Kamis, Desember 2, 2021

NUSADAILY.COM STORIES

BerandaOpinionSastra Mendidik tanpa Dogma

Sastra Mendidik tanpa Dogma

- Advertisment -spot_img

Oleh: FX Dono Sunardi, M.A.*

SAYA tumbuh secara kebetulan dengan wayang kulit. Bukan karena saya berasal dari keluarga berdarah seniman atau pedalangan. Saya tumbuh dengan wayang semata-mata karena kakek almarhum suka menyetel siaran wayang di radio keras-keras saban malam. Dengan begitu tidur saya ditemani oleh suluk sang dalang, sigrak gamelan saat peperangan, dan goro-goro.

- Advertisement -Iklan BTC Guest House

Tidak semua cerita masih saya hafal sekarang. Beberapa cukup nyantol di kepala dan beberapa cukup mudah saya bangkitkan dalam kenangan. Suar wayang bahkan juga bisa membangkitkan ingatan sosok kakek. Semua itu lengkap perawakan, roman muka, warna suara dan aroma rokok kretek jarang lepas dari bibirnya.

Wayang kulit setia menemani masa-masa sebelum lelap, setengah lelap, terbangun sebentar dalam tidur untuk pipis atau sekadar mengubah posisi. Kini wayang kulit menjadi bagian tak terpisahkan dari diri, mulanya diperkenalkan dan diputar berulang-ulang oleh kakek. Saya tak sengaja dengar dan semua itu ikut menempa karakter saya.

Wayang dengan cerita, tokoh, konflik, dan solusinya tidak jarang menyediakan referensi dinamis ketika saya dihadapkan pada berbagai situasi hidup. Namun, berbeda dengan ajaran moral baku yang diperkenalkan oleh pendidikan formal di sekolah dan agama yang saya anut. Cerita wayang dan berbagai cerita sastrawi lain yang saya baca dan nikmati dalam masa tumbuh kembang memberi semacam acuan atau suara amat berguna. Dan, sekali lagi, suar tersebut sungguh dinamis, sebagai lawan dari pedoman dogmatis.

Demi mengembangkan karakter manusia sebaik-baiknya, kita perlu memadukan dan menemukan titik temu tepat. Antara pendekatan dogmatis dan dinamis, antara behavioristik dan konstruktivitis, antara mapan sertas tabil dan dinamis serta imajinatif. Bila pendidikan formal dan pengajaran agama memberikan kerangka dogmatis—menyusun superego yang ketat bagi ego—membaca dan menikmati sastra meminjamkan kepada kita kerangka dinamis, kreatif, dan imajinatif.

Masyarakat Jepang sering dianggap sebagai teladan baik dari masyarakat yang dewasa dalam hal karakter. Masyarakat Jepang digambarkan sebagai masyarakat yang punya etos kerja baik, rapi, teratur, taat pada peraturan, ‘gila’ mengantri, dan sangat hormat kepada orang lebih senior. Untuk menjelaskan kenapa bisa begitu, kepada kita ditunjukkan bagaimana anak-anak SD di Jepang sampai tingkat tertentu tidak dijejali dengan pengetahun anak ademik. Tetapi mereka diberikan dengan usaha sadar untuk menumbuhkan dan memupuk akhlak dan budi pekerti. Piket kelas, membungkuk kepada guru sebelum kelas dimulai, dan seterusnya diberikan. Dari sanalah, demikian dijabarkan dalam argumentasinya, semua karakter baik dari masyarakat Jepang diyakini telah dibentuk dan diasah.

Namun demikian, hal tersebut baru setengah dari cerita lengkapnya. Jika pendidikan karakter ‘hanya’ diajarkan lewat pendidikan akhlak dan budi pekerti, lewat piket kelas, lewat kewajiban untuk membungkuk kepada guru, kita pun di Indonesia tidak kekuranganakan praktik-praktik semacamitu. Bahkan yang di Jepang yang non-religius tidak ada, di negara kita kental sekali nuansanya. Pendidikan agama, pendidikan kewarganegaraan, ngaji, sekolah minggu, kurang apalagi coba? Kita mestinya memiliki lebih banyak modal sosial daripada masyarakat Jepang untuk menjadi masyarakat berkarakter, tetapi mengapa karakter kita bisa dibilang ‘tertinggal’ dari karakter orang Jepang? 

