Senin, Juni 27, 2022
BerandaOpinionSerpih - serpih Perjalanan ke New York (6)

Serpih – serpih Perjalanan ke New York (6)

Oleh: F.X. Dono Sunardi

Tulisan ini merupakan lanjutan dari seri sebelumnya, tentang perjalanan darat penulis dari Worcester di Massachusetts. Tempat dia belajar antara 2009-2011, ke New York City dan kota-kota kecil di sepanjang Jersey Shore.

- Advertisement -Iklan BTC Guest House

Karena perjalanan ini secara aktual sudah terjadi lebih dari satu dasawarsa silam. Pasti ada banyak detail yang tidak lagi tepat atau relevan dan perlu dicek ulang.

Namun, seperti sebagian besar tulisan perjalanan, yang tidak kalah penting dari informasi faktual yang coba disampaikan. Kisah penulis dan interaksi sosial dan budaya dengan orang-orang yang dijumpainya dapat lebih merupakan elemen menarik.

Akan ada 9 seri tulisan ini, dan kesemuanya pernah penulis posting di laman Facebook penulis. Selamat menikmati.

New York – New Jersey: Jumat, 21 Agustus 2009

Kurang lebih seperempat jam pertama keluar dari New York dengan kereta NJ transit dilalui di lorong bawah tanah yang menembus kedalaman Sungai Hudson yang memisahkan pulau Manhattan dengan kota satelit bernama Hoboken. Hoboken adalah semacam Tangerang-nya Jakarta bagi New York.

Orang tinggal di sana dan bekerja New York. Lorong panjang itu muram, di kanan-kirinya lampu neon mengular panjang seakan tiada henti. Di beberapa bagiannya, aku membaca papan iklan besar; menandakan tiadanya tempat yang tak terjangkau oleh hasrat kapitalis untuk mengeksplorasi kesempatan.

 Aku tak tahu apakah hujan yang mengiringi kedatanganku di Penn Station tadi masih berlanjut atau sudah selesai. Melalui lorong ini membuatku teringat pada lorong kereta api bawah tanah yang menembus perbukitan di sekitar Purwokerto yang panjangnya tak sampai seperempat kilometer, kurasa.

Selama melewati lorong pengap dan berbau itu, aku selalu menutup jendela kereta, takut pada kotoran dan debu yang mampir—dan tak jarang, aku bahkan menutup mata dan hidungku karena rasa takut yang lain. Tapi, di sini, selain rasa muram dan tercekam oleh dinginnya AC kereta, tidak ada bau atau debu yang teruar ke udara.

Sesampai di stasiun penghubung bernama North Elizabeth, penumpang yang menaiki kereta bertambah padat. Kursi yang tadinya kududuki sendiri, kini harus kubagi dengan seorang perempuan bule cantik. Baunya wangi.

Sementara itu, di depanku duduk seorang pemuda yang naik bersama si gadis dan tampaknya ingin berakrab-akrab dengannya. Mungkin, sebelum naik kereta ini tadi, mereka sudah berkenalan dan saling obrol.

Kulihat mata si pemuda, mencari-cari tanda jika dia ingin bertukar tempat duduk denganku. Tapi, tak kutemukan tanda tersebut, dan dia justru membalas tatapanku dengan senyum.

Di samping si pemuda, persis di depan si gadis, duduk seorang pria berbadan tegap. Ketika petugas pemeriksa karcis kereta datang, dia tidak mengulurkan tiket seperti diriku dan kawan-kawan yang sebangku denganku. Alih-alih, dia membuka dompet kecilnya dan memperlihatkan kartu identitas dirinya: NY Police. Si petugas pengecek tiket hanya melaluinya tanpa berkata apa-apa. Hmm … di mana-mana polisi selalu mendapat perlakuan khusus. Yah, mereka kan abdi negara.

Sekadar untuk menekan rasa mencekam yang diakibatkan oleh panjangnya lorong bawah tanah,aku membuka percakapan dengan si gadis, menunjukkan brosur perjalanan yang tadi kucomot dari salah satu konter informasi di Penn Station.

Baca Juga: Uniqlo x Theory 2021 Spring/Summer, Tampilkan Gaya “Athleisure” New York

“Sekarang, kita sampai di mana?” Gadis bule itu sekilas memandangku, merasa-rasa dan menarik kesimpulan bahwa aku pastilah orang asing, lalu menjentikkan jarinya di suatu titik di peta di brosur dan menjawab, “In Linden. Where’re you interested in going?”

