Kuasa Hukum JE Bersikukuh Tepis Tudingan Korban

  • Whatsapp
Pengelola SMA SPI bersama Kuasa Hukum JE menggelar konferensi pers menanggapi isu yang berkembang selama ini. Dalam acara itu juga melibatkan Ketua LPAI, Seto Mulyadi yang berpartisipasi melalui saluran virtual.
banner 468x60

NUSADAILY.COM-KOTA BATU- Kuasa hukum JE, Recky Bernandus Surupandi bersikukuh apa yang disangkakan kepada kliennya tidak benar. JE, pendiri SMA Selamat Pagi Indonesia (SPI) Kota Batu, tersandung skandal serangan persetubuhan kepada sejumlah siswi di sekolah itu.

Komnas PA yang mendampingi korban menyatakan, jika perbuatan JE itu dilakukan secara berulang-ulang sepanjang 2009-2020. Tercatat hingga kini sudah ada 14 korban JE yang melapor ke Polda Jatim.

Recky berkeyakinan, SMA SPI memiliki reputasi bagus yang ditunjukkan dengan rekam jejak yang memukau. Argumen itulah yang dijadikan Recky untuk menangkal tudingan yang mencuat akhir-akhir ini. Apalagi sekolah itu berpredikat akreditasi A. Hasil itu didapat dari hasil pengawasan dan evaluasi dari Dinas Pendidikan Pemprov Jatim.

“Sehingga jika ada tindakan ataupun temuan yang terjadi di sekolah ini. Maka sudah sejak dulu menjadi perhatian dari tim pengawas dari Dinas Pendidikan dan ditindaklanjuti,” ujarnya.

Ia juga mengatakan, pengawasan secara internal juga dilakukan pembina dan pengawas internal sekolah. Sangat tidak dimungkinkan hal-hal di luar keinginan terjadi karena selalu terpantau.

Di sisi lain, dia juga kembali mengingatkan, pihak-pihak yang tidak berkepentingan agar tidak mengeluarkan opini yang tidak bisa dipertanggungjawabkan. Lantaran, jika opini itu tidak benar adanya. Dampaknya akan dirasakan oleh siswa siswi yang ada di Sekolah SPI.

Tak berhenti disitu, pihaknya juga menyampaikan sebuah klarifikasi, dimana terkaitan laporan yang melibatkan JE tidak ditemukan laporan tentang kekerasan fisik dan eksploitasi ekonomi. Pihaknya hanya melihat laporan pasal 81 junto 6B, tentang UU Perlindungan anak yang intinya berhubungan dengan persetubuhan dan perbuatan cabul.

“Kami juga ingin menyampaikan, jika beberapa hari yang lalu, dua perwakilan sekolah SPI telah dimintai keterangan sebagai saksi di Polda Jatim. Yakni Kepala Sekolah SPI dan Kepala Pembangunan,” ungkapnya.

Recky juga menjelaskan metode pembelajaran yang dijalankan di sekolah ini. SMA SPI memiliki pembelajaran jalur ganda yang menggabungkan pembelajaran akademik reguler dan program unggulan berupa unit praktek lapangan (UPL) sebagai pengembangan keterampilan.

“Siswa yang mengikuti program tersebut akan mendapatkan sertifikasi. Sehingga melalui sertifikasi itu, bisa mempermudah untuk memperoleh pekerjaan di kemudian hari. Program tersebut juga diawasi oleh Dindik Jatim dan Kota Batu,” terang dia.

Dia menegaskan, kegiatan pengembangan tersebut dilakukan pada jam pembelajaran dan diawasi okeh guru pendamping. Sementara, mengenai masih adanya alumni yang tinggal di asrama sekolah tersebut. Merupakan murni keinginan dari para alumnus tersebut.

“Para alumnus yang masih berada disini mereka kami fasilitasi. Namun tidak semua alumnus bisa tetap bertahan disini, ada seleksi dan kriteria yang kami ambil. Salah satunya adalah rekam jejak selama dia menjadi siswa di SMA SPI. Namun yang jelas, di SPI tidak membuka lowongan pekerjaan untuk alumni,” ujarnya.

Disisi lain, dirinya juga menyayangkan dengan adanya salah satu ormas yang melakukan unjuk rasa beberapa hari yang lalu. Bahkan mereka bisa masuk ke dalam lingkungan sekolah. “Tentunya karena ada tindakan seperti itu, secara normal pasti siswa-siswi yang ada di dalam sekolah merasa khawatir. Terutama para wali murid yang tentunya menghawatirkan keselamatan anaknya,” katanya.

Isu yang mencuat luas berkaitan dengan SMA SPI membuat sejumlah kalangan terhenyak. Bahkan Ketua Lembaga Perlindungan Anak Indonesia (LPAI), Seto Mulyadi menaruh perhatian terhadap polemik yang muncul belakangan ini. Ia tak menyangka, sekolah hebat seperti SMA SPI dihadapkan pada polemik yang meruntuhkan reputasi memukau yang melekat selama ini.

Selain merasa kaget, dia juga sangat prihatin dengan munculnya kasus tersebut. Karena menurutnya, selama ini, dia mengenal Sekolah SPI sebagai sekolah yang berprestasi, baik dikancah nasional maupun internasional. Bahkan dirinya juga pernah menyatakan jika Sekolah SPI patut menjadi model percontohan untuk sekolah lain di seluruh tanah air.

“Di Sekolah ini potensi anak didik tidak hanya digali dari segi akademik saja. Namun dari segi bakat dan minat juga terus digali dan dikembangkan. Bahkan hasilnya juga sudah bisa dilihat bersama,” ujar pria yang akrab disapa Kak Seto. Pernyataannya itu disampaikan melalui saluran virtual.

Salah satu yang paling dikenang dan dikagumi okeh Kak Seto dari Sekolah SPI adalah pagelaran teatrikal yang tidak kalah dengan pagelaran milik Guruh Soekarno Putro. “Saya terkejut setelah mendengan dan membaca pemberitaan yang ada. Oleh karena itu, saya mohon kepada berbagai pihak agar senantiasa menghargai proses hukum yang berlaku. Serta senantiasa menjunjung tinggi asas praduga tidak bersalah,” terangnya.

Oleh karena itu, dirinya memohon dari berbagai pihak untuk tidak melakukan stigma bertubi-tubi melalui opini ataupun pernyataan yang menjatuhkan. Karena dengan adanya hal tersebut, akan menyebabkan anak-anak yang ada di lingkungan sekolah berada dalam tekanan psikis. Sehingga tidak mau belajar dan memilih pulang.

“Dalam waktu dekat ini, saya akan berkunjung ke Kota Batu untuk melihat kondisi dan situasi yang ada. Selain itu, tujuan saya ke sana juga untuk membesarkan hati anak-anak. Karena dengan adanya pemberitaan yang seharusnya belum selayaknya diungkap oleh salah satu pihak,” katanya.

Tak hanya itu, dia juga memohon agar tidak ada lagi demo-demo disekolah tersebut. Lantaran bisa saja mengganggu kondisi psikologis peserta didik yang masih ada di dalam sekolah. Menurut Kak Seto, SMA SPI, sangat membantu pemerintah untuk mengentaskan kemiskinan dan membantu anak-anak dari keluarga tidak mampu untuk mendapatkan pendidikan yang layak.

“Adik-adik tetaplah belajar dengan gembira. Ungkapkan kepada guru pembina apabila ada suatu hal yang tidak mengenakan,” pesannya kepada peserta didik di SMA SPI.(wok/aka)