Bisa jadi ada banyak penjelasan yang sahih untuk kenyataan pahit ini. Salah satunya karena sebagai masyarakat kita kurang memiliki imajinasi yang dinamis dan kreatif. Suar moral kita lebih condong kepada pedoman yang dogmatis, sudah jadi, solid, dan boleh dikata kaku. Kita gampang tergoda dan terus didorong mencari moral dari sesuatu peristiwa atau apa saja, dan merumuskannya dengan kata-kata yang baku mirip slogan Orba. Misalnya, setelah menonton film di kelas, guru akan bertanya, “Murid-murid, pelajaran apa yang bias dipetik?” Seakan-akan film itu sendiri kalah penting dibandingkan dengan pelajaran (moral)nya. Setelah membaca novel, pertanyaan yang hamper serta-merta keluar adalah “Apa yang dapat kita pelajari dari karakter yang dilaknat dalamceritaini?” dan dengannya ‘membunuh’ karakter tersebut dalam satu istilah yang rigid. Silakan anda tonton juga kartun-kartun untuk anak-anak buatan Indonesia, semisal Adit Sopo Jarwo atau, yang lebih legendaris, Si Unyil. Fokus dari film-film kartun tersebut adalah pelajaran moral, dengan tokoh Pak Haji atau Pak Lurah-nya yang sangat bijak dan melampaui ukuran moral tertinggi, dan bukan ceritanya. Karenanya, dari segi estetis dan apresiatif, karya-karya tersebut kalah menarik daripada film-film buatan Jepang atau Korea, atau Amerika atau bahkan Malaysia dengan Upin-Ipin. Tontonan untuk khalayak dewasa, semisal sinetron, pun setalitiga uang. Cerita dan pengembangan karakter yang utuh dipinggirkan untuk member jalan tol pada norma dan moralitas.

Kembali kecontoh Jepang, selain merupakan peradaban kuno yang telah banyak belajar dari pengalaman dan karya-karya klasik terutama ajaranKonfusius dan Budhis, masyarakatJepang juga gemar membaca dan menciptakarya sastra yang tidak terpaku pada bagaimana mendidik secara induktif. Novel Botchan karya Natsume Sōseki atau Musashi karya Eiji Yoshikawa terus dibaca dan dinikmati oleh para pelajar di Jepang. Mereka tidak terpaku pada keinginan untuk mencari moralitas dalam karya-karya tersebut. Pada awalnya, mereka sekadar menikmati ceritanya, menanamkannya di dalam alam bawah sadar mereka—agak mirip dengan cerita saya di atas di mana saya menginternalisasi wayang kulit lewat siaran radio yang dipantengi oleh kakek saya, dalam tidur saya—dan menjadikannya sebagai suar yang dinamis, yang sewaktu-waktu bias menjadi salah satu acuan tanpa mematikan opsi-opsi lain.

Demikianlah sastra mestinya dibaca dan diapresiasi. Perlu sikap rendah hati dan kesabaran untuk tidak mudah ‘jatuh’ pada sikap dan tindakan melihat sastra sebagai buku panduan moral yang hitam-putih. Sastra adalah cerita dan hidup kita adalah rangkaian cerita pula. Belajar dari sastra tanpa tergesa-gesa menarik kesimpulan dan menarik pelajaran moral (dangkal) adalah sebuah keniscayaan jika kita ingin tumbuh menjadi masyarakat yang kaya akan imajinasi dan kreasi. Dan, tentu saja, seperti disebut sebelumnya, membaca sastra saja juga tidak memadai. Moral yang dinamis harus pula dipadu dengan moral yang positif; pendekatan konstruktivistik semestinya member ruang pula bagi pendekatan yang behavioristik. Dua-duanya perlu. Mencari titik-temunya adalah persoalan berikutnya. (***)

*Penulis adalah dosen Sastra Inggris di Universitas Ma Chung, mahasiswa S3 Pendidikan Bahasa dan Sastra Universitas Negeri Surabaya dan anggota Perkumpulan Cendekiawan Bahasa dan Sastra (CEBASTRA).

- Advertisement -spot_img
spot_img
- Advertisement -spot_img

BERITA POPULAR