Tangisan Warga Betek, 24 Jam Disiksa Proyek Pembangunan RS BRI, Ini Videonya

  • Whatsapp
tangisan warga betek RS BRI
Peta pembangunan RS BRI, rumah warga yang terdampak berada di sisi kanan bertulis RT 6.
banner 468x60

NUSADAILY.COM-MALANG- Tangisan warga Betek akibat pembangunan RS BRI belum didengar pihak terkait. Warga di Jalan Mayjend Panjaitan, Kecamatan Klojen, Kota Malang, disiksa pembangunan gedung selama 24 jam. Bahkan ada yang sampai mengungsi, rumahnya retak, suara dari proyek juga bising.

BACA JUGA: Komisi C DPRD Kota Malang Sidak Pembangunan RS yang Buat Rumah Warga Retak

Baca Juga

Kalau dillihat dari peta udara, rumah warga dan proyek RS BRI itu memang dempet. Wajar bila pembangunan menimbulkan dampak bagi mereka. Bayangkan, selama 24 jam menerima kebisingan. Orang tua tak bisa istirahat, bayi-bayi tak bisa tidur. Bahkan, anak sekolah yang harusnya daring dari rumah, terpaksa harus pindah.

BACA JUGA: Dikeluhkan Warga, Disidak DPRD Kota Malang, Ini Tanggapan RS BRI

Nusadaily.com melihat langsung ke lokasi, tepatnya di kediaman Agus Rachmadi, ini masuk dalam RT 6 Jalan Mayjend Panjaitan, Kecamatan Klojen, Kota Malang. Rumahnya retak mulai dari lantai 1 hingga lantai 2. Diduga penyebabnya adalah getaran dari alat berat.

Kamar Anak Juga Retak Akibat RS BRI

Tangisan warga Betek RS BRI
Kamar di rumah Agus yang retak akibat pembangunan RS BRI.

Kondisi tembok retak di rumah Agus ini, retak di kamar anaknya. Merembet ke lantai 2 hingga beberapa bagian rumah. Ayahnya sempat mengungsi ke Kecamatan Kedungkandang, berjarak sejauh lebih dari lima kilometer dari tempat tinggal mereka.

“Ada yang ke rumah keluarganya. Kalau ayah saya ke rumah adik saya di Gribig,” aku Agus.

Lantaran getaran alat berat yang turut mengguncang rumah mereka. Keretakan terjadi di beberapa bagian dinding rumah. Jika dibiarkan, dikhawatirkan rumah tersebut bisa roboh. Kata Agus Rachmadi, keretakan tersebut menimpa rumahnya yang jaraknya sangat dekat dengan pembangunan RS tersebut.

“Yang retak mulai kamar anak saya di lantai dua dan beberapa bagian lainnya,” terang dia kepada NusaDaily.com, Jumat (16/10) mewakili tangisan warga Betek atas RS BRI.

Agus menjelaskan, tak hanya rumahnya saja yang terdampak, namun delapan rumah lain yang ditinggali sekitar 10 sampai 13 KK juga ikut terdampak. Sehingga, beberapa warga yang merasa terganggu akhirnya memilih untuk meninggalkan tempat tinggalnya.

“Dalam satu rumah, biasanya lebih dari satu KK. Rata-rata terdampak dan merasa terganggu. Berisik sekali. Anak saya juga sampai tidak bisa sekolah daring,” papar dia kepada induk imperiumdaily.com ini.

Agus berharap, meski ada pembangunan RS, warga sekitar tetap merasa nyaman dan beraktivitas seperti semula.

“Harapannya, bisa tinggal dengan nyaman dan kembali beraktivitas. Apalagi, pembangunan masih terus dilakukan. Padahal, kami meminta sementara untuk dihentikan dulu,” pungkas dia.

Belum Ada Tindak Lanjut, Pihak RS BRI Mengaku Tak Tahu

Nusadaily.com pernah memberitakan kasus ini, sebetulnya kasus ini sudah ditindaklanjuti Komisi C DPRD Kota Malang meminta agar permasalahan pembangunan RS BRI di Jalan Mayjend Panjaitan, Kecamatan Klojen, Kota Malang bisa diselesaikan pekan ini. Namun tanggapan RS BRI tak menggembirakan, mereka berdalih tak tahu.

Ini disampaikan Direktur Utama PT. Bhakti Mandala Husada, Widodo yang juga perwakilan yayasan manajemen. Menurutnya sejak awal perencanaan pembangunan, pihaknya telah melibatkan langsung masyarakat. 

“Tapi kan tidak tahu, jika ternyata masih ada yang belum puas,” kata dia.

Sesuai kesepakatan yang dibuat, proses pembangunan RS BRI tersebut menurutnya telah mengakomodir keinginan warga. Di antaranya, adanya permintaan pemberian kompensasi bagi warga terdampak. Termasuk, permintaan relokasi bagi beberapa warga yang merasa terganggu dengan aktivitas pembangunan rumah sakit.

“Sebenarnya nggak ada masalah, dan setelah itu proses kami serahkan kepada pihak kontraktor,” jelas dia.

Lebih lanjut, Widodo menjelaskan, berbagai proses perizinan telah dilalui oleh pihak yayasan. Semua proses pengajuan izin telah diajukan sesuai dengan prosedur yang telah ditetapkan.

“Kami tegaskan jika perizinan sudah dilaksanakan dan tidak ada yang dilanggar,” terang dia.

Seperti diberitakan sebelumnya,  menyebutkan jika ada sekitar 10 KK terdampak dalam proses pembangunan RS BRI tersebut. Karena pembangunan RS tersebut dinilai tidak meminta persetujuan terlebih dulu kepada warga terdampak.

Warga terdampak menurutnya juga meminta agar proses pembangunan di RS BRI tersebut dihentikan untuk sementara. Sehingga, pembangunan bisa kembali dilanjutkan apabila sudah tidak ada permasalahan lagi dengan masyarakat sekitar.

Menindaklanjuti aduan tersebut, Komisi C DPRD Kota Malang pun melakukan inspeksi mendadak (sidak) sekaligus meninjau proses pembangunan RS BRI yang pengelolaannya menggandeng Yayasan Kesejahteraan Pekerja (YKP) BRI dan Dana Pensiun BRI tersebut, Kamis (15/10/2020).

Belum Tunjukkan Bukti Perizinan

Ketua Komisi C DPRD Kota Malang, Fathol Arifin mengungkapkan, perwakilan warga yang melakukan pengaduan merasa kebisingan dengan aktivitas pembangunan RS BRI tersebut. Bahkan, beberapa memilih mengungsi di rumah kerabat atau kawasan lain untuk menghindari kebisingan.

“Dari aduan yang masuk, hari ini kami konfirmasi langsung ke manajemen rumah sakit dan tinjau lapangan,” terang dia.

Bahkan, dari hasil tinjauan lapangan tersebut, semua proses yang dilakukan untuk proses pembangunan RS sejak awal sudah melibatkan warga hingga sosialisasi terhadap warga.

“Termasuk kompensasi terhadap warga terdampak,” kata dia.

Menurutnya, warga terdampak sebelumnya mendapat kompensasi senilai Rp 4 Juta. Selain itu, izin lingkungan hingga IMB juga telah dipenuhi. Meski demikian, pihaknya tetap meminta pihak manajemen memberikan bukti perizinan hingga pekan depan.

“Kalau sampai belum dikirimkan juga, berarti mereka membohongi kami,” tegas dia.(nda/cak)