Simfoni Cinta Ho Eng Dji

  • Whatsapp
Kebesaran Hati Ho Eng Djie
Ungkapan Kebesaran Hati Ho Eng Djie Melalui Lagu Daerah Makassar
banner 468x60

Oleh: Dr. Sitti Aida Azis, M.Pd.

Manusia adalah  makhluk sosial yang dalam memenuhi kebutuhan hidupnya harus berinteraksi dengan orang lain. Oleh karena itu manusia cenderung hidup berkelompok dan bermasyarakat. Kelompok tersebut bersepakat membuat aturan yang mengatur sikap, bertingkah laku dalam lingkungannya.

Selanjutnya, berkembang menjadi prinsip, pedoman dan pandangan hidup yang harus dipatuhi dan dijalankan oleh setiap individu dalam masyarakat tersebut.

Masyarakat   Bugis Makassar masih berpegang pada prinsip (falsafah) hidup siri’ na pacce (siri’ na pess, Bugis). Falsafah tersebut tertanam kokoh dalam sanubari  masyarakat Bugis Makassar sebagai pandangan  hidup yang perlu dipertahankan kapan dan di manapun mereka (orang Bugis Makassar) berada.

Sebagaimana ungkapan Syahrul Yasin Limpo, bahwa antara siri’ dan pacce selalu seiring sebagai satu kesatuan yang tidak terpisahkan. Apabila siri’ dan pacce sebagai pandangan hidup tidak dimiliki oleh seseorang, maka berakibat orang tersebut bertingkah laku melebihi binatang (tidak punya malu/siri’).

Baca Juga: Empat Pilar untuk Harmonisasi dan Keluhuran Budaya Bangsa

Karena tidak memiliki unsur kepedulian sosial dan hanya mau menang sendiri (tidak merasakan sedih/pacce). Ungkapan yang dimaksud dalam bahasa Makassar punna tena siriknu, pakniaki paccenu (kalau kamu tidak punya malu, upayakan kamu punya iba).

Falsafah siri’ terwujud  membela kehormatan terhadap orang yang mau menghina atau merendahkan harga dirinya, keluarganya maupun kerabatnya, sedangkan falsafah pacce diwujudkan  membatu sesama dalam  kesusahan, dan atau yang sedang  mendapat musibah.

Baca Juga: Dari Bandar Jakarta sampai Geger Gelgel

Ada ungkapan sebagian orang bahwa “suku (orang) Makassar itu kasar”. Sebenarnya bukan kasar hanya intonasinya yang agak tinggi dibanding suku lain di Indonesia.

Hal  ini terjadi karena leluhur terbiasa hidup di sekitar laut yang kadang mengharuskan mereka berteriak saat berbicara untuk mengimbangi suara ombak.

Di samping itu, karakter orang Makassar terbuka, seumpama baik, pasti dikatakan baik, demikian pula jika tidak baik pastikan dicela, atau langsung dikatakan “saya tidak suka”, “bicara kamu tidak sopan”.

Falsafah pace na sirik  dijadikan pedoman dalam menjalankan kehidupan sehari-hari dan terbentuk menjadi budaya. Hal ini tergambar dalam film  Ati Raja. Film  yang dibintangi anak Makassar inimerupakan karya yang diangkat dari kisah perjalanan Hoe Eng Dji.

Baca Juga: Anthony Hopkins, Peraih Oscar 2021 untuk Kategori Aktor Terbaik

Shaifuddin Bahrum (Udin) sebagai  penulis memunyai tujuan ingin mengungkapkan isi hatinya dan menyampaikan kepada masyarakat tentang realita kehidupan yang terjadi di sekeliling pembaca dan penonton, terkait masalah tidak diterimanya masyarakat etnis Tionghoa di bumi Makassar.

Di samping itu, melalui film Ati Raja, tergambar percintaan tokoh utama yang penuh onak dan duri.

Awal mulanya orang-orang Tionghoa dan pribumi Bugis-Makassar hidup rukun. Perkembangan  selanjutnya, sebagian etnis Tionghoa menikah dengan orang Bugis-Makassar dan mengadopsi budaya setempat.

Mereka berbaur dengan pribumi, mereka inilah yang dinamakan Tionghoa peranakan. 

Setelah G30S/1965, kerukunan dan kedamaian menjadi sirna.  Masyarakat   Tionghoa diganyang dengan isu Tionghoa adalah Komunis Indonesia. Udin melihat masalah sosial masa itu cukup besar, sehingga beberapa tokoh Tionghoa tertekan dan banyak meningglakan Makassar.

Gejolak perasaan tertekan  Ho Eng Dji terhadap tanah Makassar, dengan tuturannya “Mengapa kita tidak merasa bahwa kita ini orang Makassar saja. Tidak usah kita membawa bahwa kita ini orang Cina atau Tionghoa.

Toh kita sudah menjadi orang Makassar, nenek kakek kita orang Makassar. Sudah lahir dan dibesarkan di sini. Makan dan minum dari tumbuhan dan mata air terpancar dari bumi Makassar. Jadi kita ini sudah orang Makassar”.

Hal tersebut, terasa gejolak batin Ho Eng Dji yang dilahirkan di tanah Makassar dan seluruh keluarga besarnya tidak pernah pulang. Kenapa tidak bisa diterima sebagai penduduk Makassar? Mereka (orang Cina) ingin diperlakukan adil, ingin dihargai, dan ingin diakui sebagai orang Makassar.

Penguasaan etnis Tionghoa dalam  bidang ekonomi membuat semacam jurang pemisah dengan penduduk  asli. Mereka kaum pendatang tetapi menguasai bidang vital.