“Point Pleasant Beach.” Dia dan dua penumpang lain di dekatku tersenyum dan tertawa kecil, dan si polisi berkata, “Ah, it’s a long way to go. Two hours away from now.”

Baca Juga: Serpih-serpih Perjalanan ke New York (1)

Si gadis dan si pemuda mengiyakan. Aku tersenyum kecut. Sebenarnya, aku sudah mengantisipasi lamanya perjalanan ini, karena aku toh bisa membacanya di brosur yang kupegang. Tapi, senyum nakal mereka seakan membuatku makin tercekam oleh jauhnya perjalanan yang akan kutempuh ini.

Bicara dengan mereka sama sekali tak membantu, maka aku lalu memutuskan untuk diam di sepanjang perjalanan dan menikmati alunan lagu dari iPodku.

Keluar dari lorong bawah tanah membuat perasaanku sedikit lebih ringan. Aku mulai bisa menikmati pemandangan di luar sana. Hujan rupanya masih rintik-rintik. Di kanan-kiri kereta, kulihat tanah berawa yang membentang, dan banyak bangunan yang dulunya merupakan pabrik dan kini dibiarkan terlantar.

Baca Juga: Duh! New York Dihantam Badai Ida 41 Orang Tewas

Corat-coret, baik yang indah dipandang maupun tidak, memenuhi hampir seluruh ruang di bangunan-bangunan tersebut. Inilah sisa-sisa zaman keemasan manufaktur Amerika pada tahun 1950-an sampai 1970-an, yang kemudian memutuskan untuk melakukan ekspansi dan memperkenalkan sistem subkontrak ke berbagai negara Asia, mulai dari Jepang, Korea, Taiwan, kemudian ke negara-negara Asia Tenggara, seperti Filipina, Thailand, dan Indonesia, dan baru-baru ini ke negara-negara Asia Selatan, terutama India dan Pakistan (inilah kenapa Pakistan menduduki peringkat teratas dalam hal jumlah penerima Fulbright tahun ini).

Yang ditinggalkan bukan hanya bangunan yang terlantar, yang jumlahnya amat banyak di mana-mana, termasuk di wilayah seputar pesisir Atlantik di New Jersey ini, tetapi juga pengangguran riil dalam kuantitas yang terus menggelembung seiring krisis.

Baca Juga: Serpih-serpih Perjalanan ke New York (2)

 Amerika sebagai negara produsen sudah mati berdekade lalu, sebab kini dia memilih untuk menjadi negara jasa dan konsumen. Inikah nasib yang niscaya akan dialami oleh imperium kapitalis dunia mana pun?

Mereka tak lagi mau berkotor-kotor dengan pekerjaan manufaktur dan hanya mau mengerjakan bagian yang bersih dan “basah”, membuatnya “dibutuhkan” sekaligus dibenci setengah mati oleh sebagian besar warga dunia. AS, di mata banyak orang, adalah negara yang hanya mau mengambil, dan, semakin lama semakin rakus, dan, saat memberi pun, berpikir mengenai apa yang bisa diambilnya.

Baca Juga: Apple Tutup Semua Toko di New York Akibat Kenaikan Kasus COVID-19

Tapi, aku selalu tak setuju bila politik negara semacam ini lalu digeneralisasi untuk semua orang Amerika. Banyak sekali orang Amerika yang secara personal baik hati dan tulus dalam membantu. Dan, pemerintah di negara ini, negara yang katanya demokratis ini, tidak selalu identik dengan warganya. Kalau engkau belajar kebijakan electoral vote dalam pemilihan presiden AS, engkau akan tahu yang kumaksud.

Dengan pikiran semacam ini yang terus berkelindan di benakku, aku memandang ke luar, melongokkan kepala setiap kali kereta berhenti di stasiun kecil dan kembali ke lamunanku kala kereta kembali bergerak. Orang naik dan orang turun. Mobil dan para penjemput berderet di lahan parkir yang basah.

