Sabtu, November 27, 2021

NUSADAILY.COM STORIES

BerandaOpinionVITCOMING, Solusi Generasi Mileneal

VITCOMING, Solusi Generasi Mileneal

Mengenal Ragam Generasi

- Advertisment -spot_img

Oleh: Abd. Muqit

Secara akademik religi, generasi muncul setelah turunnya Nabi Adam AS ke muka bumi. Nama bagi suatu kelompok masyarakat  umumnya istilah yang dikenalnya berupa kaum, misalnya kaum Tsamud dan lainnya.

- Advertisement -Iklan BTC Guest House

Demikian juga kelompok masyarakat dikenal dengan istilah lainnya, yaitu Bani, milsalnya Bani Israel dan lain sebagainya.

Kemudian. di era kontemporer munculnya istilah generasi ini setelah dipopulerkan oleh dua pakar sejarah dan penulis Amerika, William Strauss dan Neil Howe dalam beberapa bukunya Generation pada tahun 1987.

Baca Juga: Industri Hulu Migas Pamalu Budayakan Bulan K3 di Perguruan Tinggi

Keduanya memperkenalkan istilah generasi “mileneal” atau dalam bahasa Indonesia dikenal dengan istilah “Langgas”.

Generasi ini dikhususkan untuk menyebut pada anak-anak yang lahir antara tahun 1980 an sampai dengan awal tahun 1995-2000 an. Generasi ini juga dikenal dengan istilah generasi Y.

Kelompok Generasi Y ini dikenal sebagai Milenium. Generasi ini  lahir antara tahun 1980 dan 1995. Istilah Millennial muncul tahun 1991 dan diperkenalkan oleh sejarawan Neil Howe dan William Strauss dalam buku yang berjudul Generations. Mereka memutuskan label berdasarkan fakta bahwa generasi Millenial yang paling tua diasumsikan  akan menyelesaikan/lulus SMA pada tahun 2000.

Baca Juga: Industri Hulu Migas Pamalu Budayakan Bulan K3 di Perguruan Tinggi

Secara umum, generasi ini meliki tingkat pendidikan lebih baik dari pada generasi-generasi sebelumnya, Baby boomer dan Generasi X. Generasi ini juga identik dengan masalah  pekerjaan dan kesejahteraan finansial.

Generasi ini akan melihat terjadinya  kesenjangan yang tajam antara kekayaan ekonomi mereka yang memiliki pendidikan tinggi dan mereka yang tidak.

Kesejahteraan finansial generasi ini dapat dianggap lebih rumit. Penghasilan individu untuk pekerja muda sebagian besar tetap datar selama 50 tahun terakhir. 

Sejauh kekayaan rumah tangga, generasi Millenial tampaknya menumpuk sedikit lebih daripada generasi yang lebih tua pada usia yang sama. Generasi ini juga mengalami dan merasakan resesi hebat. Kelompok ini mengalami keterlambatan dalam membentuk rumah tangga.

Baca Juga: Suku Baduy Nol Kasus COVID-19

Mereka lebih cenderung tinggal di rumah orangtua mereka dan juga lebih mungkin berada di rumah untuk waktu yang lama. Generasi ini juga berfikirnya cenderung egois. 

Berdasarkan sebuah hasil penelitian yang dilakukan pada 2016 menemukan bahwa Millennial percaya bahwa generasi ini lebih narsis daripada generasi sebelumnya. (Mereka yang disurvei dari generasi yang lebih tua menilai Millennial juga lebih narsis.)

Untuk lebih jelasnya dalam mengetahui ciri-ciri khas generasi millineal tersebut dapat dilihat dalam gambar berikut ini:

Gambar di atas menunjukkan ciri-ciri khas yang dimiliki oleh para kaum millineal.

Generasi Millenial memiliki masalah psikologis yang sangat besar. Umumnya mereka sangat cemas. Satu survei yang dilakukan atas nama Quartz pada tahun 2018 menemukan bahwa karyawan Millennial (dan beberapa Gen Z) berusia antara 18 hingga 34 tahun mengalami kecemasan yang mengganggu pekerjaan dan depresi hampir dua kali lipat tingkat pekerja yang lebih tua. 

