahal sesuai KMK No. HK.01.07/MENKES/413/2020 tentang Pedoman Pencegahan dan Pengendalian COVID-19, pasien dengan tanpa gejala hingga gejala sedang yang telah dirawat 10 hari dan tidak menunjukkan gejala baru yang timbul, dapat dinyatakan sembuh dan dapat keluar rumah sakit.

Untuk selanjutnya menjalankan isolasi mandiri beberapa hari untuk memastikan tidak adanya gejala lain yang muncul.

Ironinya, masih ada beberapa pasien sembuh namun hasil swab terakhir masih positif. Dari sinilah ditemukan ada penolakan penyintas Covid-19 di lingkungannya dan penolakan dari tempat kerja, karena mensyaratkan hasil swab yang harus negatif.

Seperti dialami, Melati (33) – penyintas yang domisili di Surabaya Selatan ini. Dia bukannya senang namun gelisah. Karena di benaknya ada rasa takut pulang ke kost. Ironi pasien sembuh COVID-19.

Meski diwisuda RS Lapangan Indrapura, dia merasa belum sembuh. Karena pengelola kost yang sudah dikabari tentang kesembuhannya di RSLI, tidak mau menerimanya sebelum menunjukkan hasil swab negatif. Ia minta untuk ditemani pada saat pulang.

Sita Pramesti, relawan pada Program Pendampingan Keluarga Pasien Covid-19 (PPKPC) RSLI memberikan edukasi.

Dia meyakinkan bahwa putusan dari DPJP (Dokter Penanggung Jawab Pasien) itu adalah kesimpulan selama perawatan oleh tim dokter yang ahli menangani Covid-19.

Jadi kesembuhan yang dinyatakan DPJP tersebut sudah dengan pertimbangan medis yang matang dan terukur.

“Sampean harus PD (Percaya Diri) dan yakin sudah sembuh dan siap kembali beraktivitas seperti biasa. Dengan tetap menjalankan prokes selama pandemi masih berlangsung,” papar Sita Senin (15/3/2021).

Selanjutnya, Melati diantar pulang hingga sampai ke tempat kostnya di kawasan Surabaya Selatan. Bahkan relawan pendamping membantu mediasi antara penyintas dengan pengelola kost.

Kepada pengelola kost dijelaskan bahwa Melati sudah menjalani isolasi dan perawatan 10 hari di RSLI. Dinyatakan sembuh oleh DPJP serta sudah tidak membahayakan bagi orang lain.

Potensi Penularan Pasien Sembuh COVID-19 Sangat Kecil

Potensi penularan virus masuk ke tubuhnya sudah sangat kecil. Selama isolasi mandiri tambahan 5 hari yang disarankan agar jangan muncul gejala COVID-19.

Akhirnya mediasi berhasil. Pengelola kost bisa menerima penjelasan tersebut. Namun masih berpikir untuk meminta pertimbangan dari RT dan Satgas Covid setempat.

Selanjutnya RT dan Satgas setempat merespons positif. Selain bisa menerima, juga sanggup mengawasi, koordinasi dan membantu penyintas menyelesaikan isolasi mandiri.

Sebelumnya, Mawar. Penyintas asal Sidoarjo Kota Udang, usai 10 hari dirawat RSLI, tidak diterima perusahaannya.

Perusahaannya, tidak mau menerima hasil swab terakhir yang masih positif. Selama menunggu itu semua biaya harus dia tanggung mandiri termasuk biaya PCR test.

Setelah negosiasi, perusahaan akhirnya mau menerima opsi swab antigen sebagai persyaratan masuk kerja.

“Alhamdulillah swab antigen hasilnya sudah negatif. Hari ini Senin ini, dia bisa bekerja kembali,” ujar Radian Jadid, relawan RSDLI.

Diakuinya dari sejumlah kepulangan pasien sembuh RSLI, sering ditemukan kendala non medis dan menjadi beban tersendiri dalam aktivitas normal di masyarakat.

Pemahaman RT, RW, pengelola kost, masyarakat, kesulitan ekonomi, psikis, dan kondisi semangat pasien mempengaruhi isolasi mandiri tambahan penyintas Covid-19 usai diwisuda.(ima/cak)