Di Long Branch, kereta berhenti dan aku dan semua penumpang yang bermaksud melanjutkan perjalanan ke Bay Head sebagai tujuan terakhir harus pindah kereta. Gadis bule di sampingku beranjak dan memberikan senyumnya yang penghabisan. Si polisi sudah keluar di stasiun sebelumnya di Red Bank, sementara si pemuda malah, tanpa kusadari, telah turun jauh sebelum itu di Middletown.

Baca Juga: Promosikan Dangdut dan Kopi Indonesia, IDCH Buka Cafe di New York

 Aku keluar dari gerbong, menyeret koperku yang setengah terisi dan berjejal bersama para penumpang yang lain. Hujan terus turun dan beberapa bagian peron tampak basah oleh tempias air. Kami seperti anak ayam yang ditinggalkan induknya karena setiap petugas yang kami tanyai tentang kereta penghubung selalu bilang, “I don’t know, I am sorry.”

Begitulah, selama hampir sepuluh menit, kami menanti kereta sambil melindungi diri dari percikan air—entah di peron kanan atau kiri. “Shit likes this happens all the time, man,” aku mencoba menghibur diriku sendiri yang mulai kedinginan dengan frasa indah yang kudapat dari James, kata-kata yang diucapkannya saat ia kuberitahu soal kameraku yang hilang.

Baca Juga: Serpih – serpih Perjalanan ke New York (5)

Lalu, datanglah kereta kami. Hampir semua penumpang masuk ke dalamnya, dan baru beberapa waktu kemudian diumumkan bahwa kereta itu akan menuju Bay Head. Aku lega. Tapi, hampir setengah penumpang yang masuk kembali keluar karena mereka punya tujuan lain. Di Amerika pun, yang maju dan terdepan, “shit happens all the time.” Trims, James, I love that words.

Long Branch adalah stasiun yang terletak kira-kira di separuh perjalananku sore itu. Ia sudah masuk wilayah negara bagian New Jersey. Berturut-turut, aku akan melewati Elberon, Allenhurst, Ashbury Park (tempat kawan yang akan kukunjungi, Jim Keady, “was prepared and made” oleh orangtuanya), Belmar (keesokan harinya aku akan menyusuri boardwalk di sepanjang tepian pantainya bersama Reese-Ann yang tertidur pulas), Spring Lake, Manasquan, dan Point Pleasant Beach.

Baca Juga: Serpih – serpih Perjalanan ke New York (4)

Di stasiun yang kusebut terakhir inilah, aku turun, melongokkan mata ke lahan parkir dan melihat Jim melambaikan tangan besarnya dari dalam mobil Jeep. Aku setengah berlari mendapatkannya, berpikir “gila, kayak dalam film India saja,” dan kemudian menjabat tangannya.

Kalimat yang selalu menjadi pembuka dari Jim pun muncul, “What’s up, homeboy?” Aku senang karena akhirnya aku menemukan seorang yang familiar denganku di negeri asing ini. Seorang teman, yang meskipun secara fisik jauh berbeda dariku (dia kulit putih dan aku coklat tua sekali, dia bermata biru dan aku bermata coklat, dia tingginya 190-an cm dan aku, ah malu menyebutnya, dia aktivis dan aku pengangguran terselebung), tapi sudah lumayan kukenal saat dia sering datang ke Jakarta.

Baca Juga: Serpih-serpih Perjalanan ke New York (3)

Sekarang, aku mengunjunginya di rumahnya. Sekarang, bukan hanya dia yang “membaca” aku, tapi aku pun mulai belajar “membaca” tentang negeri dan kehidupannya. Kalau engkau belajar poskolonialisme, engkau tentu tahu apa yang kumaksud di sini. Kalau belum, kita akan membahasnya lain kali.

Tapi, aku sangat senang bertemu dengannya, dan dengan keluarganya: Kelly dan Reese-Ann, bayi Jim yang berusia 13 bulan dan amat cantik dan tampak senang melihatku—dia tersenyum selalu padaku. Malam itu aku tahu aku berada di tempat yang familiar meski jauh dari rumah. Dan yang tak kalah penting, malam itu aku kembali disambut oleh sebotol Stella Artois. Sound familiar?

Penulis adalah dosen Universitas Ma Chung, dan anggota Cebastra.

BERITA KHUSUS

Ada Penampakan Kuntilanak di Acara Gowes HUT ke-104 Kota Mojokerto

NUSADAILY.COM – MOJOKERTO – Masih dalam rentetan HUT ke 104 Kota Mojokerto, kali ini ribuan masyarakat berpartisipasi ramaikan gowes bersama Gubernur Jawa Timur, Khofifah...