Hal ini pulahlah yang terkadang menimbulkan kecemburuan sosial yang memicu konflik antar pribumi dan kaum pendatang. Di mana ada pusat kegiatan ekonomi, maka di situ dipastikan warga negara Indonesia keturunan Tionghoa yang dominan.

Ada terlihat  unik antara pribumi dan  etnis China. Orang Makassar memberi kesan bahwa tidak ada orang China yang miskin. Penonton dituntut  untuk kembali mengingat sejarah bahwasanya China pada masa itu diberi perlakuan khusus oleh Belanda (penjajah).

Kehadiran etnis Tionghoa atau China peranakan tidak bisa dipisahkan dari perkembangan budaya, ekonomi dan sosial di tanah Bugis- Makassar. Ambillah misalnya, orang Bugis relatif banyak yang  bekerja dan menggantungkan nasibnya pada orang Tionghoa yang membuka lapangan pekerjaan.

Alur cerita film Ati Raja yang membuat penonton baper adalah perjalanan percintaan tokoh utama (Ho Eng Dji) penuh liku-liku. Ia ditinggal nikah oleh Ay Lin. Sementara itu  cinta  pertamanya Yang Tju memilih laki-laki lain.

Berganti-ganti pacar yang berakibat hamil di luar nikah yang merupakan aib bagi masyarakat. Hal ini terjadi karena ulah ibunya menjadikan  anaknya sebagai lahang mencari nafkah.

Demi membayar utang-utangnya yang setiap hari kedatangan penagih, memaksa anak gadisnya ke beberapa pemuda kaya dan wajah tampan.

Setelah diketahui bahwa Yang Tju hamil, mamanya putus harapan. Diambilnya jalan pintas menggantung diri dalam kamar. Di depan rumahnya ramai orang-orang menyaksikan,  ada apa yang terjadi di rumah Yang Tju.

Di antara kerumuman itu, tiba-tiba, Ho Eng Dji muncul, melangkah perlahan-lahan mendekati pintu rumah yang terbuka itu. Seorang laki-laki membawa tangga bambu, perlahan-lahan ia melewati ruang tamu dan melihat sebuah kamar yang terbuka.

Ho Eng Dji melihat  kaki ibu Yang Tju tergantung dan tubuhnya terlindung oleh dinding di atas pintu kamar. Kaki tergantung itu bergerak sesuai arah tali gantungnya.

Beberapa detik Ho Eng Dji memandangi sepasang kaki itu dengan wajah yang kusut. Lalu dari balik dinding kamar tampak perlahan wajah Yang Tju yang hanya bisa terdiam dan mata nanar. Tak tahan Yang Tju menumpahkan dukanya ke pundak Ho Eng Dji.

Yang  Tju mengalami tekanan batin yang amat parah akibat mamanya bunuh diri, ditambah pula hamil di luar nikah. Ia menjadi gila dan tidak terurus. Kecantikannya punah di ujung  pataka.

Kejadian tersebut, tidak ada luka fisik baik Ho Eng Dji maupun Yang Tju. Ada sakit yang ditimbulkan oleh mama Yang Tju, ialah hinaan. Ukurannya adalah kekayaan, pekerjaan, ketampanan. Ia disandingkan dengan binatang yang mengais sampah. 

Sementara Yang Tju dalam posisi sebagai anak tidak  memiliki kebebasan hak dalam menetukan pasangan. Di masa lalu, perempuan Tionghoa tidak dapat memilih calon suaminya sendiri, padahal Yang Tju sangat mencintai Ho Eng Dji. Demikian pula sebaliknya.  

Keduanya hanya bisa bercinta dalam hayal, pernikahan sirna, membina rumah tangga hanya fatamorgana.

Ho Eng Dji akhirnya mempersunting seorang janda beranak dua. Istrinya ini adalah mantan istri dari temannya sendiri, Sulaeman. Hal ini pun menjadi perbincangan dalam lingkungan sosial. Mama Hong Eng Dji  berpikir, omongan tetangga tidak sepenuhnya dibenarkan dengan alasan apa pun sebelum mengecek kebenarannya.

Ibu dan saudara Ho Eng Dji merasa tidak enak dengan gosip tetangganya. Maka dari itu tindakan yang diambil adalah menanyakan secara langsung ke Hong Eng Dji. Tidak baik membawa istri teman sendiri apalagi mereka sudah punya anak dua.

Omongan tetangga tidak enak didengar. Hong Eng Dji membela diri dan menyampaikan ke ibu dan saudaranya. Dia hanya membantu membawa anak dan istri Sulaeman. Ini untuk menghindari kekerasan yang dilakukan oleh Sulaeman. Akibat rasa iba yang diderita istri kawannya, maka Hong Eng Dji memilih untuk menikahinya setelah berstatus janda

Demikianlah uraian singkat  film Ati Raja. Film ini diramu dari kisah perjalanan hidup seorang seniman keturunan Tionghoa bernama Ho Eng Dji.

Ia memiliki nasionalisme tinggi,  mampu menghilangkan dan mengabaikan sekat antar-etnis dengan karya-karyanya sebagai seorang penyair dan pemusik. Karya-karyanya  masih lestari sampai sekarang. Ambillah misalnya lagu: Ati Raja, Sailong, Dendang-dendang, dan Amma Ciang.

Di balik judul film  ada makna,  bahwa Ati Raja merupakan pengucapan rasa syukur, sikap keberserahan diri pada Tuhan dan kebesaran hati menerima ujian kehidupan. Semoga bermanfaat.

Makassar, 16 Juni 2021

*Penulis adalah dosen Universitas Muhammadiyah Makasar, dan Sekretaris 1 DPP Cebastra