Ken Umang Cinta Pertama Ken Arok yang Akhirnya Malah Dijadikan Selir

  • Whatsapp
Ken Umang
Ilustrasi Ken Umang yang diduakan oleh Ken Arok. (foto: facebook Pelangi di Langit Singasari)
banner 468x60

NUSADAILY.COM – MALANG – Di balik gelegar apin cinta Ken Arok dengan Ken Umang ada kisah cinta pilu yang dihadapi oleh Ken Umang. Gadis cantik dari kasta sudra yang menjadi cinta pertama Ken Arok.  Ya, jauh sebelum Ken Arok dan Ken Dedes bertemu, sejatinya Ken Umang lah yang setia mendampingi perjuangan Ken Arok dari nol hingga menjadi penguasa Kerajaan Singhasari.

BACA JUGA: Candi Telih Konon Jadi Tempat Selingkuh Ken Arok dengan Ken Umang

Baca Juga

Namuan, dilansir dari ngalam.co, masyarakay awam lebih mengenal sosok Ken Dedes sebagai pendamping Ken Arok ketimbang Ken Umang. Secara fisik, mungkin tak secantik Ken Dedes, tapi Ken Umang lah yang setia mendampingi perjuangan Ken Arok.

Nama Ken Umang sering diceritakan sebagai sosok selir yang jahat dan pendengki. Tak jarang yang menyebutnya sebagai sosok pengganggu hubungan kisah cinta Ken Arok dan Ken Dedes. Yang kala itu menjadi raja dan permaisuri Singhasari. Padahal, jauh sebelum keduanya bertemu, sejatinya Ken Umang lah yang setia mendampingi perjuangan Ken Arok dari nol hingga menjadi penguasa Kerajaan Singhasari.

Dulunya, Ken Umang hanyalah seorang sudra (kasta paling rendah) yang merupakan anak bungsu Ki Bango Samparan, bapak angkat Ken Arok ketika masih muda. Ketika Arok muda ‘ngawulor’ pada bapaknya, Umang yang masih anak-anak sudah memendam perasaan sayang kepada si Arok. Sejak muda belia pun Arok telah mencintai Umang yang masih seorang bocah.

Diceritakan dalam buku Dedes Arok karya Pramoedya Ananta Toer, setiap kali pulang dari berjudi atau mencuri, Arok muda selalu memberi adik angkatnya beberapa barang yang kemudian disimpan Umang. Karena dianggap sebagai titipan dari kakak angkatnya tersebut. Umang sedih ketika kakak angkatnya itu pada suatu ketika meninggalkan rumah Ki Bango Samparan untuk berguru berbagai macam ilmu kepada beberapa brahmana.

Umang akhirnya bertemu lagi ketika Arok kembali ke kampung bapak angkatnya dalam petualangannya merampok uang upeti hasil perasan dari rakyat. Ketika itu Arok telah berusia 20 tahunan dan menjadi brahmana dengan menyandang gelar ‘Ken’ dari Empu Loh Gawe gurunya. Kala itu terjadi pergolakan di Kerajaan Tumapel dengan adanya kerusuhan.

Ken Umang Ikut Berjuang Lawan Tumapel

Belum lagi kemiskinan yang menimpa penduduk yang akhirnya banyak yang mengungsi ke hutan. Untuk menghindari kejaran prajurit Tumapel yang semena-mena terhadap siapapun yang tidak mau membayar upeti. Dalam pelarian itulah Umang yang melakukan pemberontakan bersama gerombolannya bertemu Ken Arok yang ternyata adalah pemimpin puncak gerombolan pemberontak.

Awalnya, Umang merupakan satu-satunya pejuang wanita yang ikut bertempur melawan kesewenang-wenangan prajurit Tumapel. Kemudian, Umang merekrut barisan wanita untuk ikut bertempur di belakang Arok. Bisa dibilang, Umang ini merupakan seorang pejuang sekaligus pemimpin pasukan yang tangguh.

Umang berjuang dengan gigih, tanpa letih dan putus asa dalam gerombolan pemberontak. Otaknya yang cerdas membuat Umang berhasil memimpin pasukannya dan menjadi salah satu pemimpin penting dalam sebuah penyerbuan ke Kutaraja Tumapel.

Dipertemukan takdir dan penderitaan, serta dorongan kisah masa lalu akhirnya menyatukan Arok dan Umang dalam perkawinan sederhana. Oleh Ken Arok, Umang kemudian diberi nama ‘Ken Umang’. Kasih sayang antara bocah ingusan bernama Umang dan Arok si berandal kecil sebagai sepasang suami istri terus berlanjut.

Keduanya pun tetap berjuang menumbangkan Tunggul Ametung dari singgasana kelalimannya. Sayangnya, ketika Ken Arok naik tahta menjadi seorang akuwu dan kemudian raja di Singhasari (sebagai pengganti nama Tumapel), Ken Umang hanya dijadikan selir. Karena posisi permaisuri sudah ditempati oleh Ken Dedes, permaisuri akuwu yang sebelumnya.

Dari perkawinannya dengan Ken Arok, Ken Umang melahirkan empat orang anak, yaitu Tohjaya, Panji Sudatu, Tuan Wregola, dan Dewi Rambi. Kelak, Tohjaya kemudian menjadi raja bawahan di Kerajaan Kadiri (berdasarkan keterangan Prasasti Mula Malurung tahun 1255).(aka)

Post Terkait

banner 468x60