‘Misteri’ Tiga Koper yang Dititipkan Gus Dur kepada Arek Malang

  • Whatsapp
KH Abdurrahman Wahid (foto: nu.or.id)
banner 468x60

NUSADAILY.COM – MALANG – KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) memiliki banyak kisah unik. Salah satunya kisah tentang  tiga buah koper yang dititipkan ke rumah seseorang yang bernama Agus di  Kelurahan Jatikerto, Kabupaten Malang Jawa Timur.

Seperti dikisahkan oleh Ketua PWNU Jatim KH Marzuki Mustamar yang ditulis oleh  oleh  Muhammad Faizin di nu.or.id, dengan judul Kisah Keikhlasan Gus Dur  pada 12 Agustus 2018 lalu. Menurut Kiai Marzuki, ketika masih jadi presiden Gus Dur berkata kepada Agus untuk tidak membuka koper tersebut sebelum  Gus Dur meninggal dunia.

Maka, sesuai amanah, koper itu tidak dibuka oleh Agus. Namun, setelah Gus Dur meninggal dunia, dibukalah koper tersebut dan ternyata di dalam tiga koper itu  berisi uang sebanyak Rp 3 miliar. Dan yang membuat Agus heran, saat dibuka, uang dalam koper tersebut sudah dimasukkan ke dalam amplop. Yang nantinya, Agus lah yang bertugas untuk membagikannya kepada para anak yatim piatu dan para janda di Kabupaten Malang.

Dan luar biasanya lagi, di dalam amplop tersebut sudah tertulis nama dan alamat yatim piatu dan para janda yang akan menerimanya. Inilah karomah Gus Dur bisa tahu nama dan alamat anak yatim dan para janda sebegitu banyak di Malang.

Padahal kala itu, Gus Dur berada di Jakarta sedangkan para penerima uang dalam koper berada di Kabupaten Malang. Kiai Marzuki pun pernah merasakan sendiri keikhlasan dari Gus Dur saat dirinya mendapatkan sarung merk BHS yang diberikan Gus Dur melalui seorang Habib di Sidoarjo.

Habib tersebut berkata bahwa sarung itu adalah titipan dari Gus Dur yang harus diberikan kepada para kiai setelah Gus Dur meninggal Dunia. Karena ketika dibagi sebelum Gus Dur meninggal, maka para kiai akan mengucapkan terima kasih kepada Gus Dur. Maka itu, sampai sekarang sarung itu pun sangat disayang oleh Kiai Marzuki.

Gus Dur Juga Hadiahi Para Kiai Sarung BHS

Ia menyebut sarung tersebut sebagai piagam dari Gus Dur. Kisah lain keikhlasan sosok Gus Dur adalah ketika ditanya oleh seseorang tentang apa yang paling penting di dalam hidupnya. Gus Dur pun menjawab baginya yang terpenting nomor satu adalah bangsa, nomor dua adalah NU dan nomor 3 adalah keluarga.

Ini pun bukan omongan belaka. Prinsip ini benar-benar dibuktikan oleh Gus Dur saat suatu hari baru kembali dari Italia membawa uang yang cukup banyak. Ia tidak langsung pulang ke rumahnya namun mampir mampir terlebih dahulu di Kantor NU.

Uang yang dibawa tersebut langsung habis dibagikannya kepada seluruh pegawai di kantor NU. Tidak ada yang tersisa untuk keluarga di rumah. Ketika Ibu Shinta Nuriyah (Istri Gus Dur) menanyakan uang tersebut untuk mengirim biaya putrinya yang sedang kuliah di Universitas Gajah Mada, Gus Dur pun menjawab bahwa uang tersebut sudah dibagikannya ke pegawai di Kantor NU.

Ibu Shinta pun jengkel dan menanyakan alasan kenapa uang tersebut dihabiskan di Kantor NU. Di tengah Ibu Shinta meluapkan kejengkelannya, Gus Dur malah bisa tertidur pulas, tidak mendengarkan apa yang dikatakan oleh istrinya. Ternyata prinsip “Emang Gue Pikirin, Gitu Aja Kok Repot” benar-benar tertanam dalam diri Gus Dur.

Ia tetap sabar dan ikhlas walaupun dimarah dan diomong apapun oleh orang lain. Gus Dur tidak punya hasrat agar amal baiknya dipuji oleh orang lain. Yang terpenting menurutnya Allah lah yang akan mencatatnya.

Itulah mengapa saat Gus Dur wafat, orang yang semasa hidupnya mengkafir-kafirkan dan mengatakan Gus Dur sesat dan sebagainya merasa kehilangan dan semua orang pun menangis. Gus Dur memiliki magnet yang sangat kuat karena keikhlasan yang dicontohkannya semasa hidup di dunia. (nu.or.id/aka)

Post Terkait

banner 468x60