Niat Cari Rongsokan, Temukan Mortir Zaman Belanda di Bawah Jembatan KA Rejotangan

  • Whatsapp
الهاون
banner 468x60

NUSADAILY.COM – TULUNGAGUNG – Entah apa yang ada di benak Bluri (41), pencari barang rongsokan asal Desa Bakalan Kecamatan Srengat Kabupaten Blitar. Yang dengan sengaja mengangkat mortir seberat lebih dari 100 kilogram dari dalam air, pada Senin, 27 Juli siang.

Ditemui Nusadaily.com, Bluri bercerita dirinya tidak mengira besi dengan bobot sekitar 100 kilogram tersebut adalah mortir peninggalan jaman Belanda.

Baca Juga

Seperti biasanya, dia berusaha mencari besi rongsokan di sungai yang ada di bawah jembatan kereta api wilayah Nguri Kecamatan Rejotangan. Kemudian dirinya meraba ada besi yang halus. Lalu tanpa berpikir panjang, dirinya langsung menyelam dan mengangkatnya.

“Saya seperti biasa menyelam terus meraba-raba kok halus. Biasanya besi makanya langsung saya naikkan,” ujarnya.

Sesampainya di darat, dirinya baru sadar besi yang dia raba tadi memiliki bentuk mirip bom jenis mortir. Lengkap dengan baling baling kipas pada bagian belakangnya. Langsung saja dirinya menjauh dan mengabarkan temuan tersebut kepada teman-temannya.

“Pas di atas ya kaget kok kayak bom. Langsung saya kabari teman-teman dan dilaporkan ke polisi Blitar, terus ke Polsek Rejotangan Tulungagung,” ujarnya.

Menindaklanjuti temuan tersebut, Kapolres Rejotangan, Iptu Heru Poerwanto mengatakan, pihaknya langsung berkoordinasi dengan Jibom Brimob Kediri untuk mengevakuasinya.

“Kita dapat informasi dari Polres Blitar. Kemudian kita koordinasi dengan Jibom Brimob Kediri untuk evakuasi,” jelasnya.

Heri menjelaskan, secara fisik mortir tersebut memiliki ukuran panjang 103 centimeter dengan diameter 70 centimeter. Kondisinya sudah berkarat dan ada beberapa sampah sungai yang menyangkut di mortir tersebut.

“Ukuran panjangnya 103 centimeter dan diameternya 70 centimeter. Beratnya diprediksi lebih dari 100 kilogram” ungkapnya.

Menjelang malam, tim Jibom Brimob Kediri datang ke lokasi kejadian untuk melakukan evakuasi mortir tersebut. Diperlukan waktu lebih kurang 30 menit untuk mengevakuasi mortir tersebut dengan menggunakan peralatan lengkap.

Gagal Meledak

Anggota tim Jibom Kompi I C Brimob Kediri, Ipda Abdul Rois yang memimpin evakuasi ini mengatakan, mortir tersebut diprediksi berasal dari jaman penjajahan Belanda. Kemungkinan mortir tersebut gagal meledak walaupun sudah dijatuhkan pesawat pengebom dari jarak dekat.

“Kondisinya masih aktif, tapi pemicu bagian depannya sudah hilang, kalau mau diaktifkan lagi ya dipicu ulang, dengan kondisi ini aman untuk dievakuasi dengan peralatan yang kami punya,” pungkasnya. (fim/top)