BERITA TERBARU

Porprov VII Jatim di Situbondo, Cabor Judo Pertandingan Dua Katagori

NUSADAILY.COM - SITUBONDO - Cabang olahraga (Cabor) judo mempertandingkan dua kategori pada ajang Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) VII Jatim. Pertandingan tersebut digelar di Gedung...

Oleh: F.X. Dono Sunardi

Tulisan ini merupakan lanjutan dari seri sebelumnya, tentang perjalanan darat penulis dari Worcester di Massachusetts. Tempat dia belajar antara 2009-2011, ke New York City dan kota-kota kecil di sepanjang Jersey Shore.

Karena perjalanan ini secara aktual sudah terjadi lebih dari satu dasawarsa silam. Pasti ada banyak detail yang tidak lagi tepat atau relevan dan perlu dicek ulang.

Namun, seperti sebagian besar tulisan perjalanan, yang tidak kalah penting dari informasi faktual yang coba disampaikan. Kisah penulis dan interaksi sosial dan budaya dengan orang-orang yang dijumpainya dapat lebih merupakan elemen menarik.

Akan ada 9 seri tulisan ini, dan kesemuanya pernah penulis posting di laman Facebook penulis. Selamat menikmati.

New York - New Jersey: Jumat, 21 Agustus 2009

Kurang lebih seperempat jam pertama keluar dari New York dengan kereta NJ transit dilalui di lorong bawah tanah yang menembus kedalaman Sungai Hudson yang memisahkan pulau Manhattan dengan kota satelit bernama Hoboken. Hoboken adalah semacam Tangerang-nya Jakarta bagi New York.

Orang tinggal di sana dan bekerja New York. Lorong panjang itu muram, di kanan-kirinya lampu neon mengular panjang seakan tiada henti. Di beberapa bagiannya, aku membaca papan iklan besar; menandakan tiadanya tempat yang tak terjangkau oleh hasrat kapitalis untuk mengeksplorasi kesempatan.

 Aku tak tahu apakah hujan yang mengiringi kedatanganku di Penn Station tadi masih berlanjut atau sudah selesai. Melalui lorong ini membuatku teringat pada lorong kereta api bawah tanah yang menembus perbukitan di sekitar Purwokerto yang panjangnya tak sampai seperempat kilometer, kurasa.

Selama melewati lorong pengap dan berbau itu, aku selalu menutup jendela kereta, takut pada kotoran dan debu yang mampir—dan tak jarang, aku bahkan menutup mata dan hidungku karena rasa takut yang lain. Tapi, di sini, selain rasa muram dan tercekam oleh dinginnya AC kereta, tidak ada bau atau debu yang teruar ke udara.

Sesampai di stasiun penghubung bernama North Elizabeth, penumpang yang menaiki kereta bertambah padat. Kursi yang tadinya kududuki sendiri, kini harus kubagi dengan seorang perempuan bule cantik. Baunya wangi.

Sementara itu, di depanku duduk seorang pemuda yang naik bersama si gadis dan tampaknya ingin berakrab-akrab dengannya. Mungkin, sebelum naik kereta ini tadi, mereka sudah berkenalan dan saling obrol.

Kulihat mata si pemuda, mencari-cari tanda jika dia ingin bertukar tempat duduk denganku. Tapi, tak kutemukan tanda tersebut, dan dia justru membalas tatapanku dengan senyum.

Di samping si pemuda, persis di depan si gadis, duduk seorang pria berbadan tegap. Ketika petugas pemeriksa karcis kereta datang, dia tidak mengulurkan tiket seperti diriku dan kawan-kawan yang sebangku denganku. Alih-alih, dia membuka dompet kecilnya dan memperlihatkan kartu identitas dirinya: NY Police. Si petugas pengecek tiket hanya melaluinya tanpa berkata apa-apa. Hmm … di mana-mana polisi selalu mendapat perlakuan khusus. Yah, mereka kan abdi negara.

Sekadar untuk menekan rasa mencekam yang diakibatkan oleh panjangnya lorong bawah tanah,aku membuka percakapan dengan si gadis, menunjukkan brosur perjalanan yang tadi kucomot dari salah satu konter informasi di Penn Station.

