Pabrik Imasco Dikhawatirkan Jadi ‘Negara dalam Negara’

  • Whatsapp
pabrik semen imasco
Manajemen pabrik semen Imasco menemui rombongan Komisi D DPRD Jember. (nusadaily.com/ Sutrisno)
banner 468x60

NUSADAILY.COM – JEMBER – Usai mendapat pengaduan dari kalangan buruh, Komisi D DPRD Jember menggelar inspeksi mendadak (Sidak) ke lokasi pabrik semen Imasco yang berada di Kecamatan Puger, pada Senin, 15 Februari 2021.

Sidak dalam rangka mengetahui langsung kondisi dan situasi dalam pabrik, karena menurut penyampaian buruh kepada DPRD mengaku diperlakukan secara diskriminatif antara buruh lokal dengan asing.

Baca Juga

Buruh lokal juga merasa diperlakukan oleh manajemen perusahaan Imasco secara semena-mena. Perlawanan buruh yang menuntut kesetaraan menuai sanksi pemecatan. Sementara ini, masih empat orang buruh mendapat surat pemutusan hubungan kerja (PHK) dari Imasco.

BACA JUGA: Ungkapan Miris Buruh Pabrik Semen Imasco: Seperti Dikurung, Tidak Bisa Sholat Jum’at Takut Kafir

Anggota DPRD Jember, Gembong Konsul Alam mengatakan, bukan hanya berdasarkan penuturan buruh, persoalan lain juga diungkapkan sejumlah instansi bidang ketenagakerjaan yang menyebut Imasco sangat membatasi untuk dipantau.

Imasco acapkali mempersulit pihak berwenang untuk meminta keterangan. “Imasco sangat tertutup, tidak kooperatif dengan instansi pemerintah. Maka dari itu, kami ingin tahu yang sebenarnya,” ujar Gembong.

Legislator yang juga Ketua Fraksi Partai NasDem itu menambahkan, jika sampai benar yang dibeberkan para buruh maupun beberapa pejabat pemerintah, maka kondisi Imasco dengan istilah dikhawatirkan semacam ‘negara dalam negara’.

“Dengan sangat tertutupnya Imasco terhadap instansi pemerintah, saya khawatir pendirian perusahaan di Indonesia sebagai kamuflase untuk mencitptakan lapangan tenga kerja untuk warga negara asing. Perilaku perusahaan yang mengabaikan ketentuan seolah-olah menjadi negara dalam negara,” pungkasnya.

Hingga kini, masih berlangsung Sidak dari rombongan Komisi D bersama sejumlah pejabat untuk meminta masih ke pabrik Imasco.

Sebelumnya, buruh mengadu ke DPRD pada Kamis, 4 Februari 2021. Muhamad Syaihudin, Arif, Bahariawan, Ahmad Nazim Fauzi, dan Ahmad Zubaeri Muzakki adalah buruh yang terkena PHK Imasco.

Menurut mereka, Imasco disebut menerapkan aturan bagi buruh lokal agar tetap berada dalam pabrik tanpa diperbolehkan keluar selama 8 bulan tanpa bisa bertemu dengan keluarga meskipun jarak rumahnya dekat.

“Kami seperti dikurung, karena tidak bisa bertemu keluarga, bahkan sholat jum’at pun tidak bisa,” tutur Muhamad Syaihudin.

Sedangkan, buruh asing diistemewakan oleh Imasco, yakni difasilitasi perusahaan untuk pulang ke negaranya setiap 3 bulan sekali. Selama di dalam pabrik, para buruh asing juga diperlakukan secara berbeda dibandingkan buruh lokal.

Selain itu, protokol kesehatan COVID-19 selalu jadi alasan pembenar bagi perusahaan untuk mengekang ruang gerak buruh, kendati juga penerapannya tidak sama antara buruh lokal dengan asing.

Misalkan, buruh setempat kedapatan rapid test reaktif atau swab positif harus isolasi ke rumah. Lain halnya buruh asing tetap diperbolehkan masuk ke mess berkumpul dengan pekerja lain.

BACA JUGA: Tiga Tahun Berlangsung Gerakan Petani dan PMII Lawan Pabrik Semen Imasco

Kepala Disnakertrans Jember, Bambang Edy Santoso; serta dua orang pengawas tenaga kerja dari Pemerintah Provinsi Jawa Timur, yakni Sofyan Sauri dan Solehudin mengakui Imasco hanya rutin membuat laporan tentang tenaga kerja yang dikirim secara online. Tapi, di sisi selalu kesulitan untuk memeriksa kondisi faktual, karena terbatasnya kesempatan akses masuk ke pabrik.

Laporan Imasco sekadar berupa jumlah buruh, tanpa rincian tugasnya. Data yang ada sebanyak 111 orang pegawai tetap; 144 orang PKWT (pekerja kontrak paruh waktu); dan hanya 2 orang tenaga kerja asing (TKA).

“Yang pekerjaan utama pakai WNA (warga negara asing) tidak tahu. Padahal, pernah kami temukan WNA jabatan quality control ternyata tukang cat. Imasco baru laporan terkini, tapi tanggal pelaporannya tidak ada, kita cek barcodenya nanti akan tahu,” sebut Sofyan. (sut)