Baca Juga: Sumpah Pemuda dan Bahasa Ambyar Multikultural

Prinsip Dasar  Generasi Milenial

Sebagai salah satu generasi yang besar dan berkembang saat ini, ternyata generasi milenial memiliki beberapa sifat mendasar, di antaranya:

No Gadget No Life

Gadget menjadi kebutuhan para generasi millineal yang paling utama. Saking pentingnya bagi mereka kemudian, muncul adagium “No Gadget No Life”.

Dengan tidak memandang usia, gadget saat ini menjadi separuh jiwa mereka. Memang, kemudahan-kemudahan yang ditawarkan, ditambah dengan akses internet tak terbatas membuat para milenial betah berselancar dengan gadgetnya.

Baca Juga: Gerindra Klaim Tepat Ajukan Prabowo di Pilpres Karena Favorit Milenial

Gaya hidup konsumtif

Secara umum generasi millineal lebih memahami dang menguasahi teknologi/melek tekhnologi dari pada generasi sebelumnya.Kecendrungan mereka adalah menngunakan fungsi teknologi sebagai personal branding dia.

Dengan demikian imagenya akan berguna untuk meningkatkan satus sosial yang menurutnya sangat penting bagi kelangsungan eksistensinya.

Salah satu gaya hidup milineal adalah konsumtif. Gaya hidup ini terasa melekat dan identic dengan gaya mereka.

Cara mjereka memenuhi kebutuhannya adalah dengan berupaya meningkatkan image mereka dalam interaksi milineal. Interaksinya, maaf cenderung untuk wah…saja dan pamer untuk menunjukkan bahwa mere bisa dan mampu.

Mereka suka berbelanja mengguinakan online shop dan gadget. Kalau dilihat cara mereka berbelanja, tentu saja membutuhkan dana yang cukup.

Yang menjadi persoalan adalah apakah mereka berbelanja memakai uang sendiri atau masih meminta kepada orang tuanya.

Jika mereka bisa mandiri dalam keuangan, itu tidak masalah. Yang menjadi persoalannya adalah bimana mereka masih meminta kepada orang tuanya.

Ini patut disayangkan, karena untuk menjaga eksistensinya, mereka masih tergantung orang lain dan tidak mandiri.

Suka dengan yang serba cepat dan instan

Selanjutnya, kebiasanan generasi millineal adalah menginginkan sesuatu serba cepat tanpa menunggu suatu proses.

Kebiasaan seperti ini sangat mencolok dan menjadikannya suatu perbedaan yang demarkatif dengan para generasi sebelumnya.

Kenapa demikaian? Karena mereka sudah dibekali dengan teknologi yang sper cpat dan dan canggih menggunakan gadget. Segalanya tinggal pencet saja.

Kecendrungan yang dialami para millineal adalah mereka tidak mau ambil ribet dan sulit dalam melakukan suatu aktifitas, terutama dalam melakukan usaha. Mereka cepat dalam mengambil keputusan tetapi sedikit abai dalam meneria masukan dari orang tuanya.

Umpanya sebagai contoh adalah membuka usaha kecil-kecilan di bidang digital entrepeneur muda. Banyak aspek yang perlu dipertimbangkan ketika membuat keputusan penting tersebut.

Namun, karena mereka menganggap dirinya capable, mereka tidak menganggap penting saran kedua orang tuanya. Akibatnya pasti, usaha tersebut tidak berjalan mulus.

Nah, inilah yang merupakan point negative dari kelompok generasi dengan kategori ini. Walaupun dapat difahami bahwa tidak semua generasi berbuat seperti itu. Tapi kebanyakan dari generasi tersebut demikian.

Experience dari pada Asset

Karena keberadaan generasi millineal dianggap sebagai generasi yang mampu dalam mengelaborasi dunia maya sesaman, maka mereka lebih suka beprgian (experience) dari pada meng investasikan asset.

Menurutnya aseet bisa diperoleh kemudian, tetapi pengalaman tidak. Oleh sebab itu ada prinsip bagi mereka saving later, experience first. Bila sudah demikian, keluarga dan orang tuanya yang serba salah dan repot.

Kritis terhadap fenomena sosial (socially critical)

Generasi millineal umumnhya memiliki perasaan kritis terhadap fenomena sosial yang timbul di sekitarnya. Ke kritisan ini muncul karena mereka dengan mudahnya mampu berselancar di dunia maya.

