Perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW di Masa Khalifah

  • Whatsapp
Museum Ayasofia di Turki
Museum Ayasofia di Turki (Foto : IG @hooltaye_w_podrozy)
banner 468x60

NUSADAILY.COM-RIYADH – Hari Kelahiran baginda Nabi Muhammad SAW merupakan peristiwa agung bagi hati umat Islam di berbagai belahan dunia. Maka tidaklah heran manakala peristiwa Maulid Nabi telah dirayakan semenjak dahulu oleh para pemimpin negara dan khalifah.

Terdapat banyak versi terkait kapan pertama kali perayaan ini dilaksanakan. Imam al-Suyuti berpendapat pertama kali perayaan maulid ini dilakukan secara besar-besaran dan terorganisir pada masa Raja Erbil (wilayah Irak sekarang). Rajanya saat itu bernama Raja Al Mudzoffar Abu Sa’id Kaukabari bin Zainuddin Ali.

Baca Juga

Selanjutnya, perayaan Maulid diteruskan oleh generasi pemimpin negara dan khalifah setelahnya.

Dinasti Fatimiyah

Beberapa buku sejarah mengatakan bahwa daulah Fatimiyah adalah yang pertama kali merayakan peringatan Maulid Nabi. Tentang perayaan Maulid Nabi pada masa dinasti Fatimiyah, Dr. Abdul Mun’im dalam bukunya menjelaskan “Perayaan ulang tahun Nabi pada masa dinasti Fatimiyah terbatas pada pemberian manisan dan sedekah.”

Dinasti Ayyubiyah

Perayaan hari kelahiran Nabi Muhammad SAW pada periode dinasti Ayyubiyah diselenggarakan pada masa pemerintahan Sultan Salah al-Din.

Pada masa itu, Maulid Nabi merupakan sebuah perayaan besar yang digelar setiap tahun. Perayaan tersebut sampai menghabiskan dana sebesar tiga ratus ribu dinar setiap tahunnya.

Karena alasan perbedaan penentuan hari kelahiran Nabi Muhammad, maka secara bergantian, pada tahun pertama perayaan tersebut digelar pada tanggal 8 Robiul Awal dan pada tahun berikutnya digelar pada tanggal 12 Robiul Awal.

Ottoman

Para sultan dari Kekhalifahan Ottoaman memiliki perhatian besar dalam setiap perayaan hari besar umat Islam, termasuk hari kelahiran Nabi Muhammad SAW. Untuk setiap perayaan itu, setiap khalifah akan menentukan pilihannya tentang dimana tempat perayaan itu akan digelar. Ketika Sultan Abdul Hamid II berkuasa, ia memilih merayakannya di Masjid Hamidi.

Pada masa itu, tepat ketika malam tanggal 11 Robiul Awal, para pembesar kerajaan plus segenap jajarannya berdiri berbaris di depan pintu masjid menunggu Raja.

Mereka mengenakan pakaian kebesaran dan memasang lencana di dada. Ketika Raja keluar dari istananya, ia akan dihampiri dengan kuda-kuda terbaik bersama rombongannya.

Raja akan berjalan di antara dua barisan tentara Ottoman untuk menuju masjid dan masyarakat akan berjalan di belakangnya.

Setelah berada di dalam masjid, mereka akan mulai membaca Alquran, kemudian membaca kisah kelahiran Nabi Muhammad, dan kemudian membaca buku tentang kebaikan membaca selawat kepada Nabi.

Sedangkan pada pagi harinya, tanggal 12 Rabiul Awal, para pejabat kerajaan dari berbagai tingkatan akan datang untuk memberi selamat kepada Raja.

Maroko

Sultan-sultan Maroko sangat suka sekali merayakan hari kelahiran baginda Nabi, terutama pada masa pemerintahan Sultan Ahmad al-Mansur. Sultan ini berkuasa di akhir abad ke-10.

Apabila sudah tiba waktu Subuh pada hari kelahiran Nabi, maka Sultan akan keluar dan melaksanakan salat jamaah bersama rakyat. Setelah itu, raja akan duduk di tempat yang disediakan. Sedangkan masyarakat duduk di tempat masing-masing.

Setelah itu khatib akan berkhotbah dan berbicara tentang keutamaan baginda Nabi Muhammad serta mukjizatnya. Kisah kelahiran Nabi Muhammad juga diceritakan.

Ketika sang khotib mengakhiri ceramahnya, orang-orang melantunkan puisi dan pujian-pujian untuk kemudian ditutup dengan prosesi makan bersama oleh segenap masyarakat. (diolah dari sayidaty.net/has/yos).