Baca Juga: Uniqlo x Theory 2021 Spring/Summer, Tampilkan Gaya “Athleisure” New York

“Sekarang, kita sampai di mana?” Gadis bule itu sekilas memandangku, merasa-rasa dan menarik kesimpulan bahwa aku pastilah orang asing, lalu menjentikkan jarinya di suatu titik di peta di brosur dan menjawab, “In Linden. Where’re you interested in going?”

“Point Pleasant Beach.” Dia dan dua penumpang lain di dekatku tersenyum dan tertawa kecil, dan si polisi berkata, “Ah, it’s a long way to go. Two hours away from now.”

Baca Juga: Serpih-serpih Perjalanan ke New York (1)

Si gadis dan si pemuda mengiyakan. Aku tersenyum kecut. Sebenarnya, aku sudah mengantisipasi lamanya perjalanan ini, karena aku toh bisa membacanya di brosur yang kupegang. Tapi, senyum nakal mereka seakan membuatku makin tercekam oleh jauhnya perjalanan yang akan kutempuh ini.

Bicara dengan mereka sama sekali tak membantu, maka aku lalu memutuskan untuk diam di sepanjang perjalanan dan menikmati alunan lagu dari iPodku.

Keluar dari lorong bawah tanah membuat perasaanku sedikit lebih ringan. Aku mulai bisa menikmati pemandangan di luar sana. Hujan rupanya masih rintik-rintik. Di kanan-kiri kereta, kulihat tanah berawa yang membentang, dan banyak bangunan yang dulunya merupakan pabrik dan kini dibiarkan terlantar.

Baca Juga: Duh! New York Dihantam Badai Ida 41 Orang Tewas

Corat-coret, baik yang indah dipandang maupun tidak, memenuhi hampir seluruh ruang di bangunan-bangunan tersebut. Inilah sisa-sisa zaman keemasan manufaktur Amerika pada tahun 1950-an sampai 1970-an, yang kemudian memutuskan untuk melakukan ekspansi dan memperkenalkan sistem subkontrak ke berbagai negara Asia, mulai dari Jepang, Korea, Taiwan, kemudian ke negara-negara Asia Tenggara, seperti Filipina, Thailand, dan Indonesia, dan baru-baru ini ke negara-negara Asia Selatan, terutama India dan Pakistan (inilah kenapa Pakistan menduduki peringkat teratas dalam hal jumlah penerima Fulbright tahun ini).

Yang ditinggalkan bukan hanya bangunan yang terlantar, yang jumlahnya amat banyak di mana-mana, termasuk di wilayah seputar pesisir Atlantik di New Jersey ini, tetapi juga pengangguran riil dalam kuantitas yang terus menggelembung seiring krisis.

Baca Juga: Serpih-serpih Perjalanan ke New York (2)

 Amerika sebagai negara produsen sudah mati berdekade lalu, sebab kini dia memilih untuk menjadi negara jasa dan konsumen. Inikah nasib yang niscaya akan dialami oleh imperium kapitalis dunia mana pun?

Mereka tak lagi mau berkotor-kotor dengan pekerjaan manufaktur dan hanya mau mengerjakan bagian yang bersih dan “basah”, membuatnya “dibutuhkan” sekaligus dibenci setengah mati oleh sebagian besar warga dunia. AS, di mata banyak orang, adalah negara yang hanya mau mengambil, dan, semakin lama semakin rakus, dan, saat memberi pun, berpikir mengenai apa yang bisa diambilnya.

Baca Juga: Apple Tutup Semua Toko di New York Akibat Kenaikan Kasus COVID-19

Tapi, aku selalu tak setuju bila politik negara semacam ini lalu digeneralisasi untuk semua orang Amerika. Banyak sekali orang Amerika yang secara personal baik hati dan tulus dalam membantu. Dan, pemerintah di negara ini, negara yang katanya demokratis ini, tidak selalu identik dengan warganya. Kalau engkau belajar kebijakan electoral vote dalam pemilihan presiden AS, engkau akan tahu yang kumaksud.

Dengan pikiran semacam ini yang terus berkelindan di benakku, aku memandang ke luar, melongokkan kepala setiap kali kereta berhenti di stasiun kecil dan kembali ke lamunanku kala kereta kembali bergerak. Orang naik dan orang turun. Mobil dan para penjemput berderet di lahan parkir yang basah.