Hal ini menyebabkan mereka mendapat input informasi yang melimpah sehingga mereka menjadi tahu apa yang telah terjadi non jauh di sana.

Oleh sebab itu, maka tak heran jika generasi millineal mampu beropini secara bebas di media sosial mengana masalah yang sedang hangat-hangatnya terjadi.

Apatis terhadap aktifitas rumah tangga

Para Milenial rata-rata memiliki waktu cukup banyak di depan PC, mcelluler dan android mereka. Jika dikalkulasi kurang lebih hamper 20 kalinya mereka bermain android dan ointernet dari pada generasi sebelumnya.

Hal ini juga menjadi salah satu sebab keengganan para millineal melakukan aktifitas rumah tangga seperti generasi terdahulu.

Seringkali mereka bakal mencari alasan yang beragam saat dimintai bantuan oleh Ibunya, ada yang menunda dan bilang masih membalas chat atau melanjutkan streaming video di youtube.

Malas dalam interaksi

Kebiasaan millineal juga berdampak terhadap kepekaan interaksi sosial. Jalinan interaksi mestinya dimulai dari rumah tangga dalam lingkungan keluarga, namun mereka enggan melakukannya karena terpedaya dengan; program yang mereka ikuti sendiri.

Memang tidak dapat dipungkiri bahwa bisa jadi ara milenial memiliki  ratusan teman dan ribuan followers di instagramnya, tetapi mereka tidak memiliki teman yang banyak di dunia nyata.

Maslah seperti ini yang dapat membuat resah orangtua karena tahu bahwa anaknya kurang bisa bersosialisasi di dunia nyata. Ini disebabkan karena hamper 90% hidup digunakan ungtuk melakukan interaksi sosial.

Abai terhadap saran orangtua (ignoring parents)

Untuk mendapatkan personal branding yang diinginkan, para milenial selalu terpacu untuk menuai komentar atau review positif dari orang lain.

Jika personality yang dimiliki mereka tidak kuat, bukan tidak mungkin tekana media sosial (social media pressure) akan membuat mereka depresi.

Nah, karena itu, mereka sewjarnya menempatkan keluarga dan orang tua di atas segalanya. . Dalam hal ini, terkadang para milenial mengabaikan arahan orangtua sehingga hal buruk seperti ini kerap terjadi.

Jika demikian, apa yang harus dilakukan? Salah satu cara yang perlu dilakukan afdalah merubah generasi millineal menjadi generasi Hebat (Excellent Generation).

Ciri-ciri generasi hebat (Excellent Generation) menurut Ibnu Abbas dan Sayyidina Ali sebagai berikut:

  1. Penyantun,
  2. Bijaksana,
  3. Faham tentang agama
  4. Berilmu
  5. Pandai mengambil Hikmah
  6. Berlandaskan morality

Selanjutnya, untuk mencapai predikat sebagai generasi Excellent, diperlukan langkah-langkah dalam upaya mencapainya. Adapunlangkah-langkahnya dikebal denga istilah VITCOMING.

Istilah ini merupakan terobosan baru dalam mengurai masalah yang muncul di era generasi mileneal. Vitcoming ini sangat tepat diperkenalkan sebagi salah satu solusi dalam merubah generasi mileneal menjadi generasi excellent.

Konsep Vitcoming terdiri dari Vision, Training, Cooperation, Imaging, and Marketing.

Pendekatan ini di desain sedemikian rupa, dan konsepnya kembali kepada kosep excellent generation yang terdiri dari Vision, Training, Cooperation, Imaging, dan Marketing.

Konsep ini dijalankan berlandaskan nilai moral (morality value) dengan beasas pada konsep right path way, sebuah konsep yang memberikan penjelasan bahwa hidup manusia hanya sebentar dan perlunya mengisinya dengan penuh kebaikan dan demi kepentingan orang banyak (for people sake).

Semoga dengan pendekatan VITCOMING, keresahan dari para orang tua dalam menghadapi generasi mileneal dapat terati denganm baik, amien. Semoga.

Penulis adalah dosen Politeknik Negeri Malang (Polinema), dan pengurus DPP Cebastra.

- Advertisement -spot_img
spot_img
- Advertisement -spot_img

BERITA POPULAR