Air Candi Sumberawan Dipercaya Bisa Sembuhkan Luka Tembak Para Pejuang

  • Whatsapp
sumberawan
banner 468x60

NUSADAILY.COM – MALANG – Candi Sumberawan yang berada di hutan pinus milik Perhutani KPH Malang, tepatnya di petak 146 B BKPH Singosari RPH Sumberawan Desa Toyomarto Kecamatan Singosari. Candi Sumberawan berada di ketinggian sekitar 650 meter di atas permukaan laut, di lereng Gunung Arjuno sebelah selatan.

Di kompleks luar candi itu terdapat banyak mata air yang mengalir jernih dan tak pernah kering. Kemudian di dalam kawasan candi terdapat satu sumber air yang diberi nama Sumber Urip yang disucikan oleh umat Budha. Ada pancuran yang airnya berasal dari sumber air yang berada tepat di bawah bangunan Candi Sumberawan.

Baca Juga

Candi Sumberawan memiliki beberapa keistimewaan. Selain satu-satunya cadi Budha di Jawa Timur, di kompleks percandian juga terdapat banyak sumber air. Ada yang berada di dalam kompleks candi dan ada banyak yang berada di luar kompleks. Air tersebut tidak pernah mati sepanjang tahun. Salah satu sumber yang dianggap keramat oleh sebagian masyarakat adalah mara air sumber urip yang berada di pojok timur laut.

Kenapa sumber itu dikenal dengan sebutan sumber urip? Ada banyak serita yang meliputi nama tersebut. Yang pertama, menurut warga, Dusun Sumbebarawan yang menjadi salah satu penjaga candi, konon dulu waktu candi dipugar oleh Belanda dari hutan lereng Gunung Arjuno muncul babi hutan. Lalu oleh orang Belanda yang sedang merenovasi candi ditembak. Seketika babi itu melengking kesakitan lalu berlari mencebur ke mata air di dekat candi tersebut. Setelah itu, babi kembali berlari kencang ke arah hutan. Kata orang dulu, sumber itu bisa menyembuhkan yang terluka, maka disebut sumber urip.

Air Penyembuh Luka

Selain itu, ada juga informasi unik yang disampaikan oleh Pandeta Putra Nirmala, dari Pasraman Wilwatikta Singosari yang saat itu sedang berkunjung mengantarkan jamaah Hindu dari Bali. Menurut dia, dulu pada zaman perjuangan melawan Belanda, jika ada pejuang dari Indonesia yang terkena tembak mereka banyak yang dimandikan di sumber di Candi Sumberawan itu.”Katanya setelah dibawa ke sini (sumber urip) lukanya cepat sembuh,” katanya. Namun, soal benar tidaknya cerita tersebut Pandeta Putra tidak mengetahui secara pasti.

Hanya, sebagai umat Hindu dia juga mempercayai bahwa air suci bisa digunakan untuk berbagai kebutuhan. Sehingga meski dia beragama Hindu, sedangkan candi Sumberawan adalah bangunan Budha, dia tetap menghormati dan sering berkunjung. Tujuan dia bukan untuk menjadikan Candi Sumberawan sebagai tempat ibadah umah Hindu, tetapi datang untuk menghormati karya dan jasa-jasa nenek moyang.

Sementara itu, menurut Nurhadi, salah satu penjaga candi, Candi Sumberawan dibangun di atas air/rawa, dulu airnya kelihatan, tapi oleh Belanda kemudian ditutup. Candi itu diberi nama Sumberawan karena dulu dibangun di atas sumber air dan rawan (rawa). Sehingga kemudian menjadi Candi Sumberawan. Namun, kemungkinan lainnya, dinamakan Candi Sumberawan karena letaknya di Dusun Sumberawan.

Dia menjelaskan, candi ini ditemukan pertama kali oleh penduduk pribumi, yang kemudian dilaporkan ke pemerintah Hindia Belanda tahun 1904. Ketika itu kondisi candi sudah rusak parah, bahkan di tengahnya telah berdiri pohon besar yang kemudian membuat candi runtuh, batu-batunya berserakan. Di tahun 1928-1935 baru ditinjau, lalu pada tahun 1937 dipugar di bawah kendali ahli purbakala dari pemerintah Hindia Belanda. Candi Sumberawan yang memiliki stupa adalah satu-satunya candi Budha di Jawa Timur. Sehingga candi ini termasuk istimewa.

Kapan Candi Sumberawan dibangun? Sampai saat ini belum ada data yang pasti. Namun, menurut Nurhadi, para ahli menduga candi didirikan pada abad ke-14, yaitu pada masa Kerajaan Singosari. Candi Sumberawan itu dulu pada zaman Majapahit ada yang menyebut bernama Kasurangganan. Yaitu daerah yang pernah dikunjungi oleh Raja Majapahit, Hayam Wuruk pada tahun 1359. Ketika itu Hayam Wuruk pergi ke Singosari untuk berziarah kepada para leluhurnya.(aka)