Di Long Branch, kereta berhenti dan aku dan semua penumpang yang bermaksud melanjutkan perjalanan ke Bay Head sebagai tujuan terakhir harus pindah kereta. Gadis bule di sampingku beranjak dan memberikan senyumnya yang penghabisan. Si polisi sudah keluar di stasiun sebelumnya di Red Bank, sementara si pemuda malah, tanpa kusadari, telah turun jauh sebelum itu di Middletown.

Baca Juga: Promosikan Dangdut dan Kopi Indonesia, IDCH Buka Cafe di New York

 Aku keluar dari gerbong, menyeret koperku yang setengah terisi dan berjejal bersama para penumpang yang lain. Hujan terus turun dan beberapa bagian peron tampak basah oleh tempias air. Kami seperti anak ayam yang ditinggalkan induknya karena setiap petugas yang kami tanyai tentang kereta penghubung selalu bilang, “I don’t know, I am sorry.”

Begitulah, selama hampir sepuluh menit, kami menanti kereta sambil melindungi diri dari percikan air—entah di peron kanan atau kiri. “Shit likes this happens all the time, man,” aku mencoba menghibur diriku sendiri yang mulai kedinginan dengan frasa indah yang kudapat dari James, kata-kata yang diucapkannya saat ia kuberitahu soal kameraku yang hilang.

Baca Juga: Serpih – serpih Perjalanan ke New York (5)

Lalu, datanglah kereta kami. Hampir semua penumpang masuk ke dalamnya, dan baru beberapa waktu kemudian diumumkan bahwa kereta itu akan menuju Bay Head. Aku lega. Tapi, hampir setengah penumpang yang masuk kembali keluar karena mereka punya tujuan lain. Di Amerika pun, yang maju dan terdepan, “shit happens all the time.” Trims, James, I love that words.

Long Branch adalah stasiun yang terletak kira-kira di separuh perjalananku sore itu. Ia sudah masuk wilayah negara bagian New Jersey. Berturut-turut, aku akan melewati Elberon, Allenhurst, Ashbury Park (tempat kawan yang akan kukunjungi, Jim Keady, “was prepared and made” oleh orangtuanya), Belmar (keesokan harinya aku akan menyusuri boardwalk di sepanjang tepian pantainya bersama Reese-Ann yang tertidur pulas), Spring Lake, Manasquan, dan Point Pleasant Beach.

Baca Juga: Serpih – serpih Perjalanan ke New York (4)

Di stasiun yang kusebut terakhir inilah, aku turun, melongokkan mata ke lahan parkir dan melihat Jim melambaikan tangan besarnya dari dalam mobil Jeep. Aku setengah berlari mendapatkannya, berpikir “gila, kayak dalam film India saja,” dan kemudian menjabat tangannya.

Kalimat yang selalu menjadi pembuka dari Jim pun muncul, “What’s up, homeboy?” Aku senang karena akhirnya aku menemukan seorang yang familiar denganku di negeri asing ini. Seorang teman, yang meskipun secara fisik jauh berbeda dariku (dia kulit putih dan aku coklat tua sekali, dia bermata biru dan aku bermata coklat, dia tingginya 190-an cm dan aku, ah malu menyebutnya, dia aktivis dan aku pengangguran terselebung), tapi sudah lumayan kukenal saat dia sering datang ke Jakarta.

Baca Juga: Serpih-serpih Perjalanan ke New York (3)

Sekarang, aku mengunjunginya di rumahnya. Sekarang, bukan hanya dia yang “membaca” aku, tapi aku pun mulai belajar “membaca” tentang negeri dan kehidupannya. Kalau engkau belajar poskolonialisme, engkau tentu tahu apa yang kumaksud di sini. Kalau belum, kita akan membahasnya lain kali.

Tapi, aku sangat senang bertemu dengannya, dan dengan keluarganya: Kelly dan Reese-Ann, bayi Jim yang berusia 13 bulan dan amat cantik dan tampak senang melihatku—dia tersenyum selalu padaku. Malam itu aku tahu aku berada di tempat yang familiar meski jauh dari rumah. Dan yang tak kalah penting, malam itu aku kembali disambut oleh sebotol Stella Artois. Sound familiar?

Penulis adalah dosen Universitas Ma Chung, dan anggota Cebastra.