Masjid Istiqlal Berdiri Megah Diatas Taman Wihelmina

  • Whatsapp
Umat Islam saat beribadah di Masjid Istiqlal. (ANTARA FOTO/Hafidz Mubarak A)
banner 468x60

NUSADAILY.COM – JAKARTA – Masjid Istiqlal, siapa WNI yang tak pernah dengar namanya. Masjid Megah besutan Presiden Pertama RI, Soekarno ini, sudah sering dikunjungi tokoh dunia, mulai dari Presiden Libya Muammar Khadafi, Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan, Presiden AS Barack Obama dan Bill Clinton.

Masjid ini dianggap sebagai simbol toleransi lintas agama. Salah satu alasannya yang paling menonjol ialah lokasi masjid yang berdekatan dengan Gereja Katedral Jakarta.

Baca Juga

BACA JUGA : Menengok Masjid Istiqlal di Bosnia, Ada Hubungannya dengan Presiden Soeharto – Nusadaily.com

Masjid Istiqlal juga merupakan masjid terbesar di Asia Tenggara dengan kapasitas mencapai 200 ribu orang.

Wakil Kepala Bidang Peribadatan Masjid Istiqlal Abu Hurairah pada pekan lalu sempat berbagi kisah tentang masjid kepada CNNIndonesia.com, mulai dari ide pembangunan sampai perjalanan mengurusnya.

Secara singkat, pembangunan masjid ini diamini oleh Presiden Soekarno setelah Indonesia merdeka. Nama Istiqlal sendiri mempunyai arti ‘merdeka’.

BACA JUGA : Masjid Istiqlal Jakarta Tiadakan Salat Jumat, Begini Kata Imam Besar – Noktahmerah.com

Waktu itu, kata Abu, rumah ibadah untuk umat Islam juga masih sedikit, padah jumlah penganutnya sangat banyak.

“Kira-kira tahun 1955 saat itu. Begitu memproklamasikan kemerdekaan, membangun masjid yang besar dan merepresentasikan jumlah umat Islam di Indonesia,” ucapnya.

Perencanaan dan Pembangunan Masjid Istiqlal

Abu Hurairah bercerita dari awal perencanaan sampai eksekusi pembangunan Masjid Istiqlal banyak perdebatan dan kontroversi.

BACA JUGA : Seluruh Masjid Diimbau Gulung Karpet, Ini Penjelasan Menag – Imperiumdaily.com

Perdebatan pertama masalah lokasi. Waktu itu, ada tiga lokasi yang dipertimbangkan. Namun, Soekarno bersikukuh pada rencana awal. Masjid itu akan dibangun di bekas area Taman Wilhelmina.

Sebelum Indonesia merdeka, di taman itu terdapat benteng pertahanan Belanda saat melawan Inggris. Dengan merdekanya Indonesia dari Belanda, Soekarno ingin memperlihatkan bahwa Indonesia benar-benar berdaulat atas tanahnya sendiri dan dapat menentukan akan dibangun apa di atas tanah itu.

“Taman Wilhelmina merupakan simbol penjajahan bangsa Belanda. Bung Karno menginginkan di atas simbol penjajahan dibangun simbol kemerdekaan berupa Istiqlal,” kata Abu.

Selain itu, pemilihan lokasi ini juga dimaksudkan Soekarno agar terbangun sikap toleransi antar umat. Sehingga, lokasi yang berdekatan dengan gereja katedral adalah pilihan yang tepat.

“Bangsa kita ini majemuk. Yang bisa dilakukan adalah bagaimana penganut agama ini bisa saling menyapa dan melihat,” ujar Abu.

Suasana baru Masjid Istiqlal usai direnovasi. (ANTARA FOTO/M RISYAL HIDAYAT)

Nekat, kontroversial, dan kurang dana

Perdebatan kedua adalah pemilihan perancang masjid. Soekarno lalu membuat sayembara untuk desain Masjid Istiqlal.

Ada puluhan arsitek yang mengikuti sayembara itu. Soekarno juga melibatkan beberapa tokoh dan ulama dalam penjuriannya.

“Ketuanya Soekarno, anggotanya Buya Hamka, ulama-ulama, dan insinyur yang spesialis dalam bidang pembangunan seperti Juanda. Mereka itu yang menjadi tim juri dalam merancang Masjid Istiqlal,” jelasnya.

Pemenang dari sayembara itu adalah Friedrich Silaban. Dia adalah arsitek handal. Ia mengajukan rancangan dengan tema ‘ketuhanan’.

Kemenangan dia sempat menjadi kontroversi, sebab, Friederich Silaban merupakan seorang Protestan dan anak dari pendeta.

Namun perdebatan ini tak berlangsung lama. Sebab, beberapa ulama dan tokoh lainnya tidak mempermasalahkan.

Selain itu, mereka juga meyakinkan, meski berbeda keyakinan, Frederich membuat rancangan dengan serius. Ia membuat apa yang dibutuhkan umat Islam saat beribadah tanpa lupa mengutamakan simbol nasionalisme.

Masalah Biaya Pembangunan

Perdebatan terakhir adalah masalah biaya pembangunan masjid Istiqlal. Abu Hurairah menjelaskan, sebagai negara yang baru merdeka, Indonesia tidak mempunyai banyak uang untuk membangun sebuah masjid besar.

“Kalau saya bilang, keputusan pembangunannya nekat,” ucap dia sambil tertawa.

Tapi berkaca beberapa perdebatan yang sebelum-sebelumnya, para penggagas Masjid Istiqlal selalu menemukan jalan keluar. Begitu pun dengan masalah ini.

Abu Hurairah bercerita, untungnya warga Indonesia masih mempunyai toleransi dan rasa saling membantu atau istilahnya ‘gotong royong’.

Meski Istiqlal adalah masjid milik negara, tapi hampir 90 persen pembiayaan berasal dari swadaya masyarakat.

Masyarakat yang dimaksud oleh Abu Hurairah adalah masyarakat dari berbagai jenis latar belakang yang berbeda-beda.

“Ada orang China yang ikut serta dalam pendanaan. Bahkan ada saudagar kaya yang berasal dari Riau, menyumbang Rp200 juta pada dekade 1950-an itu,” ucapnya.

“Pekerja pembangunannya juga berasal dari latar belakang agama dan suku yang beragam di Indonesia,” lanjutnya.

Setelah melalui berbagai perdebatan, kontroversi, dan masalah pendanaan, akhirnya pembangunan Masjid Istiqlal rampung pada 1978 dan diresmikan oleh Presiden Soeharto.

Masjid Istiqlal hingga saat ini masih berdiri dengan gagah. Ia seakan menjadi saksi bisu perkembangan kebhinekaan di Indonesia.

Selama masa pandemi virus Corona, Masjid Istiqlal masih menutup pintunya demi mengurangi kasus penularan akibat kerumunan.(han)